Part 7 - Stop The Love Now!

1158 Kata
Bomin benar-benar tak menyangka hari ini akan terjadi. Seorang bocah dingin dan ketus seperti Byunggyu meminta bantuannya masalah cinta? What the? Cinta? Di usia sepuluh tahun? Ckckck dasar anak-anak zaman sekarang. Terlalu cepat dewasa. Eh? Bukannya Wooseok lebih parah ya? "Kenapa kau tak meminta bantuan ayahmu? Atau kalau tidak Taeil pasti bisa membantu." ucap Bomin. "Tidak mau! Aku terlalu malu untuk membicarakan hal ini pada ayahku. Dan apa kau pikir aku mau meminta bantuan hamster itu? Yang ada dia akan mengejekku nantinya." keluh Byunggyu. Bomin sebenarnya ingin membantu Byunggyu. Lagipula ini bisa digunakan sebagai ide dalam novelnya. Tapi memberi nasihat tentang cinta dari sudut pandangnya sepertinya hanya akan membuat segalanya menjadi buruk. Akan lebih baik bila yang memberi Byunggyu nasihat adalah seorang pria seperti anak itu. "Aku mungkin tak bisa membantumu. Tapi kupikir aku tahu siapa yang bisa membantumu." *** Bomin mengumpulkan Junho, Hyungseob dan Yookwon. Lagipula ini hari minggu. Ada banyak waktu untuk membicarakan hal ini. "Jadi kau menyukai seorang gadis di kelasmu?" tanya Yookwon memastikan. Byunggyu mengangguk. Lalu dengan wajah merona menceritakan gadis yang ia sukai. "Namanya Kim Gaeun. Dia hanya gadis biasa di kelas kami. Tak terlalu populer. Tapi ia mempunyai senyum secerah matahari yang membuat perasaanku menghangat. Ia memiliki sesuatu yang membuat dadaku berdebar dan juga membuatku selalu gugup bila di dekatnya." Para orang dewasa itu terkekeh melihat binar di mata Byunggyu. Byunggyu yang sadar segera mengubah ekspresinya dan berdehem. Junho tertawa dan bertanya, "Lalu apa masalahnya?" Wajah Byunggyu berubah murung. "Aku sadar dengan sifatku yang dingin yang ketus. Tapi aku tak bisa mengubahnya. Terlebih lagi saat aku gugup, entah mengapa ucapanku makin pedas. Dan ekspresiku akan makin menyeramkan. Yang lebih buruk bahkan aku hanya akan bergumam dan tak bisa berbicara. Aku ingin menyatakan perasaanku padanya. Apa yang harus kulakukan?" Oh, ini serius. Kalau Byunggyu seperti itu terus bagaimana bisa ia mendekati Gaeun? "Cobalah mengontrol ucapanmu. Kalau tetap tak bisa, mungkin kau bisa berkomunikasi dengannya dengan cara lain." ucap Yookwon mencetuskan ide bodohnya. "Eum, mungkin kau bisa melakukan itu. Surat cinta. Kau bisa memberinya surat cinta." saran Hyungseob. Surat cinta? Itu bisa saja dilakukan. Byunggyu tersenyum cerah. Itu bisa mengatasi masalahnya. "Bicara soal pernyataan cinta..." Bomin terdiam sebentar. "Aku sudah menyatakan cintaku pada Oh Byungjin." "Apa?" Semua menatap Bomin terkejut. Bomin sendiri heran. Ada apa? Apa Bomin telah melakukan kesalahan? "Park Bomin, bukannya sudah kubilang untuk melakukannya perlahan? Kau ini tak pernah mau mendengarkanku ya!" omel Yookwon. "Kau menyatakan cinta pada ayahku? Dengan secepat ini? Kak Bomin, apa kau sinting?" tambah Byunggyu. "Hebat, Park Bomin. Kau memang tak pernah memikirkan apa akibat dari yang kau perbuat." ucap Junho. Bomin yang tak terima disalahkan pun berdiri sambil berkacak pinggang. "Kenapa? ada yang salah? Memangnya kenapa kalau aku menyatakan cintaku dengan cepat?" protes Bomin tak terima. "Tentu saja salah, Kak, kau terlalu cepat menyatakannya. Kau terlalu ceroboh. Kau pikir apa yang akan ayahku pikirkan bila kau menyatakan perasaanmu padanya? 'Ah, wanita ini sudah pasti hanya bermain-main saja. Mana mungkin ia menyukaiku secepat ini?'" cibir Byunggyu. Bomin yang merasa tersudut memilih mencari alasan lain untuk membela diri. "Lalu apa bedanya denganmu yang ingin langsung menyatakan perasaanmu pada Gaeun?" Byunggyu terdiam. Benar juga. Apa bedanya dia dengan Bomin yang tergesa-gesa menyatakan perasaannya? "Benar juga, baiklah kau harus melakukan beberapa pendekatan dulu sebelum menyatakan perasaanmu pada Gaeun Byunggyu-ya." saran Hyungseob. Byunggyu mengangguk. Ia beralih pada Bomin, "Aku juga punya saran untukmu, Kak. Ini tak berarti aku menyetujui bila kau bersama ayahku. Tapi bila kau ingin ayahku berpikir kau benar-benar serius dengan perasaanmu, kau harus lebih agresif." Lebih agresif? Haruskah ia? "Tapi Kak Bomin, bukankah kau orang yang mudah akrab dengan orang lain? Bisakah kau membantuku lagi?" *** Karena sudah mengiyakan permintaan Byunggyu, Bomin pun menemaninya ke sekolah untuk melihat seperti apa Gaeun. Dan saat melihat gadis kecil itu, Bomin bisa mengerti mengapa Byunggyu yang ketus dan sulit didekati itu bisa jatuh cinta secepat ini pada Gaeun. "Wuaa kau berbohong! Kau bilang Gaeun hanya gadis biasa. Bagaimana bisa ia jadi gadis biasa dengan kecantikan yang seperti itu? Byunggyu-ya, aku tak menyangka seleramu sangat tinggi." ucap Bomin sambil menepuk kepala Byunggyu. Bangga akan calon anak tirinya itu. Byunggyu menepis tangan Bomin dari kepalanya. Ia menatap Gaeun tanpa berkedip. Bomin bisa merasakan kalau Byunggyu sedang gugup sekarang. "Kak, sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya Byunggyu. "Eum aku perlu melihatmu mendekatinya. Agar aku tahu seberapa parah kegugupanmu bisa di dekatnya. Lalu kita akan cari cara agar kau tak gugup lagi." saran Bomin. "Aku tak bisa!" jerit Byunggyu. Wooseok yang tadinya tak menyadari kedatangan Bomin jadi menoleh ke arahnya karena jeritan Byunggyu. Bocah itu terlihat terkejut. Wooseok langsung tersenyum cerah melihat gadis yang disukainya. "Kak Bomin!" sapa Wooseok sambil melambaikan tangannya ke arah Bomin. Bomin memalingkan wajahnya pura-pura tak melihat. Wooseok jadi cemberut dan melangkahkan kakinya menghampiri Bomin meninggalkan teman-temannya yang tadi berbicara padanya. "Kak Bomin, kau tak melihatku? Tadi aku menyapamu." gerutu Wooseok. Bomin menggeleng, "Tidak, aku tak melihatmu. Yang kulihat hanya kurcaci kecil menyebalkan yang terus melambai padaku." Wooseok mengabaikan sindiran Bomin. Baiklah, bukan mengabaikan. Hanya saja ia tak mengerti kalau Bomin sedang menyindirnya. "Kalian sedang apa?" tanya Wooseok. Bomin mendapat ide. Ada baiknya juga Wooseok disini. Bomin menunduk dan membisikkan sesuatu pada Wooseok. "Baiklah." ucap Wooseok menyanggupi permintaan Bomin. Byunggyu hanya menatap Wooseok dan Bomin heran. Penasaran dengan rencana Bomin. Matanya membola saat melihat Wooseok berlari ke arah Gaeun. Entah apa yang Wooseok dan Gaeun bicarakan, tapi kedekatan mereka sukses membuat Byunggyu jadi cemburu. Ekspresi cemburu Byunggyu membuat Bomin mendengus geli. Menahan diri untuk tidak mengejek Byunggyu. Byunggyu berubah panik saat Wooseok mengajak Gaeun untuk menghampiri mereka. Ia sudah ingin melarikan diri kalau saja Bomin tidak menahan bahunya. "Halo Kak." sapa Gaeun. "Kau yang bernama Kim Gaeun? Kau cantik sekali! Byunggyu sering menceritakan tentangmu." ucap Bomin ramah. "Byunggyu?" Gaeun memiringkan kepalanya menatap Byunggyu dengan ekspresi heran. Wajah Byunggyu tak mengeluarkan ekspresi apapun. Kaku sekali. Ia jadi terlihat menyeramkan. "Byunggyu-ah, ayo sapa Gaeun. Kalian berteman bukan?" pancing Bomin. "H-hn." Byunggyu hanya bergumam. Bomin tak tahu akan seperti ini jadinya. Byunggyu benar-benar gugup di dekat Gaeun. Mereka harus benar-benar bekerja keras untuk membuat Byunggyu tak gugup lagi. *** Byungjin datang ke apartemen Junho untuk menjemput Byunggyu. Seharian ini anaknya itu selalu bersama Bomin. Untuk pertama kalinya putranya itu membiarkan Taeoh berdua saja bersama Taeil. Ini benar-benar aneh. "Byunggyu ada di kamar Bomin. Kamarnya di sana, pintu yang berwarna putih itu." Eunjin menunjuk ke arah kamar Bomin. Eunjin ingin melihat reaksi Bomin kalau tahu Byungjin ada di kamarnya. Gadis itu pasti histeris. Byungjin masuk ke kamar Bomin dan terkejut melihat pemandangan yang ada di dalam. Dua orang yang biasanya tidak akur itu sedang tertidur. Bomin tertidur sambil duduk bersandar di tembok sedangkan Byunggyu tidur dengan berbantal paha gadis itu. Byungjin tersenyum dan memotret pemandangan yang langka ini. Setelah selesai, ia memindahkan kepala Byunggyu dari paha Bomin lalu menyelimuti gadis itu kemudian menggendong anaknya keluar dari kamar itu. **** Makassar, 06 Maret 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN