Bomin menyeringai. Akhirnya ia bebas! Tak ada lagi desakan dari Moonbin. Tak ada lagi pekerjaan yang menunggunya. Saatnya menikmati hidup! Bomin merebahkan dirinya di kasur sambil memeluk bantalnya. Tak apalah ia bangun nanti siang saja. Ia masih sangat lelah sekarang.
"Kak Bomin! Kak Bomin! Ayo bermain!"
Abaikan saja Park Bomin. Abaikan saja! Jangan biarkan ia merusak harimu yang indah.
"Kak Bomin! Ayolah kami tahu kau bangun!"
Menurut kalian siapa itu? Benar! Katakan sekali lagi! Ya! Kalian pandai sekali hahahaha (Kenapa jadi mirip Dora begini?). Dia adalah Wooseok, bocah imut yang terobsesi pada Bomin. Di sebelah Wooseok, Byunggyu menunggu sambil bersedekap. Mereka ingin menjemput Taeoh sekaligus pergi ke sekolah bersama Gaeun.
"Kak Bomin! Kalau kau tak segera bangun aku akan merusak pintu ini! Aku serius!" teriak Wooseok lagi.
Brakk...
Bomin membuka pintu itu dengan kasar. Oh ayolah, Bomin benar-benar kesal sekarang. Jadi jangan menghakiminya karena kasar pada anak-anak.
"Kau, kenapa kalian ke sini dan menggangguku? Bukankah kalian harus ke sekolah?" tanya Bomin kesal.
Wooseok terkesima. Penampilan Bomin saat bangun tidur benar-benar sesuatu sekali. Rambut yang awut-awutan, baju dan wajah yang sama kusutnya dan juga nafas yang bau yang bahkan sampai ke penciuman Wooseok dan Byunggyu yang lebih pendek dari Bomin. Menurut kalian sebau apa itu?
Tapi tentu saja. Sejelek apapun gadis itu, tetap saja menurut Wooseok ia adalah gadis yang paling mengagumkan dan cantik.
"Kami ingin pergi menjemput Taeoh. Dan kau harus ikut, Kak." ucap Byunggyu.
"Lalu mengapa bocah ini juga ikut? Bukankah dia tetangga Gaeun?" tanya Bomin sambil menggaruk kepalanya.
"Aku ingin melihat kau saat bangun tidur, Kak. Ternyata sesuai perkiraanku. Kau menakjubkan!" puji Wooseok.
"Well," Byunggyu mendengus. Ia mencibir, "Kurasa aku setuju dengan Wooseok."
Hah?
3...
2...
1...
Astaga! Penampilannya!
***
Bomin hanya diam selama perjalanan. Byungjin yang berada di sebelahnya juga diam. Bagaimana mau bicara? Wooseok mengawasi mereka di belakang. Kalau mereka ingin berbicara berdua Wooseok selalu menyela dengan cara yang menyebalkan.
Byunggyu juga ikut membantu. Ia ingin mengetes sampai mana Bomin akan bertahan.
Taeoh dan Gaeun yang tak tahu apa-apa juga sibuk sendiri. Taeoh senang mendapat kakak perempuan baru. Dan Gaeun juga menyukai Taeoh yang imut. Ah, seandainya gadis itu tahu kalau Taeoh hanya casingnya saja yang imut, tapi kadar iblisnya sama saja dengan Byunggyu.
Sesampainya di sekolah, Wooseok menatap Byungjin memperingatkan.
"Paman Byungjin, Kak Bomin itu milikku. Kau boleh mengantarnya pulang, tapi jangan mendekatinya." ucap Wooseok ketus.
Byungjin sudah ingin tertawa, tapi ia menahannya karena tak ingin bocah cerewet itu marah. Sepertinya Wooseok sudah lupa kalau Byungjin pernah mengakui dirinya adalah kekasih Bomin.
Gaeun sendiri langsung masuk ke sekolah sambil menggandeng tangan Taeoh. Taeoh menyeringai dan ikut menggandeng tangan Byunggyu. Jadilah mereka bergandengan tangan. Oh ... benar-benar imut! Eh tapi Woossoknya gimana?
Wooseok tetap ikut berjalan di belakang mereka. Tapi tentu saja sesekali menengok ke belakang mengawasi Bomin dan Byungjin.
***
Karena tinggal berdua, suasana dalam mobil itu semakin canggung. Ah, padahal Byunggyu sudah memberi Bomin saran. Agresif! Agresif!
"Bomin-ssi?"
Ternyata selama Bomin melamun, Byungjin mencoba berbicara padanya. Bomin yang tersadar pun segera menjawabnya.
"Ya, ada apa Byungjin-ssi?"
Byungjin membalasnya dengan tersenyum. Bomin meleleh. Ah ternyata mereka sudah sampai di parkiran apartemen mereka.
"Ada apa? Apa kau tak nyaman hanya berdua denganku?" tanya Byungjin.
Bomin pun memberanikan diri. Lebih baik sekarang daripada tidak sama sekali. Keluarkan keberanianmu Park Bomin!
"Eum itu Byungjin-ssi boleh aku berhenti berbicara formal padamu?" tanya Bomin, "Kurasa agak menyebalkan kalau harus bicara formal pada orang yang kusuka."
Byungjin terkejut dengan ucapan Bomin. Ia mendengus geli. lalu karena tak tahan lagi, pria itu tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?" gerutu Bomin.
"Tidak, menurutku kau lucu Bomin-ah. Baiklah, ayo berhenti bicara formal mulai sekarang." ucap Byungjin.
Bomin tersenyum. Nasihat Byunggyu berhasil! Ia akan berterimakasih pada bocah itu nanti.
"Oh iya, Bomin-ah. Karena kau lebih muda dariku kurasa tak apa kalau kau memanggilku kakak."
Bomin terkejut. Selama ini yang ia panggil kakak hanya Hyungseob. Bahkan Junho yang kakak kandungnya pun belum pernah ia panggil kakak. Tapi kalau Byungjin yang meminta, Bomin rasa tak apa.
"Baiklah, Kak Byungjin." ucap Bomin sok manis.
Byungjin mengambil sebuah kotak kecil dari dashboard mobilnya.
"Ini untukmu. Anggap saja ini hadiah pertemanan kita." ucap Byungjin.
"Ini untukku? Tapi untuk apa?" tanya Bomin heran.
"Entahlah, aku hanya ingin memberimu hadiah. Selama ini kau selalu baik padaku, Taeoh dan Byunggyu. Bukankah sudah kubilang? Anggap saja sebagai hadiah pertemanan kita." ucap Byungjin.
Bomin menerimanya. Bagaimanapun ini adalah hadiah dari orang yang ia suka. Ya, walaupun ia harus menerima kenyataan bahwa ia hanya dianggap sebagai tetangga yang baik. Tapi tak apalah. Akan ia ubah itu secara bertahap! Semangat!
***
Bomin menatap kotak di tangannya dengan penasaran sambil bersandar di dinding kamarnya. Sebenarnya apa isinya? Jangan-jangan cincin? Gelang? Atau kalung? Bomin membuka kotak kecil hadiah dari Byungjin.
"Flashdisk?"
Bomin membolak-balik flashdisk berbentuk kepala panda itu. Tunggu, ada surat juga dalam kotak itu.
'Byunggyu bilang ini adalah kegemaranmu. Kuharap kau menyukainya Bomin-ssi'
Bomin tersenyum lalu menaruh kembali surat itu ke dalam kotak dan memasukkannya ke laci. Surat ini akan menjadi warisan untuk anak cucunya nanti. Ia mengambil laptopnya. Ia jadi penasaran. Hobinya? Ini isinya novel romantis? Puisi? Atau anime?
Saat melihat file dalam flashdisk itu, Bomin jadi merasa heran.
"Apa ini? Judulnya aneh." Bomin mengerutkan keningnya.
Ia mengendikkan bahunya. Mungkin yang aneh hanya judulnya. Ia mengambil kaleng soda yang tadi ia ambil dari kulkas karena haus.
"Baiklah, ayo kita tonton."
Bomin memutar film itu. Beberapa menit kemudian...
Byurrr...
Air yang Bomin minum tersembur dan mengenai layar laptop yang tak bersalah itu. Tunggu! Tunggu! Astaga! Apa ini! Byungjin menghadiahinya... Film dewasa? Byungjin mengira ia menyukai hal-hal seperti ini? Dan semua ini saran dari Byunggyu?
"Oh Byunggyu!"
***
Begitu Byunggyu datang bermain ke apartemennya, Bomin langsung menjewer telinga anak itu. Biar saja jadi lebar kayak Junho sekalian.
"Kau, apa yang kau katakan pada ayahmu sehingga ia memberiku hadiah film m***m, hah? Kau gila! Apa jangan-jangan kau suka menonton hal-hal seperti ini?"
"Sakit! Sakit Kak!"
Eunjin dan Junso yang mendengar keributan itu segera memisahkan mereka.
"Ada apa ini? Kau mau membunuh anak ini Park Bomin?" marah Junso.
Bomin melempar flashdisk hadiah Byungjin pada Junso yang sontak di tangkap oleh kakaknya itu.
"Aku sedang emosi. Ia mengatakan yang tidak-tidak pada Byungjin sehingga ayahnya memberiku film m***m," Bomin mengusap wajahnya kasar, "Mau ditaruh dimana wajahku?!"
"Tempat sampah di apartemenku bisa menampungnya, Kak." ucap Byunggyu membuat Bomin kembali kalap.
"Baiklah-baiklah," Byunggyu menyerah. "Aku tak menyarankan pada ayah untuk memberikanmu film m***m, Kak." ucapnya membela diri.
"Lalu mengapa ia memberikanku itu?"
"Aku benar-benar tak menyarankannya, aku hanya memberitahunya kau menyukai film." jawab Byunggyu.
"Lagipula, kau memang hobi menonton hal yang seperti itu bukan." gumam Byungggyu dengan suara pelan.
"Hei!"
Apartemen Junho kembali kacau.
***
Taeil terkekeh sambil memutar-mutar sebuah flashdisk.
"Hahaha." Ia tertawa psikopat.
****
Makassar, 16 Maret 2016