Byunggyu mengalihkan pandangannya pada Wooseok yang masih setia menunggu jawaban Bomin. Ia tak habis pikir pada sahabatnya itu.
"Wooseok-ah kau gila? Atau ada baut yang terlepas dari kepalamu? Kau suka wanita tua dan jelek ini?" Byunggyu memegang bahu sahabatnya itu dan mengguncang-guncangkannya. Berharap sahabatnya itu segera sadar dan menarik kembali ucapannya.
Bomin meringis dalam hati. Maaf saja bila ia tua dan jelek. Bomin berpikir untuk kabur tapi Wooseok menepis tangan Byunggyu dari bahunya dan malah menggenggam tangan Bomin.
"Apa maksudmu? Kakak ini sangat cantik tahu. Ia bukannya tua, hanya kurang muda saja." bela Wokseok.
Bukankah itu sama saja? Bomin menatap Byungjin penuh harap. Berharap pria itu cepat menoleh dan membawanya pergi dari sini. Namun sayangnya pria itu masih sibuk berbicara dengan guru genit yang tadi Byunggyu dan Taeoh ceritakan.
"Jadi bagaimana, Kak? Kau mau tidak menjadi kekasihku?" tanya Wooseok sambil mengedipkan matanya imut.
Oh tuhan ... Kalau saja Wooseok bertanya apa Bomin mau menjadi kakaknya mungkin Bomin akan mengangguk cepat dan mengiyakan tawarannya tanpa syarat. Tapi kalau jadi harus menjadi kekasihnya ... Walaupun Bomin putus asa karena tak ada kekasih pun ia takkan mau berpacaran dengan bocah.
"Ada apa ini?" tanya Byungjin. Pria itu sepertinya menyadari keributan di sisi Bomin.
"Ayah, jangan ganggu Kak Bomin. Ia dan Kak Wooseok sedang serius disini." ucap Taeoh.
"Ha?"
"Kak Wooseok meminta Kak Bomin untuk menjadi kekasihnya." ucap Taeoh lagi.
"Ya, Paman. Kami cocok bukan?" Wooseok berdiri di samping Bomin sambil memegang tangan gadis itu.
Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Bomin. Ia menatap Byungjin meminta bantuan. Namun tak sesuai dengan harapannya, Byungjin malah menatapnya tak percaya.
"Bomin-ssi, kau.... seorang p*****l?" tanyanya terkejut.
Astaga! Orang yang kau sukai mengataimu p*****l? Tamat sudah hidupmu!
***
Setelah menjelaskan semuanya, akhirnya Byungjin mengerti apa yang terjadi. Dan Byungjin bilang ia juga memang hanya bercanda saat mengatakan Bomin p*****l. Walaupun Bomin tak yakin pria itu benar-benar hanya bercanda.
Sepulangnya dari sekolah, Byunggyu memberi peringatan pada Bomin agar menjauhi Wooseok. Tanpa di beri peringatan pun sebenarnya Bomin akan langsung menjauhi bocah itu. Ternyata Wooseok bahkan lebih muda dari Byunggyu. Byunggyu bilang Wooseok itu memang pandai di pelajaran tapi sifat aslinya ia terlalu polos. Jadi Bomin tak boleh mengatakan hal yang bisa membuatnya sakit hati kecuali bila Bomin ingin dibunuh oleh Byunggyu.
Namun semenjak hari itu, Wooseok jadi sering datang berkunjung ke apartemen mereka. Awalnya Byunhgyu senang karena ia bisa bermain dengan Wooseok setiap hari. Namun setelah mengetahui tujuan Wooseok adalah bertemu Bomin, Byunggyu jadi makin kesal pada Bomin.
Padahal hubungan Bomin dan Byunggyu sudah mulai membaik. Namun harus kembali merenggang karena ujian imut yang menghalangi misi Bomin.
"Kak Byunggyu, menurutmu Kak Bomin suka laki-laki yang seperti apa?" tanya Wooseok.
Walau dengan ketus, Byunggyu tetap menjawab.
"Yang tinggi, tampan, dan mapan seperti ayahku." ucapnya.
Bibir Wooseok mengerucut. Ia tak sesuai dengan kriteria pria idaman Bomin. Ia memang tampan, tapi tidak mapan dan tinggi.
"Kak Byunggyu, apa kau tahu cara agar aku tinggi dengan cepat?" tanya Wooseok.
"Pakailah high heels milik ibumu. Aku yakin kau akan jadi lebih tinggi dengan cepat." ucap Byunggyu malas.
Wooseok mengangguk-angguk mengerti. Byungjin yang mendengar percakapan mereka sebenarnya sangat ingin menjitak kepala anaknya karena memberi saran yang t***l begitu. Tapi biarlah, ia yakin Wooseok juga takkan melakukan hal itu.
***
Bomin menatap Wooseok tak percaya. Begitupun Eunjin dan Junho saat melihat tamu mereka. Ternyata Byungjin salah, Wooseok benar-benar melakukan seperti yang Byunggyu katakan. Ia memakai high heels 11 cm milik ibunya dan datang ke apartemen Bomin.
"Wooseok-ah ... A-apa yang kau lakukan?" tanya Bomin terbata-bata.
Tentu saja terbata-bata. Menurutmu kau takkan terkejut melihat anak laki-laki berusia sembilan tahun muncul di depan apartemenmu sambil memakai high heels yang bahkan kau sendiri tak pernah memakai yang setinggi itu?
"Kak Bomin, apa aku sudah masuk dalam kriteria pria idamanmu? Kak Byunggyu bilang kau suka pria yang tinggi. Karena aku pendek jadi ia menyarankanku memakai high heels ibuku." ucap Wooseok polos.
Bomin melongo. Tapi ia merasakan hawa tak menyenangkan di belakangnya.
"Park Junho, kenapa kau menatapku begitu?"
"Apa yang kau lakukan pada bocah ini hah! Kenapa ia bahkan sampai pakai high heels untukmu? Kau mau merusak moral anak kecil tak berdosa ini?" Junho menjewer telinga Bomin dengan keras.
"Astaga! Sakit! Sakit! Bukan aku! Bukan aku! Kau tak dengar tadi yang menyarankannya memakai high heels itu Byunggyu, bukan aku!" Bomin berusaha melepaskan diri dari Junho.
"Tetap saja ini salahmu! Ia melakukannya untukmu bukan?"
Eunjin hanya bisa menghela nafas sambil menutup mata Wooseok dengan tangannya agar anak itu tak melihat pertengkaran Junho dan Bomin. Oh tuhan, apa orang-orang ini tak tahu bahwa di depan mereka ada anak dibawah umur yang melihat pertengkaran mereka?
***
Eunjin mengangguk mengerti. Ia sekarang tahu mengapa Wooseok melakukan hal itu.
"Kau tahu, aku merasa kasihan pada anak itu karena harus menyukai gadis yang jelek, garang dan lebih tua sepertimu." ejek Junho.
Bomin mendesis hendak maju dan memukul Junho. Tapi melihat tatapan tajam Eunjin, ia kembali duduk di sofa.
"Menurutmu apa yang harus kulakukan? Aku tak tega merusak masa cinta pertama anak itu." tanya Bomin.
Eunjin dan Junho mulai berpikir. Mencari solusi untuk permasalahan Bomin.
Eunjin lebih dulu memberi ide, "Kau bilang saja kau sudah punya kekasih. Dan katakan padanya kalau ia seharusnya menyukai gadis yang seumuran dengannya."
"Menurutmu ia akan mendengarkanku?" tanya Bomin.
"Eum, tapi ... Kau yakin tak ingin menerimanya saja? Orang yang menyukaimu hanya bisa muncul seribu tahun sekali." cibir Junho.
Bomin melotot. Junho menjulurkan lidahnya mengejek Bomin membuat gadis itu semakin geram.
Mengetahui keduanya akan kembali mulai saling jambak, Eunjin segera menghentikan mereka, "Sudahlah. Sekarang temui anak itu. Ia ada di apartemen Tuan Oh."
***
Ting tong...
Bomin menekan bel pintu dengan pelan.
Seperti biasa, Byunggyu yang membukakan pintu untuknya.
"Ada apa?" tanya Byunggyu ketus.
"Bisa panggilkan Wooseok? Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya."
"Tidak mau! Kak Bomin akan menyesatkannya lagi bila ia kubiarkan betemu denganmu!"
Bomin memutar bola matanya. Sebenarnya siapa yang menyesatkan Wooseok sampai membuatnya memakai higheels tadi pagi?
"Oh, bekerja samalah! Ini agar sahabatmu itu tak menyukaiku lagi."
Byunggyu terdiam, lalu masuk ke dalam apartemen untuk memanggil Wooseok.
Wooseok menghampirinya dengan mata yang berbinar. Wooseok mungkin ia berpikir kalau saran Byunggyu untuk memakai high heels tadi itu berhasil. Jujur tatapan memuja anak itu membuat Bomin tak tega.
"Ada apa, Kak?"
"Wooseok-ah, aku minta padamu untuk berhenti menyukaiku dan memintaku menjadi kekasihmu."
"Kenapa?"
"Kau lebih muda dariku. Jauh lebih muda. Seharusnya kau menyukai gadis yang seumuran denganmu, mengerti?" Bomin mengucapkan kalimat yang persis seperti yang Eunjin sarankan tadi.
Bibir Wooseok mengerucut. Oh manisnya! Jiwa keibuan Bomin menjerit. Ahh seandainya Wooseok itu anaknya.
"Tidak mau!"
"Wooseok-ah..."
"Tidak mau! Ini perasaanku. Kakak tak berhak mengaturku."
Tunggu! Bukannya Byunggyu bilang Woooseok itu polos? Tapi kenapa begini? Bomin kira bocah ini akan langsung mengangguk dan kembali bermain. Ah, sudahlah...
"Wooseok-ah, Kakak sudah punya kekasih jadi kau tak boleh menyukaiku."
"Biarkan saja."
Oh baiklah, ini mulai menyebalkan.
"Tapi kekasihku akan marah kalau tahu kau menyukaiku." ucap Bomin lagi.
"Memangnya siapa kekasih Kakak?"
Iya juga, Bo Mi lupa memikirkan hal itu. Apa nama Yookwon saja yang ia sebut? Ah, jangan! Bahkan untuk pura-pura pun Bo Mi tak mau jadi kekasih sahabatnya yang tengil itu. Atau Hyungseob? Ah iya!
"Namanya—"
"Itu aku."
Bomin merasakan pundaknya dirangkul oleh seseorang. Bomin menoleh dan mendapati Byungjin yang merangkulnya.
"Jadi Paman kekasihnya Kak Bomin?"
"Ya, aku kekasihnya."
Wajah Bomin memanas. Oh, ayolah! Byungjin hanya membantunya agar Wooseok tak menyukainya lagi.
Berbeda dengan ekspektasi Bomin bahwa Wooseok akan melawan Byungjin demi dirinya, Wooseok hanya mengangguk-angguk dengan mata penuh tekad.
"Baiklah, Kak. Untuk kali ini aku akan mengalah. Tapi aku berjanji aku akan merebutmu dari Paman Byungjin bila aku sudah menjadi pria yang sesuai dengan kriteriamu." ucap Wooseok.
Dan akhirnya Bomin hanya bisa melongo. Sudah? Begitu saja? Ah sudahlah, memang tak ada yang normal di hidupnya. Bomin hanya memasang ekspresi datar dan masuk kembali ke apartemennya tanpa mengucapkan apapun.
***
Makassar, 23 Februari 2016