Part 14 - Wedding Dress

1194 Kata
Bomin keluar dari kamarnya sambil menguap lebar. Wajahnya masih wajah bantal karena baru bangun tidur. Ia melangkah ke dapur untuk mengambil air minum. Ia mengambil gelasnya dan menemukan sebuah catatan di sana. 'Kami pergi lebih duluan. Kumohon jangan pura-pura lupa hari ini kau akan mencoba gaun yang akan kau gunakan di pernikahanku nanti. Kami sudah membangunkanmu, tapi kau tahu kalau sangat mustahil untuk itu. Minta Yookwon atau Hyungseob mengantarmu ke butik. Tertanda : Park Junho yang tertampan sedunia.' Bomin mendengus. Baiklah, sekarang ia harus memilih antara mengandalkan sahabat-sahabat bodohnya atau pergi sendiri ke butik. Hah, beginilah bila jadi seorang gadis lajang. Kemana-mana sendiri. *** Bomin mengunci apartemen Junho, lalu melangkah ke apartemen Hyungseob dan Yookwon. Menekan bel beberapa kali tapi tak ada yang membuka pintunya. Ia ingin langsung menerobos masuk karena ia sudah tahu kata sandi apartemen itu. Tapi ia trauma karena pernah satu kejadian saat ia melakukan hal itu, ia berakhir babak belur karena dipukuli dengan sapu oleh Yookwon. Ia dikira pencuri. Walaupun begitu tak ada wajah penyesalan sama sekali di wajah Yookwon karena salah memukul. Sepertinya pria itu malah merasa sangat amat bahagia karena yang dipukul itu Bomin. Tentu saja setelah kesalahpahaman itu Bomin membalas Yookwon dan membuat pria itu harus diopname selama seminggu. Kembali ke masalah apartemen dua sahabatnya itu. Masih tak ada yang membukanya walau Bomin hampir merusak bel pintu mereka karena terus-terusan di pencet dengan kasar. "Sepertinya Yookwon dan Kak Hyungseob tak ada di rumah." gumam Bomin. Yah, terpaksa. Mahluk cantik sepertinya harus naik taksi ke sana. Padahal sekarang sedang rawan penculikan. Walaupun Bomin tak yakin akan ada yang menculiknya mengingat wajahnya tak ada menarik-menariknya. Bomin memang tidak bisa menyetir mobil. Jadi kemana-mana ia biasanya bersama Yookwon dan Hyungseb atau Eunjin dan Junho. "Kak Bomin kau mau kemana?" tanya seseorang yang membuat Bomin menoleh. Begitu ia menoleh, ia melihat Byunggyu dan Taeoh yang menatapnya heran. Oh, sepertinya dua anak ini tadinya ingin mengungsi ke apartemennya seperti biasa. Mau bagaimana lagi? Walaupun selalu dihindari oleh dua anak itu Taeil tetap tidak peka dan tetap tinggal di apartemen Byungjin. Bomin heran, Taeil memang tidak peka atau pura-pura tidak peka? "Aku harus ke butik untuk mencoba gaun yang sudah dipesan." jawab Bomin malas. "Yakin kau memakai gaun? Bukannya jas?" cibir Byunggyu. "Kalau bisa pakai setelan jas, aku pasti akan memilih jas dibanding gaun. Sudahlah, aku sudah terlambat. Junho dan Eunjin pasti sudah mengomel di sana." ucap Bomin kesal. "Kak Bomin, kalau kau mau aku bisa meminta Ayah mengantarmu. Kami sedang tak ada kerjaan. Lagipula sepertinya menyenangkan melihatmu didandani seperti badut. Ah! Aku juga akan mengajak Kak Wooseok!" Taeoh tersenyum riang lalu berlari ke apartemennya tanpa sempat Bomin cegah. "Hei!" "Sudahlah Kak, aku yakin dalam hatimu kau sedang melonjak senang karena diantar oleh Ayahku." sindir Byunggyu. Bomin mengerucutkan bibirnya, kesal. Ia memang senang karena akan diantar oleh Byungjin. Tapi kenapa Wooseok juga harus ikut? "Oh iya Byunggyu-ya, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu." ucap Bomin. "Apa?" "Mengenai ibumu. Taeoh pernah bilang ibunya ada di China. Aku tahu itu bibimu dan juga ibunya Taeil. Tapi mengenai ibumu yang ada di paris?" "Cih, kau benar-benar percaya? Yang dimaksud oleh Taeoh yang ada di paris itu Paman Minjoon." ucap Byunggyu. "Ha? Bukannya itu nama pria?" Bomin mengernyitkan keningnya heran. "Ya, dia pamanku tapi dia sangat cantik bahkan melebihi kau. Karena itu aku dan Taeoh sepakat memanggilnya ibu." Byunggyu terkekeh. Bomin menghela nafas lega. Berarti Byungjin memang belum mempunyai istri. Tapi kalau Byungjin tak punya istri, Byunggyu asalnya dari mana? Tak mungkin Byungjin yang melahirkan Byunggyukan? "Kalau mengenai ibuku, kau tak perlu khawatir, Kak. Ayah memang benar-benar belum pernah menikah. Kau bisa percaya padaku. Kau pikir aku akan membiarkanmu mendekati ayahku bila aku masih punya ibu?" ucap Byunggyu serius. Bomin mengangguk. Ia lalu tersenyum pada Byungjin yang menghampirinya bersama Taeoh. *** Sesampainya di butik, Bomin hanya bisa menahan tawanya melihat Wooseok yang dikerumuni oleh pegawai butik. Anak itu hanya bisa pasrah saat wajahnya dicubiti dan diciumi. Wooseok yang melihat Bomin segera memanggil kakak kesayangannya itu, membuat perhatian dari para pegawai butik itu beralih padanya. "Kak Bomin, tolong aku!" jerit Wooseok. "Tak usah perdulikan aku. Silahkan dilanjutkan." ucap Bomin acuh. "Kyaaa! Kak Bomin!" Bomin dan Byungjin memilih masuk ke dalam butik untuk menemui Junho dan Eunjin. Sedangkan Byunggyu dan Taeoh yang setia kawan menunggu Wooseok. Para pegawai butik itu juga merasa gemas pada Byunggyu dan Wooseok. Mereka sudah akan menyerang dua bocah itu jika saja tidak ada aura pembunuh yang dikeluarkan oleh Byunggyu. Sorot mata Byunggyu seperti mengatakan 'berani sentuh? Kuhancurkan butik ini!' yang membuat pegawai butik itu kembali menyerang Wooseok saja. *** Bomin melihat Junho yang sudah tampan dengan setelan jas pernikahannya. Bomin tersenyum. Kakaknya jadi mirip dengan almarhum ayah mereka. "Wuaaa kau benar-benar Park Junho? Astaga! Ternyata kau tampan memakai jas." puji Bomin. "Kemana saja kau? Aku ini selalu tampan. Kau saja yang tak menyadarinya." cibir Junho yang ditanggapi dengusan Bomin dan kekehan Byungjin. "Terserahlah. Di mana Eunjin?" "Pengantin wanita sudah siap." ucap pegawai butik. Gorden pun disibakkan. Terlihatlah Eunjin yang mengenakan gaun pengantin putih. Junho, Bomin bahkan Byungjin pun terpana. Eunjin sangat cantik. Bahkan ia belum mengenakan riasan. Apalagi bila sudah dirias. "Wuaaa Kak Eunjin kau cantik sekali!" puji Wooseok yang baru saja masuk ke dalam butik. Bomin yang duluan tersadar menoleh pada Wooseok. Sejujurnya Bomin masih marah pada bocah ini. Ini karena perkataan Nayoung kemarin bahwa Wooseok hanya menyukai tubuhnya saja. "Kenapa menatapku begitu, Kak? Kau cemburu? Tenang saja, walaupun Kak Eunjin lebih cantik darimu, hatiku tetap untukmu." ucap Wooseok penuh semangat. Byungjin segera merangkul Bomin untuk memainkan perannya. Kalian ingat bukan? Byungjin pernah mengatakan pada Wooseok bahwa Bomin miliknya. "Hei, bagaimana kau bisa menggoda wanitaku di hadapanku anak muda?" protes Byungjin main-main. Wajah Bomin memerah, walaupun tahu Byungjin hanya main-main tapi tetap saja ini membuatnya tersipu. Astaga! Sadar Bomin! Sadar! Ingat pelajaran dasar! Buang rasa malumu! Rasa malu? Hush hush sana! "Menurut kalian bagaimana?" tanya Eunjin. "Bagus! Kau cantik." puji Junho sambil menyentuh wajah calon istrinya. "Ehm, Tuan dan calon Nyonya Park, ada anak-anak." Bomin berdehem memperingatkan. Junho mengerucutkan bibirnya, tapi tak mengatakan apapun. "Kak Bomin, bagaimana kalau kau pakai yang ini? Kau pasti akan sangat cantik." ucap Taeoh sambil menunjuk ke arah salah satu gaun pengantin. "Taeoh-ya, bukan aku yang akan menikah." ucap Bomin malas. "Coba saja dulu. Nanti kau pakai di pernikahan kita, Kak." ucap Wooseok. "Kalau kau mau mencari gaun untuk pengantin wanitamu lebih baik kau carikan saja untuk Nayoung." ejek Bomin. Pfftt... Byungjin, Junho bahkan Eunjin tertawa mendengar perdebatan Bomin dan Wooseok. Oh bagus, pasti setelah ini mereka pasti akan meledeknya. "Baiklah, yang mana yang harus kupakai?" *** Drrrtt.. Drrtt.. "Halo?" Junho menerima telfon dari seseorang. Ia langsung terlihat cemas dan terus saja mengomel. "Ada apa?" tanya Eunjin. "Sepupuku pulang ke Korea untuk pesta pernikahan kita. Dia memintaku menjemputnya tapi aku sudah ada janji dengan klienku sekarang, Eunjin-ah apa kau bisa menjemputnya?" pinta Junho. "Aku juga ada operasi setelah ini. Aku tak bisa membatalkannya." Mengetahui Junho dan Eunjin yang panik, Byungjin segera mengajukan diri. "Bagaimana kalau aku dan Bomin saja yang menjemputnya? Aku dan anak-anakku juga sedang tidak sibuk hari ini." ucap Byungjin. "Apa tidak merepotkan?" tanya Eunjin. Byungjin tersenyum dan menggeleng, "Tidak, tidak merepotkan sama sekali." Bomin keluar dari ruang ganti. Masih dengan pakaian biasanya. "Kenapa kau tak mencoba gaunmu?" tanya Junho. "Ini memalukan. Yang jelas aku sudah memastikan ukurannya pas." jawab Bomin malas. "Padahal alasanku datang ke sini karena aku ingin melihatmu mengenakan gaun." Wooseok mengerucutkan bibirnya yang berbentuk love itu. 'Dan karena itu aku tak mau memakainya di depanmu!' batin Bomin kesal. "Baiklah ayo pergi." ajak Byungjin. "Kemana?" tanya Bomin heran. "Menjemput sepupumu." **** Makassar, 30 Maret 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN