KALAU bukan ucapannya yang bisa dipegang dari laki-laki lalu apa? Mempertanggung jawabkan ucapannya saja tidak mampu. Bagaimana dia bisa menanggung kehidupan anak perempuan orang lain! Sangat mengecewakan saat malam itu berganti menjadi pagi begitu saja. Dia mengingkari janjinya. Terlebih dia kembali menghilang selama beberapa hari. Rais tidak datang. Bapak dan ibu juga kecewa saat ku ceritakan rentetan alasan yang dibuatnya. “Sudah lah, nak. Jangan berharap pada laki-laki itu lagi” ujar bapak malam itu. Waktu itu kami menunggunya hingga pukul sepuluh malam. Mencoba maklum kalau-kalau dia datang terlambat karena ada urusan mendesak. Nyatanya sampai hari ini pun dia tidak ada kabar. Rasanya seperti dejavu kejadian empat tahun silam. Kalau tidak berniat kenapa dia menyemai janji? Aku

