Part 13 - Surprise

1061 Kata
Bomin mengajak Wooseok, Taeoh dan Byunggyu ke dalam apartemen Junho. Ia tidak ingin mereka mengacau lagi dan mengganggu Hyungseob jadi ia memutuskan untuk membawa mereka ke apartemen kakaknya. "Hahaha jadi Wooseok melempari gurumu dengan spidol?" Bomin dan Taeoh tertawa saat Byunggyu menceritakan tentang kelakuan Wooseok saat di sekolah. Bomin yang lebih dulu masuk ke ruang keluarga langsung terkejut melihat Junho dan Eunjin yang sedang ehm-berciuman-ehm. "Astaga!" Byunggyu yang juga tak sengaja melihat langsung menutup matanya dan juga mata Taeoh. Wooseok sendiri tak sempat menutup matanya, ia membeku di tempat. Bomim emosi, ia segera mendekati Junho dan Eunjin yang masih asik dan tidak menyadari kedatangannya. Ia lalu menarik kerah pakaian Junho membuat ciuman keduanya otomantis terhenti. Junho sontak terkejut dan menoleh ke belakang. "B-Bomin ..." Buagghhh... "Kalau mau melakukan hal yang tidak-tidak lakukanlah di kamar! Dasar m***m!" Junho sukses tepar di lantai akibat bogeman sayang dari Bomin. *** Eunjin dan Junho hanya bisa pasrah harus berlutut sambil mengangkat kedua tangan mereka. Ini hukuman dari Bomin. Tangan dan kaki mereka sudah pegal. Terlebih lagi rasa malu karena ketahuan dan juga harus dilihat seperti ini oleh Byunggyu dan Taeoh. "Kau! Park Junho! Kau dulu marah dan mengatakan aku merusak moral anak kecil (Wooseok) sekarang apa yang kau lakukan? Kau tentu tahu Byunggyu, Taeoh dan Wooseok sering datang ke apartemen ini tapi mengapa berani melakukan hal m***m tidak tahu tempat begitu? Kalau mau melakukan 'itu' lakukan di kamar, dasar bodoh!" marah Bomin pada Junso. Kini tatapan Bomin beralih pada Eunjin. Eunjin menunduk gugup. "Dan Jung Eunjin! Aku berharap banyak padamu. Tapi mengapa kau tak menolak saat Junho melakukan hal itu? Ckckck, kalian ini sudah akan menikah! Aku benar-benar khawatir dengan masa depan calon keponakanku nantinya." omel Bomin. Kalian pasti bertanya-tanya apa yang dilakukan para anak-anak? Mereka hanya menonton Bomin yang sedang memarahi Eunjin dan Junho dengan ekspresi takjub. "Hebat! Apa kita juga akan dibegitukan bila melakukan kesalahan nanti, Kak? Jika nanti Kak Bomin benar-benar bersama Ayah?" tanya Taeoh polos. "Aku tak tahu, tapi ia sudah melakukan hal yang benar. Kak Junho dan Kak Eunjin memang pantas dihukum!" komentar Byunggyu. Kesal karena hampir saja saudara kesayangannya melihat adegan tidak senonoh. Wooseok sendiri berbeda dengan Baekhyun dan Taeoh. Ia memeluk lutut dengan tubuh yang bergetar. Masih syok. "Mataku sudah tercemar, Ibu maafkan aku!" ucapnya sedih. Ia kembali menatap Bomin yang marah-marah. "Tapi aku tak terlalu menyesal. Tadi Kak Bomin keren sekali saat menghajar Kak Junho." ekspresinya berubah berbinar. *** Byungjin menatap foto yang ada di tangannya. Ia tersenyum lalu meletakkan kembali foto itu ke atas meja dan kembali mengerjakan laporannya. Taeil masuk ke ruang kerja pamannya sambil membawa kopi untuk Sehun. "Paman, ini kopinya." ucap Taeil sambil menaruh kopi itu di meja. "Terimakasih." Byungjim tersenyum pada Taeil lalu kembali bekerja. Mata Taeil terbelalak melihat foto di atas meja. Tapi ia tetap menjaga ekspresinya hingga keluar dari ruang kerja Byungjin. "Ini berbahaya! Tadi itu foto Bomin dan Byunggyu, kan?" gumam Taeil "Anak kecil itu! Beraninya tidur di pangkuan Bomin!" marah Taeil. "Tapi kenapa foto itu ada pada Paman Byungjin?" "Park Bomin kau benar-benar! Anak kecil bernama Wooseok itu, Paman Byungjin, dan sekarang Byunggyu? Kau ingin aku tambah gila? Mungkin tak apa bila kau mendekati pria biasa jadi aku bisa menyingkirkan mereka dengan mudah. Tapi yang berada di dekatmu sekarang adalah orang-orang terdekatku, jadi aku harus bagaimana?" *** Wooseok dijemput oleh ibunya. Ia melambaikan tangan pada Byunggyu, Bomin dan Taeoh sebelum mobilnya melaju. "Ahh, aku sangat bersyukur Gaeun dan Nayoung tidak ikut tadi. Terlebih Nayoung. Aku sangat bersyukur ia tidak ada. Kalau ia melihat yang tadi, bisa tambah rusak pemikiran anak itu." gerutu Bomin. "Sudahlah, Kak. Sudah cukup marah-marahnya. Lagipula sekarang kan Kak Bomin tidak punya pasangan karena itu kau tidak bisa mengerti Kak Junho dan Kak Eunjin." ucap Byunggyu meremehkan. Bomin berkacak pinggang dan menatap Byunggyu kesal. Suasana hatinya sudah buruk dan tambah buruk mendengar Byunggyu mengungkit status lajangnya. "Apa masalahmu? Hal seperti itu memang tidak boleh bukan? Bagaimana bisa statusku yang tak punya pasangan berhubungan dengan itu?" Bomin mengomel dengan kesal. Byunggyu mengendikkan bahunya tak peduli. Memang salahnya sih membahas tentang status hubungan di depan wanita yang sedang sensitif. Ia menggandeng tangan Taeoh dan masuk kembali ke gedung apartemen mereka. Tak memerdulikan Bomin yang mulai mencak-mencak karena diabaikan. "Hei!" *** Keesokan harinya, Bomin hanya bisa melongo melihat kedatangan Nayoung, Wooseok, Byunggyu, Taeoh dan Gaeun ke apartemen Junho. Ia memang tidak ikut mengantar dan menjemput anak-anak itu ke sekolah tadi karena sibuk dengan novel barunya. Begitu anak-anak itu masuk, Bomin langsung menarik Nayoung untuk menjauh sebentar. "Nayoung-ah? Apa yang kau lakukan pada wajahmu?" tanya Bomin, terkejut. "Kak Bomin, ingat kau harus panggil aku apa?" peringat Nayoung. Bomin memicingkan matanya. Anak ini benar-benar gila hormat. "Baik, Guru? Jadi apa yang kau lakukan pada wajahmu?" "Kak Bomin, bukankah hal ini yang biasa dipakai oleh orang dewasa? Aku merias wajahku. Bagaimana? Cantik bukan?" Nayoung memegangi wajahnya dengan bangga. Bomin hanya bisa menepuk dahinya. Tiap kali berurusan dengan anak-anak ini pasti akan membuatnya sakit kepala. "Ah iya Kak, apa menurutmu aku harus memakai bantalan di d**a agar bisa besar sepertimu?" tanya Nayoung. Bomin membelalakkan matanya. Anak ini benar-benar sudah sinting. "Apa kau bilang? Tapi kenapa?" "Sepertinya tipe wanita yang Wooseok sukai memang wanita dewasa. Dan bila melihat dari sifatmu, tidak mungkin ia menyukaimu karena itu. Jadi satu-satunya pesonamu adalah..." Nayoung memperhatikan Bomin dari atas sampai bawah. "Tubuhmu." Refleks Bomin memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya? Jadi yang disukai oleh Wooseok adalah tubuhnya? Wooseok yang melihat wajah Bomin yang memucat saat berbicara dengan Nayoung, segera menghampirinya. Takut kalau kakak kesayangannya itu dijahili oleh Nayoung. "Kak Bomin, kau tak apa?" tanya Wooseok. Bomin menatap Wooseok sinis. "Kau tak terlihat seperti orang yang seperti itu, tapi aku tak menyangka kau orang yang seperti itu Wooseok-ah!" Bomin menghentak-hentakkan kakinya berjalan menjauh dari Wooseok. "K-Kakak!" Wooseok benar-benar tak mengerti. Kenapa Bomin marah padanya? Ia berbalik menatap Nayoung dengan tatapan sinis. Pasti Nayoung yang membuat Bomin bertingkah begini. "Apa yang kau katakan pada Kak Bomin?" "Tidak ada. Aku tak mengatakan apapun." ucap Nayoung tanpa rasa bersalah. Nayoung tertawa dalam hati. Ia tahu Bomin tak menyukai Wooseok. Tapi akan lebih baik bila ia menjauhkan Bomin dari bocah laki-laki kesayangannya itu. Agar pendekatannya pada Wooseok menjadi lebih mulus. 'Hahaha! Kau memang pandai Nayoung-ah!' ia bersorak dalam hati. *** Makassar, 27 Maret 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN