Chapter 28

1618 Kata

JANGAN pernah menganggap sepele laut yang tenang. Bisa jadi sebentar lagi akan datang badai hujan yang maha dahsyat. Itu adalah gagasan utama yang ku ingat dari sebuah novel sci-fi. Aku membaca buku itu disudut kamar dengan penerangan yang remang. Apa aku sudah pernah bilang? Kalau aku lebih suka suasana kuning temaram. Alasannya karena lebih hangat. Berasa kembali ke zaman delapan puluhan. Aku memang tidak pernah merasakan bagaimana kehidupan dimasa itu. Tapi dari cerita ibu, aku bisa membayangkannya. Hidup dengan lampu semprong. Televisi yang hitam putih. Surat yang masih berada dipuncak kejayaannya. Atau menyetrika baju menggunakan setrika arang. Bagaimana kalau seandainya aku hidup dimasa itu? Apakah akan sedramatis kisah percintaan Sri Ningsih? Aku terlalu larut kedalam cerita yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN