“Hai...” Rakha tersenyum sambil berjalan mengikuti mereka.
“Mengagetkan saja kau.” Juna kaget sambil melirik Rakha.
Rakha hanya tertawa kecil. Saat itu rasa gugup Luna mulai tampak lagi, ketika Luna menatap mata Rakha. Luna pun salah tingkah, jantungnya berdebar, tangannya semakin dingin, tanpa ia sadari, langkah kakinya semakin cepat dan Luna berlalu begitu saja saat Juna dan Rakha asyik berbincang.
“Lho, si boss mana?” Juna baru menyadari bahwa Luna sudah hilang dari pandangan.
“Wow... Jalannya secepat kilat, memangnya seperti itu, Jun?” Rakha merasa heran sambil tertawa kecil, karena melihat tingkah Luna.
“ Biasanya sih enggak, benar kata Vina, Luna belakangan ini aneh dan kadang sering salah tingkah.” Juna mulai mencurigai ada yang tidak biasa dengan sikap Luna.
“Masa sih?” Rakha mulai bertanya-tanya, kira-kira apa yang sedang terjadi pada Luna. Karena Rakha begitu peduli dengan Luna. Lalu Juna berbisik pada Rakha dengan raut wajah yang serius.
“Kayaknya si Luna lagi puber, dia sering salah tingkah, coba saja kamu perhatikan!”
“Kamu juga aneh Jun, ya biar saja lah, itu kan urusan Luna, hahaha...” berlagak tertawa padahal Rakha penasaran juga.
Obrolan mereka berlanjut sampai ke dalam kelas.
“Begini lho Rakha, asal kamu tahu, yang suka sama Luna itu banyak, termasuk si Prima.”
“Prima ketua kelas kita? Kapten sepak bola Like FC?” Raut wajah raka berubah karena terkejut dan mulai galau.
“Iya, dari dulu yang perhatian sama Luna banyak. Tapi tampaknya Luna belum pernah jatuh cinta, atau hanya sekedar ngefans juga belum pernah.”
“Terus?”
“Dia masih pada prinsipnya, fokus sama prestasi.”
“Berarti, kalau bersahabat sama kita kira-kira bagaimana?” Rakha begitu penasaran.
“Kalau sahabat yang dekat sama dia, ya aku sama Vina, belum pernah melihat Luna dekat dengan siswa laki-laki lain, entah dari club Like FC, atau lainnya. Makanya aku heran sama sikap Luna belakangan ini, enggak seperti biasanya.”
Obrolan antara Juna dan Rakha pagi itu, membuat Rakha galau dan semakin membuatnya penasaran tentang Luna. Semakin lama Rakha mengenal Luna, semakin membuat Rakha berpikir bahwa Luna sangat misterius, karena menurut pandangan Rakha, Luna merupakan tipe perempuan yang bisa menyembunyikan suasana hatinya dibalik keceriaannya.
Hari ini giliran kelas Luna berolahraga, seperti biasa guru Penjas memberikan arahan stratching agar tidak terjadi kram atau cedera sewaktu berolahraga. Setelah itu guru Penjas memberikan materi tentang sepak bola dan mempersilahkan murid kelas 2 IPA 1 untuk mempraktikkannya. Luna yang gemar berolahraga futsal terlihat lincah saat menendang bola. Saking serunya siswa siswi bersepak bola, tak terasa bel istirahat sudah berbunyi. Namun mereka masih asyik bermain sepak bola. Sampai akhirnya banyak siswa siswi dari kelas lain untuk menontonnya. Tak terkecuali Rakha. Ia selalu memperhatikan Luna yang sangat bersemangat dan penuh keceriaan.
“Lunaaa....” Suara Juna memecah keramaian.
Dari kejauhan Luna hanya melambaikan tangan ke arah Juna. Kemudian Juna melambaikan tangan pada Luna, agar Luna menghampirinya. Luna dan Vina berlari menemui Juna.
“Apa?” Luna duduk ditepi lapangan sambil beristirahat.
“ Pengumuman sudah dipasang di mading atau belum?” Juna menanyakan maksudnya pada Luna.
“Astaghfirullah... Ya ampun, Juna ,aku Lupa.” Wajah Luna berubah panik.
“Ya sudah ,boss istirahat dulu saja, biar aku sama Rakha yang mengurusnya, tapi jadi kan rapatnya?”
“ Wah, terima kasih banyak Juna dan Rakha.” Luna terlihat sangat lega, kemudian ia dan Vina kembali ke kelas.
Semilir angin yang berhembus, memberikan kesejukkan diantara teriknya Matahari siang ini. Sepulang sekolah, Luna dan anggota tim redaksi telah berkumpul untuk membahas jadwal peliputan acara dies natalis sekolah. Setelah mereka melihat jadwalnya, dimulai lah diskusi itu.
“Nah, teman-teman sudah baca semua kan? Jadi nanti pada pelaksanaannya, masing-masing tim meliput sesuai jadwal yang sudah disepakati, tetapi ketika waktu peliputan bentrok dengan jadwal pertandingan kelas dan kalian juga ikut berpartisipasi dalam pertandingannya, maka tugas kalian akan di handle dan dikerjakan teman satu timnya ya!”
Luna menjelaskan kepada semua tim redaksi. Ketika Luna memaparkan semua hal yang menjadi bahan diskusi, Rakha selalu memperhatikan. Rasa kagum terhadap Luna semakin dalam.
“Semangat kan kawan?” Dengan penuh semangat Luna bertanya pada anggotanya.
“Semangat!” Kekompakan tim redaksi yang selalu terlihat semangat. Mereka sudah siap untuk liputan dies natalis yang akan dimulai hari senin.
Waktu serasa cepat berlalu, siang telah berganti senja. Rasa lelah menjalankan kegiatan hari ini mulai dirasakan Luna. Setelah rapat redaksi selesai, Luna mulai bersiap untuk pulang, namun ada sesuatu yang Luna pikirkan saat itu. Ia memikirkan bagaimana caranya menjalankan peliputan dies natalis sekolah bersama Rakha. Ia juga memikirkan apakah masih bisa menyembunyikan rasa gugupnya ketika menatap Rakha. Hatinya galau, Luna mulai menyadari kehadirn Rakha dalam hatinya. Karena apa yang Luna rasakan ketika bertemu dengan Rakha, tak ia rasakan ketika bertemu teman yang lain. Namun ia belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi dengan hatinya.
Perlahan Luna berjalan menyusuri lorong diantara ruang-ruang kelas menuju halaman sekolah. Semburat mega jingga mulai menyinari wajah Luna. Hari semakin sore, ketika Luna berjalan melewati area parkir sekolah, ia menoleh kesana. Namun ia tak melihat Rakha di sana.
“Luna...Luna, mikir apa sih kamu, huft...!!!” Ia berbicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum heran. Luna seolah berharap Rakha menunggunya seperti hari kemarin. Walau saat bertemu Rakha ia selalu gugup dan salah tingkah. Luna melanjutkan perjalanan menuju halte sekolah. Sesampainya di luar gerbang sekolah, Luna melihat ke arah halte sekolah. Ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya ampun, Luna kamu mikir apa lagi sih? Eeiitttss... Jangan GR dulu, bisa saja dia menunggu seseorang dan bukan kamu Luna.” Luna menggerutu berbicara pada dirinya sendiri sambil menahan senyum, karena Luna melihat Rakha didekat halte sekolah. Luna kembali berjalan, seolah tak terjadi sesuatu ia berjalan dengan santai. Langkah Luna semakin dekat ke arah Rakha, Luna mulai menatap Rakha yang tersenyum padanya.
“Hai...” Kata sapaan andalan Rakha.
“Hai... Rakha, kamu sedang apa disini?” Luna berusaha berdamai dengan hatinya, sesungguhnya Luna sangat berusaha menutupi rasa gugupnya di depan Rakha.
“Nunggu...kamu.” Tanpa basa basi Rakha mengatakan yang sebenarnya.
“Nunggu... Aku? Ada apa ya Rakha?” Hati Luna semakin berdebar, entah apa yang ia rasakan pun tak bisa tersirat dengan jelas.
“Enggak apa-apa, hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Rakha terlihat gugup namun selalu menutupinya dengan senyuman.
“Hmmm... Ada-ada saja, aku cukup baik.” Luna tersenyum malu.
“Kamu nunggu angkutan umum?” Rakha kembali bertanya pada Luna pertanyaan retoris.
“Hahaha... Iyaaa Rakha, kalau aku berjalan kaki pasti sangat lelah.”
“Kalau begitu biar aku antar saja ya!”
“Hmmm... Baiklah.” Luna berusaha menjaga image nya, tersenyum kecil, menahan rasa senangnya.
Tak menyangka akan diantar pulang Rakha untuk kedua kalinya, dan andaikan saat itu Luna bisa mengekspresikan dirinya, pasti dia akan jingkrak-jingkrak kegirangan.