Bomin dan Byunggyu berpandangan dengan kikuk. Di depan mereka, Taeoh menatap mereka sambil berkacak pinggang. Keduanya heran dengan ekspresi cemberut di wajah kecil Taeoh. Ada apa ini sebenarnya?
Taeoh menunjuk Bomin dan Byunggyu, "Beberapa hari ini kalian selalu meninggalkanku bersama Kak Taeil. Kalian bermain tanpa mengajakku,"
Taeoh menatap Byunggyu sedih, "Kak Byunggyu, apa kau tak sayang padaku lagi? Apa kau ingin aku pulang bersama Kak Taeil saja?"
Bomin menatap Byungguu. Meminta bocah itu memberi penjelasan pada adiknya. Dan lagi, apa-apaan tingkah bocah ini?! Ekspresi Taeoh mirip seperti seorang istri yang selalu ditinggal oleh suaminya dan takut suaminya berselingkuh di luar.
Byunggyu maju dan menepuk punggung Taeoh.
"Taeoh-ya, bukannya aku tak sayang lagi padamu. Aku dan Kak Bomin sedang ada misi penting." jelas Byunggyu.
"Misi apa?" tanya Chen.
"Ini misi yang akan menentukan masa depanku," ucap Byunggyu sambil mengepalkan tangannya, "Misi mendapatkan calon kakak ipar untukmu!" tambahnya semangat.
Bomin hampir saja tersedak mendengar kata ‘calon kakak ipar’ yang keluar dari mulut Byunggyu. Ia hanya bisa meringis melihat duo absurd itu. Hah, Bomin menahan diri untuk tak mengatai kedua bocah itu gila. Ia terus mengingatkan dirinya kalau kedua bocah itu anak dari Oh Byungjin. Yang berarti mereka adalah calon anaknya juga.
Ting ... Tong ...
Bel rumah berbunyi. Bomin mengabaikannya. Biarkan saja nanti Eunjin yang membukanya.
Ting ... Tong ... Ting ... Tong ...
Eunjin yang tadinya sibuk di dapur segera berlari ke pintu depan. Ia berdecak karena baik Junho maupun Bomin tak peduli dengan tamu yang datang.
Tanpa melihat siapa yang datang, Eunjin segera membukakan pintu. Dan betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang.
"Eh? Dokter Jung?" Orang yang sejak tadi menekan bel kini menatap Eunjin terkejut.
Eunjin bahkan lebih terkejut lagi melihat pasien genit yang kerap datang ke rumah sakitnya datang ke apartemen Junho.
"Siapa yang datang Eun—" Bomin menatap orang yang ada di depan pintunya dengan kesal. "Jin."
"Editor Hong?! Bukankah aku sudah bilang aku akan mengirimkan naskah novelnya ke e-mailmu?" protes Bomin. Ia segera mendorong pintu untuk menutup. Berniat untuk melarikan diri. Namun segera ditahan oleh jelas pria yang dipanggil Editor Hong itu.
"E-eh, aku datang karena Direktur Im yang memaksaku. Katanya novelmu harus selesai besok. Jadi aku perlu mengeditnya hari ini juga."
Eunjin menatap kedua orang yang berdebat itu dengan tatapan bingung. Bomin yang sadar akan kebingungan Eunjin pun menepuk dahinya karena menyadari kesalahannya.
"Eunjin-ah, kau heran siapa pria aneh ini bukan? Perkenalkan dia adalah editor novelku, Hong Moonbin." ucap Bomin memperkenalkan Moonbin pada Eunjin.
Moonbin menyeringai. Tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan Eunjin. Ia tak tahu kalau penulis yang ia tanda tangani mengenal dan bahkan tinggal serumah dengan dokter pujaan hatinya.
"Jadi, sekarang apa aku boleh masuk atau kau mau tetap berdebat di depan pintu ini?"
***
Byunggyu dan Taeoh mengintip melalui celah pintu kamar Bomin. Byunggyu menatap kesal pada Moonbin yang merebut perhatian Bomin. Padahal ia dan Bomin mempunyai rencana untuk ke rumah Wooseok yang merupakan tetangga Gaeun. Tapi rencana mereka berantakan karena kedatangan Moonbin.
Taeoh berdecak kagum, "Aku tak menyangka Kak Bomin punya pekerjaan.”
"U-um, kukira dia pengangguran. Kerjanya hanya malas-malasan.Aku tak menyangka orang sepertinya bisa jadi seorang penulis." ucap Byunggyu.
Sementara kedua bocah itu sibuk mengintip, Eunjin yang ada di kamarnya merengut kesal karena kini ia tak hanya harus bertemu dengan pasien gila itu di rumah sakit, namun juga di rumahnya.
"Kau kenapa Eunjin-ah? Wajahmu terlihat kesal." tanya Junho.
"Aku tak apa." jawab Eunjin singkat.
Junho hendak bertanya lagi, tapi ia mendadak bungkam karena pelototan Eunjin.
Ah sudahlah, mungkin saja Eunjin sedang kedatangan tamu bulanannya. Lagipula ia masih sayang nyawa. Lebih baik ia tak bertanya lagi.
***
Moonbin melepas kacamatanya lalu berbalik menatap Bomin yang sejak tadi menunggunya.
"Bagaimana?" tanya Bomin.
"Menarik, ada kemajuan dalam tulisanmu." puji Moonbin.
"Syukurlah!" sorak Bomin senang. Kalau begini berarti ia tak harus mengulang atau memperbaiki apapun! Ia bisa malas-malasan seharian! Yeayy!
Moonbin tersenyum.
"Penulis Park, apa kau sedang jatuh cinta?"
Park Bomin yang tadinya menari kegirangan langsung berhenti bergerak.
"Darimana ... Darimana ... Darimana kau tahu?" tanya Bomin.
"Novel yang kau tulis. Terlihat sekali kau menulisnya dengan penuh cinta." cibir Moonbin.
Bomin terdiam dengan wajah yang memerah malu. Tapi bukannya Moonbin bilang itu bagus? Berarti rasa cintanya pada Byungjin membawa hal yang positif untuknya.
"Oh iya, kau punya hubungan apa dengan Dokter Jung?" tanya Moonbin dengan semangat.
Bukannya menjawab pertanyaan Moonbin, Bomin malah balas bertanya, "Ha? Kau mengenal Eunjin?"
"Ya. Katakan! Kau sahabatnya? Sepupunya? Atau saudara tirinya?" tanya Moonbin.
Bomin menatap Moobin curiga. Mengapa editornya ini ingin tahu tentang Eunjin? Walaupun ia penasaran, Bomin tetap menjawab pertanyaan pria itu.
"Dia calon kakakku," jawab Bomin.
"Eh?"
"Um, dia calon kakak iparku. Calon istri dari kakakku." ucap Bomin memperjelas kalimatnya.
Krekk...
Bomin bisa mendengar suara hati Moonbin patah dan berguguran saat ini. Namun ia tidak perduli. Ia merasa editornya ini tertarik pada Eunjin jadi ia harus memperjelas bahwa Eunjin sudah punya kekasih. Ia tidak mau kakaknya ditikung editornya sendiri. Apalagi Moonbin jauh lebih tampan bila dibandingkan dengan beruang bertelinga gajah, Park Junho. Jadi ia harus melakukan pencegahan sebelum hal itu terjadi,
***
Byunggyu menyeret Bomin keluar. Taeoh mengekor di belakang. Ya, karena tak ingin ditinggal sendirian dengan Taeil, Taeoh ikut bersama mereka.
"Mengapa ke parkiran? Bukannya kita ke rumah Wooseok naik taksi?" tanya Bomin heran.
Byunggyu tetap menyeret Bomin. Mata Bomin membelalak melihat Byungjin yang sudah menunggu mereka di dalam mobilnya.
"B-Byungjin-ssi?"
Bomin merasa canggung. Oh ayolah! Ini baru beberapa hari ia menyatakan cintanya. Mengapa ia harus bertemu dengan pria ini sekarang? Ia benar-benar merasa canggung dan tak tahu harus melakukan apa.
"Kak Bomin ingat! Agresif! Agresif!" bisik Byunggyu.
Bomin melotot pada Byunggyu. Bocah itu pikir bersikap agresif pada pria yang sudah menolakmu itu mudah apa?!
"Naiklah." ajak Byungjin.
***
Selama perjalanan ke rumah Wooseok, Taeoh dan Byunggyu sibuk menceritakan rencana mereka. Bomin duduk di sebelah Byungjin yang mengemudi sementara dua bocah itu duduk di belakang. Bomin terus mengajak Byunggyu dan Taeoh berbicara agar suasana dalam mobil tidak canggung. Untung saja ada kedua bocah itu. Kalau tidak, mungkin Bomin akan lupa caranya bernafas kalau harus berdua Saja dengan Byungjin.
"Sudah sampai." ucap Byungjin.
Bomin, Taeoh dan Byunggyu melepas sabuk pengaman mereka dan turun dari mobil.
"Anak-anak, tolong jangan nakal dan membuat Kak Bomin repot. Telpon Ayah bila kalian ingin dijemput," ucap Byungjin pada anak dan juga keponakannya. Ia beralih pada Bomin, "Bomin-ssi maaf merepotkan, tapi tolong jaga mereka." pintanya.
Bomin mengangguk canggung. Taeoh dan Byunggyu melambai pada ayah mereka saat Byungjin melajukan mobilnya.
"Baiklah! Ayo!" ucap Bomin bersemangat.
***
Ting ... Tong ...
Bomin menekan bel rumah Wooseok. Tak lama, seorang wanita paruh baya yang sepertinya adalah Nyonya Kim membukakan pintu untuk mereka.
"Byunggyu-ya, apa ini ibumu? Masuklah, Wooseok sudah menunggu di dalam." ucap Nyonya Kim.
Bomin tersenyum. Dirinya dikira ibunya Byunggyu? Berarti ia juga dikira istrinya Byungjin? Bomin tertawa puas.
Mereka masuk ke kamar Wooseok. Kamar itu benar-benar rapi. Bomin tak menyangka. Ia kira kamar anak itu akan sekacau kelakuannya.
"Kak Bomin juga datang? Astaga bagaimana ini?! Mengapa tak ada yang memberitahuku? Gadis yang kusukai masuk ke kamarku. Apa yang akan kulakukan?! Aku pria normal! Tapi aku belum siap untuk hal ini!" Wooseok terlihat panik.
Bomin menatap Wooseok bosan. Tak berniat mengatakan apapun. Ia sudah terbiasa dengan Wooseook yang aneh.
"Byunggyu-ya, mengapa kau tak bilang akan datang bersama Kak Bomin?! Seharusnya kau memberitahuku jadi aku bisa mempersiapkan diri dulu." protes Wooseok sambil mengguncangkan bahu Byunggyu.
Byunggyu malah mengendikkan bahu tak peduli. Taeoh sendiri sedang sibuk dengan koleksi robot-robotan milik Wooseok. Memangnya vila mereka memberitahu Wooseok, anak itu ingin mempersiapkan apa? Lagipula mereka hanya sebentar.
Byunggyu menghentikan tangan Wooseok yang mengguncangkannya, "Wooseok-ah, aku butuh bantuanmu. Aku sudah memberitahumu mengenai misiku lewat telpon tadi kan?"
Bibir Wooseok mengerucut. Ia lalu mengangguk-angguk mengerti.
"Baiklah, walaupun aku kesal kau tak memberitahuku tapi aku akan membantumu." Wooseok bangkit berdiri. "Ayo ke rumah Gaeun!"
****