MENJIL*T ludah sendiri, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan perilaku ku saat ini. Mataku tidak bisa ditundukkan, pemandangan dibarisan depan sana terlalu berat untuk ditolak, nampaknya gaya tarik bumi sebelah sana sudah melawan hukum alam. Semakin dipikirkan semakin tidak masuk akal. Kenapa hari ini dia terlihat berbeda, Zico--padahal dia hanya duduk diam memandang keluar melalui jendela bus yang terbuka. Dari kursi belakang aku terus berpikir apa yang salah denganku hari ini. Apa ini yang dinamakan fase penyangkalan, dimana isi hati dan isi kepala bertentangan. Atau sebaiknya ku akui saja kalau dia memang layak untuk dikagumi? Lagipula menaruh rasa kagum terhadap lawan jenis juga tidak berdosa, sebab ini fitrah manusia. Bukannya normal? Justru yang patut dipertanyakan a

