Part 12 - Call Me Ssaem

1122 Kata
Bomin benar-benar tak menyukai situasi ini. Karena ia tak ingin mengganggu Eunjin dan Junso yang sibuk dengan persiapan pernikahan mereka, ia memilih mengungsi ke apartemen Yookwon dan Hyungseob. Sialnya, bukannya pulang anak-anak itu malah memaksa ikut ke apartemen sahabat-sahabatnya itu. Dan beginilah jadinya... "Wuaaa, Kak Hyungseob! Kau sangat tampan!" puji Gaeun pada Hyungseob. Hyungseob hanya tersenyum sebagai balasan dari pujian Gaeun. Walaupun ia ngeri sendiri dengan aura membunuh yang dikeluarkan oleh Byunggyu. Byunggyu berdecih, ia saja tidak pernah dipuji oleh Gaeun tapi Hyungseob yang baru bertemu langsung dipuji tampan. "Kak Bomin, kau punya banyak pria tampan yang bisa kau raih. Tapi mengapa menggoda Wooseokku?" cibir Nayoung. "Kau masih belum pulang juga? Apa ibumu tak mencarimu?" Bomin mulai kesal pada Nayoung yang terus saja mencoba membuat masalah dengannya. "Ibuku sedang berada di Belanda bersama ayahku. Lagipula bagaimana bisa aku membiarkan Wooseokku bersamamu? Kau bisa menggodanya lagi." sahut Nayoung. Bomin hanya menghela nafas. Lalu memandang Wooseok yang sedang sibuk bermain game dengan Taeoh dan Yookwon. "Kak Bomin! Kak Bomin!" panggil Byunggyu. "Ada apa?" tanya Bomin. "Aku punya sebuah ide cemerlang. Kurasa kau masih kurang agresif dalam mendekati ayahku. Nayoung sangat ahli dalam hal menjadi gadis yang genit dan agresif. Kau bisa belajar darinya." saran Byunggyu. "Apa kau bilang?" Bomin dan Nayoung berpandangan. "Apa maksudmu? Aku tak sudi mengajari selir ini ilmuku." Nayoung menolak dengan keras. "Kau pikir aku sudi belajar dari anak kecil yang genit dan dewasa di usia dini sepertimu?" balas Bomin. Byunggyu memilih untuk melerai mereka sebelum ada acara jambak-jambakan yang Wooseok katakan tadi di sini. "Nayoung-ah, Kak Bomin tak menggoda Wooseok seperti yang kau katakan. Dia menyukai ayahku. Dan untuk mendapatkan hati ayahku, ia harus bisa lebih agresif. Dan dari yang kutahu, kaulah ahlinya dalam hal itu," Byunggyu membujuk Nayoung, "Pikirkanlah, kalau Kak Bomin bersama ayahku, Wooseok pasti akan beralih padamu." Nayoung pun mulai berpikir hal-hal yang dikatakan Byunggyu cukup masuk akal. "Baiklah, tapi aku punya satu syarat. Panggil aku guru." perintah Nayoung. "Apa kau bilang ? Kau bahkan jauh lebih muda dariku dan aku harus memanggilmu guru?" Bomin melotot. "Ada apa? Kak Bomin tak menyukainya? Aku tahu Kak Bomin itu tua. Mau kuperlakukan seperti orang tua?" ejek Nayoung. Bomin menatap Byunggyu meminta bantuan. Tapi anak itu malah mengendikkan bahunya tak peduli. Hah... Bomin berjanji, bila ia dan Byungjin punya anak perempuan nanti, dia akan mendidik anaknya dengan baik agar tidak seperti Nayoung. "B-baiklah, aku akan memanggilmu guru. Ah! Mulai saja! Mulutku geli saat memanggilmu guru." Bomin merinding. Nayoung menyeringai. "Baiklah, gurumu yang cantik jelita ini akan membagikan sedikit ilmunya untukmu." ucapnya. Nayoung menengok sebentar pada Gaeun yang sedang sibuk berbicara dengan Hyungseob. Lalu beralih pada Wooseok yang masih sibuk dengan Taeoh dan Yookwon. "Pelajaran dasar. Buang semua rasa malumu. Karena jika kau menjadi gadis yang pemalu dan selalu menunggu orang yang kau sukai untuk memulai duluan, kau takkan mendapatkan apapun." ucap Nayoung. Tunggu! Membuang rasa malunya? Bukankah ia yang sekarang sudah tidak tahu malu? Bahkan ia sudah merasa urat malunya sudah putus. Apa ia harus lebih tidak tahu malu lagi? "Kurasa itu mudah untukmu, Kak," komentar Byunggyu, "Kau kan memang sedikit tidak tahu malu. Berarti sedikit lagi pelajaran dasar akan kau kuasai." Bomin mengerucutkan bibirnya. Walaupun apa yang dikatakan oleh Byunggyu itu benar, tapi tetap saja itu terdengar menyebalkan. "Kak Bomin! Kak Bomin!" panggil Wooseok. "Hm?" "Ayo ikut bermain. Kalau kau kalah, kau harus menciumku. Tapi bila aku yang kalah, aku yang akan menciummu." tantang Wooseok dengan penuh semangat. Pfftt... Yookwon dan Hyungseob menahan tawa mereka. Bukankah hukumannya sama-sama akan menguntungkan Wooseok dan merugikan Bomin? "Aku! Aku! Biar aku saja yang main." Nayoung mengacungkan tangannya, mengajukan diri dengan antusias. "Baiklah kau boleh main asal hukumannya diganti. kalau kau yang kalah kau harus menjauh dariku. Tapi bila aku yang kalah aku yang akan menjauh darimu." ucap Wooseok malas. Nayoung mengerucutkan bibirnya. Lalu menatap sengit ke arah Bomin. Bomin hanya bisa bertanya-tanya. Kali ini salahnya apa? *** Untuk menguji apa ia sudah menguasai pelajaran dasar, Bomin mengunjungi apartemen Byungjin. Ia memilih mengabaikan kehadiran Taeil. Sepertinya pria itu takkan pergi dari apartemen Byungjin selama Taeoh masih tinggal di sana. Itu berarti Bomin yang harus memulai duluan. "Kau sedang apa, Kak?" tanya Bomin pada Byungjin. "Eumm, memasak." ucap Byungjin sambil memotong-motong bahan makanan. "Ini buatanmu? Kelihatannya enak." Bomin menunjuk ke arah masakan Byungjin yang sudah jadi. "Begitulah." Byungjin tersenyum. Bomin berdehem. Ia mengingat kata-kata Nayoung. Baiklah, buang rasa malumu. "Kau yang pandai memasak, dan aku yang sangat suka makan. Hmm, bukankah kita adalah pasangan yang sempurna?" ucap Bomin. Byungjin berhenti memotong. Bomin harap-harap cemas, apa berhasil? Ya walaupun ia tak menampakkannya dari wajahnya, Bomin merasa khawatir kalau kata-katanya berlebihan. "Apa kau ... Sedang menggodaku sekarang Nona Park?" tanya Byungjin. "Begitulah, apa itu buruk?" tanya Bomin. "Tidak, aku menyukainya. Tapi kurasa itu belum cukup. Teruslah berusaha dan buat aku bertekuk lutut padamu, mengerti?" Byungjin mengedipkan sebelah matanya menggoda Bomin. Byungjin tersenyum dan meninggalkan Bomin yang melongo. "Wuaa apa itu tadi?" gumam Bomin sambil mengambil apel. "Daripada berguru pada Nayoung, lebih baik mungkin aku berguru pada Kak Byungjin. Dia benar-benar menggoda sampai aku ingin memakannya." Bomin menggigit apel di tangannya dengan ganas. *** Eunjin menatap pria di hadapannya dengan sengit. "Kau tahu bahwa aku sudah akan menikah bukan? Lalu kenapa kau masih mengejarku?" marah Eunjin. "Aku tak peduli. Sebelum kau dan calon suamimu benar-benar resmi menikah, aku masih punya kesempatan, Dokter. Walaupun kau adalah calon kakak ipar dari Penulis Park, tapi aku takkan goyah." ucap Moonbin bersungguh-sungguh. Eunjin menghela nafas kesal. "Terserah kau. Yang terpenting aku telah mengatakan padamu untuk berhenti. Kau seharusnya tak membuang waktumu untuk hal ini." ucap Eunjin. Ia berjalan meninggalkan Moonbin sambil mengomel. Seperti biasa, Moonbin selalu datang lagi ke ruangannya. Berpura-pura mempunyai penyakit jantung kronis padahal pria itu sehat. Membuang-buang waktunya yang berharga yang sebenarnya mungkin bisa digunakan untuk mengobati pasien lain hanya demi omong kosong pria itu. Ini benar-benar menyebalkan! "Eunjin-ah!" panggil seseorang. Eunjin menoleh. Wajahnya langsung cerah menyadari itu Junho. "Kak Junho!" "Kau dari mana saja? Aku datang ke ruanganmu tapi kau tak ada." tanya Junho. "Aku hanya pergi mengusir orang iseng." jawab Eunjin malas. "Aku melihat editornya Bomin di parkiran tadi. Jangan-jangan..." Junso memicingkan matanya. "Aishh, jangan berpikir yang tidak-tidak!" ucap Eunjin sebal. "Eunjin-ah, kau tahu kan kita akan menikah satu bulan lagi? Jadi tolong jauhkan pria itu darimu bila kau tidak ingin aku masuk penjara hanya karena mencolok mata pria itu." ucap Junho bersungguh-sungguh. Eunjin terkekeh. Mencolok mata mereka? Walaupun terdengar seperti bercanda, Eunjin yakin dari penekanan dalam kalimatnya Junho serius. "Baik-baik, aku mengerti. Sekarang saatnya makan siang bukan? Ayo makan!" Eunjin menggandeng tangan Junho. Mereka berjalan menuju basemen. *** Makassar, 25 Maret 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN