Chapter 24

1185 Kata

SETELAH kepulangan ku dari rumah Rais, tidak ada kejelasan bagaimana kelanjutan hubungan kami hingga berbulan-bulan. Seringkali Rais menghindari topik yang mengarah kesana. Kadang aku agak geram dengan alasannya yang terasa dibuat-buat. “Nunggu waktu yang tepat” ujarnya “Waktu yang tepat itu kapan? Kamu serius nggak sih sama aku?” “Aku serius Sal” “Serius kalau hanya niat dan nggak dibuktikan, semuanya percuma Rais” Dia diam “Aku tunggu niat baiknya. Kalau dalam pekan ini masih nggak ada kejelasan. Kita batalin aja” “Sal. Kok kamu ngomong gitu?” “Untuk apa menjalin hubungan lama-lama kalau kamu nggak berniat kearah sana” sindir ku. Aku harus pengertian yang seperti apa lagi? Bukankah aku menerima Rais karena dia menawarkan pernikahan? Kalau sikapnya terus begini, bisa-bisa aku m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN