Sudah beberapa hari ini Bomin sudah tak dekat lagi dengan Byungjin dan anak-anaknya. Gadis itu mengurung diri dalam kamar dan mengerjakan novelnya. Byunggyu dan Taeoh yang biasa datang mengganggunya pun tak datang lagi. Hanya Wooseok yang selalu datang seperti biasa. Walaupun Wooseok juga jarang sekali berbicara dengan Bomin karena kakak kesayangannya itu berubah menjadi pendiam.
Bomin yang selalu mengejar-ngejar Byungjin digantikan oleh Chaerim. Sepupu Bomin itu juga selalu mencoba mendekati Byunggyu.
"Dia tak mau makan. Katanya kita makan duluan saja." ucap Eunjin pada Junho.
Junho menatap pintu kamar Bomin yang tertutup. Lalu menghela nafas dan menatap Yeorum serius.
"Bomin berubah semenjak kedatanganmu. Kau yakin kau tak melakukan sesuatu pada adikku?" tanya Junho sinis.
Chaerim mengendikkan bahunya.
"Aku tak tahu apapun. Ahhh, padahal rencananya aku ingin memintanya membantuku. Tapi melihat keadaanya yang seperti ini aku jadi tidak tega." Chaerim memulai makan malamnya.
Membantunya? Junho dan Eunjin berpandangan. Membantunya apa?
"Membantumu apa?"
"Ah! Mungkin kalian juga bisa membantuku! Kalian dekat dengan Oh Byungjin bukan?" tanya Chaerim.
"Tentu saja. Aku yang menyewakan apartemen Bomin untuknya." ucap Junho bangga.
"Kalau begitu, bisakah kau membantuku dekat dengannya? Kau ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu? Saat aku kabur bersama kekasihku? Oh Byungjinlah orangnya." ucap Chaerim.
Junho tertegun. Eunjin dan dirinya hanya diam tanpa mengatakan apapun. Baiklah, sekarang mereka tahu mengapa Bomin berubah seperti sekarang.
***
Bomin keluar dari kamarnya. Ia harus mendapatkan makanan sekarang sebelum penyakit maagnya kambuh. Ia melihat Chaerim yang sedang sibuk dengan laptopnya. Mungkin tentang perusahaan keluarga mereka.
"Eunjin dan Junho belum pulang?" tanya Bomin.
"Begitulah." jawab Chaerim.
Bomin mengecek ke meja dan juga kulkas. Tak ada makanan jadi yang tersisa. Hanya bahan makanan. Dan kalian jelas tahu betapa buruknya Bomin dalam hal memasak.
"Kau lapar?" tanya Chaerim.
"Hm, itu wajar mengingat kau tak keluar kamar seharian ini." Yeorum bangkit dari tempat duduknya dan ikut melihat apa yang ada di kulkas.
"Ewh, kau benar-benar harus mandi. Baumu mengerikan!" cibir Chaerim.
Chaerim mengambil beberapa bahan makanan lalu berjalan ke dapur dan mulai memasak. Bomin mengendikkan bahunya dan duduk di meja makan, tak membalas cibiran Chaerim. Lagipula sepupunya itu benar, baunya memang mengerikan karena sudah tiga hari tidak mandi.
Bomin menatap Chaerim. Ia ingat tipe wanita idaman Byungjin yang diberitahu oleh Byunggyu. Chaerim cantik, anggun, wanita karir yang sukses dan yang paling penting pandai memasak. Berbeda dengan Bomin. Bomin benci mengakuinya tapi ia telah kalah dari Chaerim.
"Sebenarnya aku bingung, kenapa kau jadi gila kerja begini? Benar-benar tak seperti dirimu yang biasanya. Maksudku, kau tahu? Dulu kau memang jarang mandi tapi itu karena malas bukannya karena bekerja. Terlebih lagi kau melewatkan makan padahal semua orang tahu kau tak pernah menolak makanan." Komentar Chaerim.
"Hmm entahlah, aku sedang butuh pengalihan pikiran. Dan itu takkan aku dapatkan bila aku bermalas-malasan." ucap Bomin.
Chaerim berhenti memotong dan menatap Bomin dengan senyum yang mengembang. Ia menatap Bomin penuh selidik.
"Jangan bilang kau sedang patah hati?" godanya.
"Menurutmu begitu?" Bomin mengendikkan bahunya tak peduli. Walaupun ia terkejut tebakan Chaerim benar.
"Astaga~ dunia takkan kiamat hanya karena kau tak mendapatkan cintamu. Kalau kau tak bisa mendapatkannya kejar dia sampai dapat! Jangan menyerah! Selama ia belum menikah dan menentukan hidupnya pada seorang wanita, kau bisa merebutnya sesukamu. Aisshh kau bodoh sekali!" ucap Chaerim gemas.
Bomin memicingkan sebelah matanya. Apa Chaerim tak menyadari Ia sedang menyemangati saingannya untuk merebut Byungjin? Baiklah, bukan salahnya bukan kalau ia ikut memperebutkan Byungjin? Lagipula walau Chaerim tak sadar, sarannya tadi berarti ia telah mengizinkan Bomin untuk merebut Byungjin.
"Baiklah, kalau begitu aku akan merebutnya. Bersiap-siaplah." Bomin bangkit berdiri dan masuk kembali ke kamarnya.
"Apa maksudmu bersiap-siaplah? Hei! Kau tidak jadi makan?"
***
Bomin keluar dari apartemen Junho. Tentu saja setelah mandi karena ia tak ingin membuat Sehun pingsan karena baunya.
"Kak Bomin!"
Bomin menoleh. Ada apa dengan Byunggyu? Wajahnya terlihat panik.
"Ah! Aku baru saja akan ke apartemenmu. Aku beruntung tak harus bertemu nenek sihir itu." gerutu Byungyyu.
Bomin memutar bola matanya, "Dan nenek sihir itu ibumu."
"Ah itu tidak penting! Aku baru saja menerima telpon. Ayah mabuk di bar. Kak Taeil sedang tak ada di rumah dan aku terlalu malas untuk menelponnya. Bisakah kau menjemput ayahku? Aku ingin menjemputnya sendiri tapi anak bayi pun tahu umurku terlalu muda untuk masuk ke bar." pinta Byunggyu.
"Dan aku sendiri yang akan membunuhmu kalau kau berani masuk ke sana. Baiklah! Apa nama barnya?"
***
Bomin merasa cemas. Bagaimana bisa Oh Byungjinnya yang tampan masuk ke bar? Bagaimana kalau mabuknya Byungjin dimanfaatkan oleh wanita-wanita genit yang ada di sana?
Bomin tak peduli dengan pakaiannya yang tidak pantas untuk masuk ke bar. Ia bahkan mengabaikan tatapan aneh pengunjung bar yang lain.
"Kau tersesat, Nona?" cibir mereka.
"Begitulah, orang suci sepertiku seharusnya tak ada di tempat setan seperti ini." balas Bomin.
"Lalu? Untuk apa orang suci sepertimu ada di tempat setan ini?" tanya seorang wanita sambil terkikik.
Bomin akhirnya melihat Byungjin yang tertidur sambil menyenderkan kepalanya di meja bar. Bomin mengabaikan pertanyaan wanita itu dan segera menghampiri Byungjin.
"Kak? Kak Byungjin!" panggil Bomin sambil mengguncangkan tubuh Byungjin.
Byungjin mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Bomin. Bomin mengernyitkan hidungnya. Tubuh Byungjin bau alkohol. Ahh, bahkan bau badan Bomin yang tidak mandi tadi lebih baik dari bau Byungjin saat ini. Bomin duduk di sebelah Byungjin.
"Kak Byungjin, ayo pulang. Byunggyu menunggumu."
Byungjin tersenyum padanya. Dan yang membuat Bomin terkejut adalah Byungjin tiba-tiba memegangi kedua pipinya dan mengarahkan wajahnya agar menatap lurus pada pria itu.
"Aku juga telah lama menunggumu. Tapi kau datang lama sekali. Tak tahukah kau kalau ini menyakitkan? Setelah lama menunggu dan terus menunggu. Mencoba melupakan rasa sakit yang kau torehkan padaku. Dan saat aku menyerah, kau datang dengan santainya dan mengatakan kau ingin kembali bersamaku?"
Bomin tak mengerti. Sepertinya Byungjin benar-benar mabuk sekarang.
"Apa maksudmu, Kak?"
Byungjin tak menjawabnya. Pria itu tanpa aba-aba memajukan wajahnya dan mencium bibir Bomin kasar. Bomin membelalakkan matanya terkejut. Tak merespon apapun.
Saat Byungjin melepaskan ciumannya, Bomin bahkan masih terdiam membeku.
"Kau benar-benar menyakitiku Park Chaerim." gumam Byungjin sebelum kehilangan kesadarannya dan jatuh bersender di bahu Bomin.
Ucapan Sehun menyadarkan Bomin. Pria itu mengira ia adalah Chaerim. Bomin tertawa miris. Ia menahan perasaannya yang mulai campur aduk.
"Kau juga menyakitiku, Kak. Tidakkah kau lihat? Aku Park Bomin. Bukannya Park Chaerim." gumamnya sedih.
***
Bomin memapah Byungjin keluar dari taksi. Huffhh, semangat Park Bomin! Kau pasti bisa! Walaupun Byungjin seberat gajah yang sedang hamil tapi tidak apa-apa. Ini demi cinta! Bomin adalah pejuang cinta! Jreng ... Jreng ...
Ia masuk ke dalam lift. Ia sedikit berhati- hati. Ia bukan orang yang bisa minum. Junho juga anti dengan minuman keras. Karena itu Bomin tidak tahu harus bagaimana untuk mengurus Byungjin yang sedang mabuk. Ia takut Byungjin akan memuntahinya seperti adegan pria yang mabuk dalam drama.
Ting ... Tong ...
Bomin menekan bel apartemen Byungjin. Ia benar-benar berharap Byunggyu masih bangun dan segera membuka pintu. Punggungnya seperti mau patah sekarang.
Byunggyu membuka pintu dan segera membantu Bomin membawa ayahnya ke kamarnya. Mereka membaringkan Byungjin di ranjang.
"Hebat, aku tak percaya akan melihat ayahku yang perfeksionis dalam keadaan seperti ini." komentar Byunggyu.
"Dimana Taeil dan Taeoh?" tanya Bomin.
"Kak Taeil belum pulang. Taeoh kusuruh tidur duluan agar ia tak melihat ayahku dalam keadaan begini. Aku tak ingin ayahku kehilangan wibawanya di hadapan Taeoh." ucap Byunggyu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bomin.
"Ha?"
"Maksudku mengenai Park Chaerim. Sepupuku itu, dia meninggalkan kalian bukan?"
Byunggyu terkekeh miris. Ia menatap Bomin dengan tatapan terluka.
"Seharusnya saat aku masih dalam kandungannya, wanita itu aborsi saja. Itu lebih baik dibandingkan bila ia membuangku seperti itu." ucap Byunggyu marah.
Bomin menggeleng. Tidak seharusnya Byunggyu berkata begitu.
"Tidak! Kau tak boleh menyesali apa yang telah terjadi. Lagipula bila kau tak ada, nanti akan ada laki-laki lain yang akan menjadi pasangan Gaeun. Apa kau rela bila seperti itu?" tanya Bomin.
"Hiee? Benar juga ya?" Byunggyu bergumam polos.
Bomin menahan tawanya. Walau sifat Byunggyu sangat ketus dan sikapnya seperti orang dewasa, Byunggyu tetap anak-anak yang punya pemikiran polos.
Byunggyu menatap dinding di depannya dengan tatapan sedih. Ia lalu menoleh dan tersenyum pada Bomin.
"Aku selalu berpikir, seandainya saja ibuku itu kau dan bukannya wanita itu." ucap Byunggyu.
Blusshh...
Wajah Bomin merona. Calon anaknya mengakuinya!
"A-apa maksudmu?"
Byunggyu mengendikkan bahunya acuh. Ia memadangi dinding yang membatasi kamar ayahnya.
"Bila kau yang menjadi ibuku dan kau yang dihamili ayahku waktu itu, aku yakin kau akan memilihku dan Ayah dibandingkan keluargamu. Dan juga dengan cinta dan juga otak licikmu itu, kau pasti akan menempeli ayahku terus agar ia menikahimu. Bahkan mungkin kau akan memanfaatkan kehamilanmu untuk tetap terus bersama Ayah," Byunggyu tertawa kecil.
"Belum lagi, keluargamu kan Kak Junho. Kalau Kak Junho pasti malah akan mengejar-ngejar ayahku untuk bertanggung jawab atas kehamilanmu. Bukannya melarangnya." tawa Byunggyu semakin keras ketika membayangkannya.
Bomin mengerucutkan bibirnya. Tapi dalam hati ia merasa senang. Itu berarti Byunggyu telah sepenuhnya menerimanya.
"Ngomong-ngomong kenapa kalian lama sekali tadi? Apa tadi apa ayahku melakukan sesuatu padamu?" tanya Byunggyu.
Ditanyai seperti itu tentu saja membuat Bomin merasa gugup.
"Ahh ... Sepertinya aku harus pulang sekarang." ucap Bomin sambil mengambil tasnya.
"Eh? Jangan kabur! Kau harus menceritakannya padaku." protes Byunggyu.
Bomin berhenti melangkah. Ia mengingat bagaimana Byungjin menciumnya. Tapi ia juga mengingat dengan jelas saat Byungjin menggumamkan nama Chaerim setelah mencium dirinya. Bomin menatap Byungyyu sambil tersenyum miris
"Ia memang melakukan sesuatu." Bomin menghela nafas, "Dan itu menyakitkan."
Bomin kembali melangkah ke arah pintu dan keluar dari apartemen itu. Byunggyu menatap kepergian Bomin dengan heran.
"Menyakitkan? Melakukan sesuatu? Jangan-Jangan ..." Byunggyu melotot.
"Ayah! Kau melakukan yang tidak-tidak pada Kak Bomin, ya? Kalau begitu kau harus bertanggung jawab dan menikahinya! Aku tak mau kejadianku terulang lagi! Aku tak mau tahu!" teriak Byunggyu sambil mengguncangkan tubuh Byungjin kesal.
Well ... Sepertinya anak ini salah paham.
****
Makassar, 03 April 2016