Gaeun terlihat kaget melihat kedatangan Byunggyu, Wooseok, Bomin dan juga Taeoh. Tapi ia terlihat senang. Terlebih lagi saat melihat Taeoh.
"Astaga~ lucunya!" Taeoh dipeluk oleh Gaeun seakan-akan bocah itu adalah boneka.
Byunggyu menatap mereka dengan tatapan kesal.
"Ada apa?" bisik Bomin.
"Aku saja belum pernah dipeluk oleh Gaeun. Tapi Taeoh baru bertemu sudah dipeluk-peluk begitu." protes Byunggyu. Dengan bisik-bisik tentunya karena takut didengar oleh Gaeun.
Bomin mendengus geli. Tapi tak mengatakan apapun karena takut Byunggyu akan tersinggung.
"Apa boleh Taeoh menginap disini? Sehari saja! Kumohon!" pinta Gaeun.
Taeoh menginap bersama Gaeun? Tidak boleh! Byunggyu tak terima! Bagaimana pun adik sepupunya itu adalah seorang pria. Walaupun tak wajar cemburu pada anak berusia enam tahun tapi tetap saja...
Bomin yang menyadari reaksi Byunggyu yang cemburu pun segera ambil tindakan.
"Tidak boleh. Nanti kakaknya mencari." ucap Bomin.
"Hiee? Bukannya Byunggyu kakaknya Taeoh?" tanya Gaeun memastikan.
Bomin menyenggol lengan Byunggyu pelan. Meminta calon putranya itu untuk bicara. Bagaimanapun misi mereka untuk saat ini adalah menghilangkan kegugupan Byunggyu.
"B-bukan, a-aku hanya sepupunya." ucap Byunggyu gugup.
Gaeun mendekatkan dirinya pada Byunggyu. Membuat bocah itu menahan nafasnya gugup. Bernafas ... Bernafas ...
"Byunggyu-ya, bisakah kau membujuk kakaknya Taeoh agar ia dibiarkan menginap di sini? Kumohon! Ya?" ucap Gaeun dengan wajah memelasnya yang imut.
Byunggyu mulai terpengaruh ... Oh tidak! Bomin harus bertindak. Tapi sayangnya ia terlambat. Byunggyu sudah mengiyakan permintaan Gaeun.
"B-baiklah." ini bencana!
***
Bomin mulai panik. Ia harus bagaimana?! Taeil pasti akan mengamuk kalau tahu Taeoh mereka tinggalkan untuk menginap dengan Gaeun.
"Kak Bomin, kumohon bantu aku! Kau lihat kan tadi? Aku bisa berbicara walaupun masih gugup pada Gaeun. Anggap saja ini hadiah untukku. Lagipula bukannya bagus kalau Gaeun dekat dengan keluargaku?" bujuk Byunggyu.
Walaupun senang karena cara bicara Byunggyu padanya sudah tak seketus ibu-ibu lagi datang bulan, tapi tetap saja kalau ia harus berhadapan dengan Taeil itu namanya cari mati.
"Baiklah, aku akan mencoba berbicara pada Taeil. Tapi bila ia tetap bersikeras, berarti kita harus menjemput Taeoh lagi, mengerti?!" ucap Bomin pada Byunggyu.
Byunggyu mengangguk senang. Walaupun ia agak merasa kesal karena yang diajak menginap hanya Taeoh. Namun setelah memikirkannya kembali, ia benar-benar merasa dirinya bodoh karena melewatkan kesempatan bagus yang lewat di depan matanya.
Mengapa ia tak memanfaatkan permintaan Gaeun tadi agar bisa menginap di rumah gadis itu? Bisa saja kan ia mengatakan agar Taeoh dibiarkan menginap, Byunggyu harus menemaninya? Biarkan saja Bomin pulang bersama Byungjin lalu dimarahi sendirian oleh Taeil! Astaga bagaimana bisa ia melewatkan kesempatan ini? Suasana hati Byunggyu yang tadinya baik-baik saja langsung turun ke tingkat paling bawah. Ia jadi sama suramnya dengan Bomin yang memang sedang menguatkan hati untuk menerima amukan Taeil.
Saat Byungjin menjemput mereka, ia heran mengapa tak ada Taeoh yang bersama mereka.
"Dia menginap di rumah Gaeun." jawab Byunggyu singkat.
Byungjin tak mengatakan apapun. Ia tersenyum lalu melajukan mobilnya ke apartemen mereka. Kadang Bomin bingung. Sebenarnya apa pekerjaan Byungjin? Setiap mereka bertemu, Byungjin selalu mengenakan setelan rapi seperti pegawai kantoran. Tapi pria itu selalu punya waktu untuk anak-anaknya dan bersikap seperti orang yang tak melakukan apapun alias pengangguran. Ah, sepertinya segala tentang Byungjin adalah hal yang misterius...
***
Perkiraan mereka benar-benar terjadi. Taeil mengamuk. Dan Bomin yang harus menghadapinya karena Byunggyu bersikap tak peduli. Bocah itu berkata, Bomin sudah berjanji untuk menanganinya. Dan lagi, katanya ini ujian bila ingin menjadi ibunya. s**l! Bocah itu benar-benar licik. Ia memanfaatkan keadaan Bomin yang menyukai ayahnya.
"Bagaimana bisa kalian meninggalkannya sendirian di sana? Bagaimana kalau ia sebenarnya diculik lalu dijual ke Bibi genit? Adikku itu terlalu imut!" protes Taeil.
"Maaf, tapi tak mungkin begitu. Aku berjanji akan bertanggung jawab. Besok ia akan pulang tanpa lecet sedikitpun." bujuk Bomin.
"Kuharap begitu karena kalau tidak," Taeil mendekatkan wajahnya pada Bomin.
"Kau akan membayarnya seumur hidupmu."
Karena ucapan Taeil ini, Bomin terpaksa harus menelpon ibu Gaeun tiap satu jam sekali untuk memastikan keamanan Taeoh. Takut Taeil akan memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali bersamanya. Taeil adalah orang yang sangat licik. Ia tidak ingin memberikan celah apapun pada pria itu.
“Merepotkan!”
***
Junho yang biasanya mengharapkan adiknya menghilang saja kini menunggu kepulangan Bomin. Ia telah mencoba menghubungi adiknya itu namun ponsel Bomin tidak aktif. Suasana dalam Apartemennya terasa benar-benar menyeramkan. Eunjin memasak semua bahan makanan yang ada di kulkas. Hal yang biasa ia lakukan kalau sedang tertekan. Masalahnya adalah karena tak ada Bomin yang biasanya menghabiskan semua makanan itu. Jadilah Junho yang harus menghabiskan semuanya. Harus tanpa sisa kalau Junho tak ingin kekasihnya itu makin menggila.
"Aku pulang!"
Akhirnya! Malaikat penolongnya datang! Junso benar-benar sudah kenyang dengan semua makanan ini.
"Wuaaa, ada perayaan apa ini?" tanya Bomin.
"Ini bukan karena ada perayaan. Kau tahu, suasana hati Eunjin sedang tidak baik. Aku benar-benar kenyang sekarang. Perut karet, tolong bantulah aku!" pinta Junho.
Bomin mendesis. Tak suka karena Junho mengatainya perut karet. Yah, walaupun itu benar.
"Kau membuat masalah?" tanya Bomin.
"Bukan aku! Sungguh bukan aku." sanggah Junho.
Bomin menatap semua makanan di depannya. Wuaaa, ia akan makan besar sekarang!
"Tapi, kurasa aku tahu mengapa Eunjin seperti ini." ucap Junho.
"Kenapa?" Bomin bertanya dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Junho menatap Bomin jijik. Tapi tak mengatakan apapun. Ia masih sayang nyawa, ingat?
"Sepertinya karena editormu tadi. Ia bersikap seperti ini setelah editormu datang kan?"
Bomin mengangguk-angguk. Ia merasa senang. Sepertinya Eunjin sudah sadar akan perasaan pria itu dan menolaknya.
"Junho, kurasa kau harus berhati-hati." nasihat Bomin.
"Eh?"
"Editor Hong, sepertinya menyukai Eunjin. Ia terus bertanya tentang Eunjin tadi." ucap Bomin.
Apa! Ada pria yang mendekati Eunjinnya? Ini tak bisa dibiarkan! Junho harus bertindak!
"Awas saja kalau ia sampai mendekati Eunjin! Akan kucabik-cabik, kucakar-cakar, kucubit-cubit lalu kujambak-jambak dia!" ucap Junho bersungguh-sungguh.
"Errr... Bukannya kalau pria berkelahinya pukul-pukulan ya? Ancamanmu tadi, ehmm apa tak bisa lebih jantan?" tanya Bomin heran dengan kelakuan kakaknya.
"Apanya?" tanya Junho.
Bomin menggeleng, "Tidak. Bukan apa-apa."
Bomin mengepalkan tangannya. Save Eunjin! Tak boleh ada yang merebut Eunjin dari mereka. Lagipula kasihan Junho bila Eunjin direbut. Takkan ada lagi gadis waras yang mau dengan kakaknya itu mengingat sifat Junho yang aneh.
***