Part 15 - Mistake

1311 Kata
Mereka masih dalam perjalanan menuju bandara. Wooseok, Byunggyu dan Taeoh sibuk membicarakan mengenai film yang mereka tonton. Pembicaraan di antara merekalah yang membuat suasana di dalam mobil menjadi ramai. Bomin hanya bisa maklum. Walau ketiga bocah itu terlihat dewasa, tetap saja mereka anak-anak. "Bomin-ah," panggil Byungjin. "Ya?" "Kenapa kau diam saja? Ini tak seperti kau yang biasanya. Apa karena kata-kataku di butik tadi?" tanya Byungjin. "Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang ingin diam saja." ucap Bomin. Sebenarnya Bomin kesal karena harus menjemput 'sepupu galak'. Oh percayalah, kalau kalian mengatakan Byunggyu bermulut pedas, dibandingkan ucapan menusuk 'sepupu galak' mulut pedas Byunggyu tidak ada apa-apanya. Karena itu Bomin bisa sabar menghadapi Byunggyu karena dirinya sudah menghadapi yang lebih ketus dari Byunggyu. Kemarin ia di beri saran oleh Nayoung karena telah menguasai pelajaran dasar. Saatnya menerapkannya. Semangat! "Eum, Kak Byungjin?" panggil Bomin ragu-ragu. "Ya?" "E-eum, aku ingin mengajakmu kencan hari minggu nanti. Apa kau punya waktu?" tanya Bomin. Byungjin cukup terkejut mendengar ajakan kencan Bomin. Seperti biasa, ia hanya tersenyum. "Baiklah, kita akan kencan." ucap Byungjin. "Apanya yang kencan?!" sela Wooseok. Bomin menoleh cepat. Ternyata Wooseok mendengar ucapannya. "I-itu..." "Aku dan Gaeun akan kencan. Kak Bomin dan ayahku membicarakan kencan kami." sahut Byunggyu malas. Bomin menghela nafas. Merasa lega. Apalagi Wooseok sepertinya percaya saja dan kembali berbincang dengan Taeoh. Bomin beralih pada Byungjin. Meringis mendengar kekehan geli dari pria itu. Terserahlah, yang jelas Bomin sekarang sedang bahagia karena akan berkencan dengan Byungjin. *** Mereka telah sampai di bandara. Bomin dan Byungjin melepaskan sabuk pengaman mereka. "Ayah, aku ingin ke toilet." keluh Taeoh "Baiklah ayo Ayah temani." ucap Byungjin. "Aku ikut!" "Bomin-ah, aku menemani Taeoh dan Byunggyu ke toilet dulu. Kalau kau sudah menemui sepupumu kau langsung ke parkiran saja." ucap Byungjin. Bomin mengangguk dan menggandeng Wooseok masuk ke dalam bandara. Wooseok tersenyum senang karena Bomin menggandeng tangannya. Bomin yang mengetahui itu hanya bisa menghela nafas. Ia menggandeng tangan Wooseok bukan karena ia mau. Melainkan ia tak mau repot mencari Wooseok jika bocah itu hilang di bandara. Bomin menelpon sepupunya dan menanyakan dimana sepupunya itu. Ia mengedarkan pandangannya, lalu dan memelambaikan tangan pada seorang wanita yang sedang duduk di kursi tunggu bandara. "Kau kenapa lama sekali?" omel wanita itu. Belum sadar bahwa Bomin datang bersama orang lain. "Siapa suruh kau datang tanpa pemberitahuan terlebih dulu? Aku, Eunjin dan Junho terlalu sibuk dan tak ada waktu untuk menjemput nona manja sepertimu." cibir Bomin. "Sibuk apanya? Kau hanya malas-malasan sepanjang hari. Aku ingin memberi kalian kejutan, dan sepertinya aku berhasil." wanita itu tertawa senang Bomin tak mengatakan apapun setelah itu. Ya, kejutan. Kejutan yang benar-benar tidak menyenangkan. Bomin ingin mengatakan itu tapi takut ia dan sepupunya akan bertengkar dan membuat malu Byungjin di bandara. Sementara itu, Wooseok berkedip menatap sepupu Bomin dengan mata bulatnya. Sepupu ini terlihat jauh lebih dewasa dari Bomin. Lebih cantik juga. Tapi Wooseok tak menyukai auranya. "Wuaaa kau sangat lucu! Bomin jangan bilang kalau ini anakmu?" Wanita itu hampir saja mencubiti pipi Wooseok jika saja bocah tak menghindar. Wooseok bersembunyi di belakang Bomin. Trauma karena sejak tadi orang-orang terus saja berusaha menyiksanya dengan cubitan di pipi. Apa wanita-wanita itu tak mengerti kalau itu sangat sakit? Hanya karena mereka gemas bukan berarti mereka bisa mencubiti pipinya seenaknya. "Tolong jangan mengganggunya. Sepertinya dia tidak suka. Dia bukan anakku. Kalau dia anakku memangnya aku melahirkan di umur berapa? Sebelas tahun?" cibir Bomin. Mereka pun berjalan menuju parkiran. Byungjin, Taeoh dan Byunggyu telah menunggu mereka di dalam mobil. Bomin membuka pintu mobil. "Wuaa kau datang membawa rombongan! Aku merasa tersanjung disambut seperti ini." ucap wanita itu. "Masuk." perintah Bomin. Wanita itu masuk ke mobil dan langsung terkejut melihat siapa yang ada di dalam. Byunggyu dan Byungjin juga sama terkejutnya dengan wanita itu. "Kau!" *** Bomin benar-benar merasa penasaran. Ia mondar-mandir di dalam apartemen Yookwon dan Hyungseob. Eunjin dan Junho belum pulang. Karena itu ia memilih untuk mengungsi ke apartemen dua pria ini. Ia tak ingin sendirian dengan sepupunya. Byunggyu dan adiknya juga langsung pulang ke apartemen mereka. Byunggyu tak ingin berbicara padanya sejak pulang dari bandara tadi. Bomin benar-benar heran, bagaimana sepupunya mengenal Byungjin dan Byunggyu? Apa mereka dulu tetangga? Atau sepupunya itu adalah teman Byungjin? Tapi mengapa ekspresi pria itu aneh saat melihat sepupunya? "Jadi, sepupumu Park Chaerim pulang ke Korea?" tanya Yookwon antusias. Hyungseob menghentikan aktifitasnya. Park Yeorum? "Ya, begitulah. Tapi yang membuatku heran adalah ia mengenal Byunggyu dan Byungjin." jawab Bomin. Yookwon menyenggol Hyungseob main-main. Hyungseob hanya mendesis dan memicingkan matanya sinis pada Yookwon. Bomin yang melihat kelakuan kedua pemuda itu hanya bisa mengernyitkan dahinya heran. "Kalian kenapa?" "Kau tak tahu? Kakak kesayanganmu ini menyukai Park mmbbbffftt—" Mulut Yookwon segera dibekap oleh Hyungseob. Bomin melotot. Hyungseob menyukai Park Yeorum? Sepupunya yang galak itu? Apa Hyungseob sudah gila! "Aku ingin keluar mencari angin. Aku pinjam sepatumu." ucap Bomin. "Ha? Memangnya ada apa dengan sepatumu? Lagipula sepatuku kan longgar untukmu! Nanti mudah terlepas." protes Yookwon. "Biarkan saja, aku memang butuh sepatu yang longgar. Kakiku sakit karena berkeliling bandara tadi. Sepatuku itu high heels, Eunjin membuang semua sneakersku dan menukarnya dengan itu." keluh Bomin. Bomin mengambil salah satu sepatu Yookwon dari rak sepatu. Ia memakainya dan berjalan keluar apartemen. "Apa kubilang? Tidak apa-apa bukan? Kekhawatiranmu terlalu berlebihan. Lihat itu, Bomin tak menjerit karena kau menyukai sepupunya yang berarti itu normal." ejek Yookwon. "Diam saja kau!" *** Bomin berjalan-jalan ke atap gedung apartemen. Sudah lama ia tak ke tempat ini. Ia selalu ke tempat ini bila ia sedang suntuk atau sedang ada masalah. Itu karena tempat ini sepi dan jarang orang yang ke sini. "Untuk apa kau kembali?" Tunggu! Bomin medengar sesuatu! Bukannya itu suara Byungjin? "Aku kembali hanya untuk pernikahan Junho." Dan yang ini suara Chaerim! Bomin mencari asal suara itu. Ah itu dia! Bomin segera bersembunyi di balik tumpukan barang yang memang sejak dulu ada di sana. Ia ingin tahu apa yang terjadi antara Byungjin dan Chaerim. "Baguslah kalau begitu. Aku tak menyangka kalau orang baik seperti Bomin dan Junho ternyata memiliki hubungan darah dengan keluargamu yang 'terhormat' itu." cibir Byungjin. Chaerim terkekeh, "Kau harusnya bisa menebaknya. Nama keluarga mereka 'Park' bukan?" "Kau pikir hanya keluargamu yang menggunakan nama 'Park'? Ah sudahlah, aku hanya ingin mengatakan jangan coba-coba menggangguku dan Byunggyu." ucap Byungjin tegas. "Maafkan aku karena harus mengatakan hal ini tapi aku akan terus mengganggu kalian. Bagaimanapun Byunggyu anakku. Walaupun ia lahir dari kesalahan kita, tapi aku tak bisa mengabaikan fakta kalau ia juga anakku." ucap Chaerim. Byungjin mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar emosi sekarang. "Apa maksudmu Byunggyu lahir dari kesalahan, hah?! Beraninya kau berkata begitu! Kau bilang kau akan terus mengganggu kami? Bagaimana bisa kau jadi tak tahu malu begini? Kau yang membuangnya. Membuangku dan Byunggyu demi keluargamu! Apa kau lupa akan hal itu?" marah Byungjin. "Aku melakukannya juga demi kau dan Byunggyu!" balas Chaerim. Byungjin terkekeh sinis. Demi dirinya dan Byunggyu? Yang benar saja! "Demi aku dan Byunggyu kau bilang? Kau hanya tak rela bila semua kemewahan yang kau dapatkan selama ini hilang begitu saja. Karena itu kau membuang kami!" bentaknya. "Kau pikir bila aku tak meninggalkan kalian, kau bisa membangun perusahaanmu yang sekarang? Kau tahu kekuasaan keluargaku bukan? Saat itu kita masih sangat muda. Kau pikir mudah menghidupi anak dengan keadaan kita yang ditentang oleh orang tuaku? Kita hanya akan menderita!" ucap Chaerim. Dari perdebatan dua orang itu, Bomin mengetahui segalanya. Byunggyu adalah anak dari Park Chaerim dan Oh Byungjin. Dan Oh Byungjin, adalah kekasih Chaerim yang kabur bersama sepupunya itu sepuluh tahun yang lalu. Bomin mundur dan memilih pergi dari tempat itu. Tanpa sengaja ia tersandung dan menyebabkan salah satu sepatunya terlepas. "Siapa disana?" teriak Byungjin. Bomin segera berlari ke arah lift dan turun dari tempat itu. Apa yang ia ketahui sekarang telah menyadarkannya. Ia telah melakukan sebuah kesalahan. Dan mencintai Oh Byungjin adalah kesalahannya. **** Makassar, 01 April 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN