Salah Tingkah

1325 Kata
Deras hujan yang turun siang itu, seakan memberi isyarat pada bumi, bahwa langit merindukan kehadiran sang mentari. Begitupun yang terjadi pada Rakha, ia semakin mengagumi gadis manis itu. Angin yang berhembus seolah memecah barisan rintik hujan yang seakan memberi isyarat akan kehadiran seseorang yang dinantikan. Derasnya rintik hujan siang itu tak membuat Rakha goyah untuk menantikan sang penyemangat hati. Ia berteduh di area parkir sekolah, dari kejauhan ia melihat si gadis manis berlari diantara rintik hujan. Baru kali ini Rakha memberanikan diri untuk bersahabat dengan teman perempuan. Rakha merasa kagum dan ingin sering berbincang atau sekedar bertukar pengalamannya dengan sang penyemangat hatinya atau mungkin perasaan lain yang sebenarnya ia rasakan. Kemudian Rakha memanggil namanya diantara derasnya hujan. “Lunaaa...” Sambil melambaikan tangan ke arah Luna. Derasnya rintik hujan seakan menggambarkan kegelisahan hati Luna. Tampaknya Luna masih belum bisa menyembunyikan sikapnya yang selalu gugup saat bertemu Rakha. Luna berlari di antara rintik hujan yang semakin deras ketika melewati area parkir sekolah. Tak lama kemudian terdengar seorang siswa memanggil namanya. Spontan Luna menoleh dan mencari sumber suara. Dari kejauhan tampak samar, seolah rintik hujan menyembunyikan parasnya. Tak disangka yang memanggilnya adalah Rakha. Luna sangat kaget, tangannya semakin dingin, jantungnya berdebar tak beraturan, pikirannya kalut, kegelisahan berkecamuk dalam hatinya. Luna bingung apakah ia akan menghampiri Rakha, atau bahkan lari menghindar. Ia berhenti sejenak, Luna mencoba berpikir tenang, kemudian ia memilih untuk menghampiri Rakha. “iya, Rakha.” Luna memberanikan diri menemui dan melawan rasa gugupnya sambil tersenyum menyapa Rakha. “Maaf Luna, sebaiknya kamu berteduh dulu di sini, lihat saja hujan semakin deras.” Rakha seolah mengingatkan Luna untuk berteduh, padahal Rakha ingin ngobrol dengan Luna diantara rintik hujan saat itu. “Tapi hari semakin sore dan aku sudah terlanjur kehujanan, jadi tidak apa aku pulang saja.” Luna takut tak bisa menutupi rasa gugupnya, sehingga ia memilih untuk pulang walau hujan masih deras dan sangat dingin. “Kalau begitu boleh aku antar kamu pulang?” Deg !!! Luna kaget, ia merasa antara bahagia dan gugup, namun sulit mengartikan apa yang ia rasakan. Ia memberanikan diri untuk menatap Rakha. “Tapi bukannya arah jalan pulang kita berbeda?” “Iya benar, tapi hari semakin sore, angkutan umum sudah semakin jarang, apa lagi setelah hujan deras seperti ini, enggak usah sungkan.” Rakha kembali tersenyum pada Luna. Tampaknya Rakha mulai merasa gugup ketika melihat tatapan mata Luna yang lembut namun seolahmenyimpan berjuta makna. Saat itu Rakha berusaha berdamai dengan perasaannya yang kian berkecamuk. Sesungguhnya jantung Luna seakan mau copot, karena saat itu Rakha benar-benar terlihat sangat karismatik. Tatapan mata Rakha seolah menyiratkan perasaan lain yang ia sembunyikan dibalik senyuman. Hal itu membuat Luna salah tingkah dan gagal fokus. Tapi apalah daya, Luna hanya bisa berpura-pura bersikap sewajarnya, untuk menutupi kegelisahan hatinya. “Ya, baiklah, kalau begitu kita tunggu sampai hujan agak reda!” Luna sambil berdiri di dekat motor Rakha dan melihat langit. Sesekali ia melirik ke arah Rakha. “Oke, Luna.” Rakha berdiri diseberang Luna sambil mengawasi derasnya hujan. Dalam hati Luna dan Rakha, hujan sore itu adalah hujan terindah yang pernah mereka lalui. Waktu seakan cepat berlalu, derasnya hujan berganti rintikan gerimis kecil yang menghiasi sore itu. Udara dingin yang berhembus melalui celah-celah ranting pepohonan, seakan menambah keindahan dan menyejukkan hati. Senja mulai terlihat di ufuk barat, semburat jingga yang menyinari bumi seusai hujan membuat pelangi muncul menghiasi langit sore itu. Rakha mengantar Luna pulang, perjalanan dari sekolah kerumah Luna sore itu adalah hal terindah dan pertama untuk Luna. Karena Luna belum pernah diantar pulang oleh teman laki-laki. Begitu pula dengan Rakha, ini adalah pengalaman pertama Rakha mengantar pulang seorang gadis. “Terima kasih, Rakha.” Luna tersenyum didepan gerbang rumahnya, sesaat setelah turun dari motor Rakha. Walau rasa gugup itu masih ada, namun sudah tak seperti sebelumnya. “Iya Luna, sampai jumpa besok.” Rakha mulai gugup setelah melihat senyum Luna, pantulan seberkas cahaya jingga di wajah Luna, membuat Luna terlihat sangat manis. Setelah Rakha mengendarai motornya untuk pulang, Luna memasuki rumahnya. “Asaalammu'alaikum, Mama, Papa, Luna kehujanan.” “Wa’alaikumsalam, basah kuyup begitu nak? Memangnya tidak berteduh dulu?” “Sudah terlanjur basah, Ma, ya sudah Luna lanjutkan saja pulang ke rumah.” “Ya sudah, ayo cepat mandi, Mama sudah siapkan air hangat, jangan lupa sholat ashar, Nak!” “Iyaaa, Mama.” Sambil tersenyum dan semangat Luna langsung menuju kamar mandi. Senja telah berganti malam, sesaat setelah Luna selesai belajar, ia mulai mengingat perjalanan disenja itu. Luna tak pernah membayangkan sebelumnya, kalau ia akan sedekat itu dengan Rakha. Seseorang yang selalu Luna amati tingkah lakunya, seseorang yang selalu membuatnya gugup dan salah tingkah. “Kok bisa-bisanya, hari ini aku diantar pulang oleh Rakha.” Luna bergumam dalam hati sambil mengingat tatapan Rakha. “Aaarrrggghhh... Tatapan itu membuatku terbayang-bayang Rakha. Ada apa dengan ku?” Sambil menutupi wajahnya dengan bantal, ia berbicara pada diri sendiri. Raut wajah Luna menyiratkan kegalauan dalam hatinya. Luna belum bisa jujur pada hatinya tentang apa yang ia rasakan. Malam itu Luna benar-benar galau dengan hatinya. Ia merasa bahagia namun juga merasa aneh dengan perasaannya semenjak Rakha muncul dalam kehidupannya. Ia mencoba mengartikan maksud hatinya. Sambil memutar lagu-lagu yang sesuai dengan suasana hati. Ia menikmati kegelisahan yang sedang ia rasakan. Lain halnya dengan Rakha, malam ini ia merasa sangat bahagia, karena ia berhasil menaklukan rasa gugupnya didepan Luna. Ia mengingat kembali masa-masa itu. Si gadis manis yang ia lihat dihari pertama sekolah ialah Luna. Awalnya Rakha yang sedang berjalan menuju kelasnya melihat Luna diseberang kelas. Lalu sesaat setelah bel berbunyi, entah mengapa Rakha ingin menoleh ke arah jendela diseberang sana. Berawal dari senyum gadis manis di balik jendela. Rakha merasa sangat terpesona. Rakha belum pernah jatuh cinta, jangankan jatuh cinta, ia selalu merasa gugup dan tidak nyaman jika didekati teman perempuan. Namun kali ini hati Rakha merasa sangat sejuk saat melihat senyuman itu. Rakha berniat mencari tahu nama gadis itu. Akhirnya ia mengikuti kemanapun siswi itu berjalan. Ia berniat berkenalan, namun bingung harus bagaimana, karena mereka tidak satu kelas. Saat Rakha melihat si gadis manis keluar dari ruang guru, ia sengaja menabraknya, karena dengan begitu ia akan berkenalan dan mengetahui nama gadis manis itu. Rakha pun tak mengerti mengapa ia senekad ini. “Aku enggak percaya, bisa senekad ini, hanya karena ingin berteman dekat dengan Luna. Tapi memang saat aku bertemu dia, entah mengapa aku merasa lebih semangat untuk menjadi lebih baik.” Rakha berbicara pada dirinya sendiri sembari mengingat senyuman Luna. Adzan subuh berkumandang, waktunya beribadah sholat subuh sebagai salah satu kewajiban umat islam dan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah karena masih memberi kesempatan kita untuk bernafas hari ini. Semburat kemerahan terlihat di ufuk timur dan mentari mulai menampakkan senyumnya. Namun dinginnya kabut menyelimuti pagi ini. Semangat yang selalu terpancar di wajah Luna, kini telah kembali. Setelah belakangan ini Luna terlihat galau dan semangatnya terlihat semu. Hari ini seperti biasa Luna dengan mantap melangkah keluar rumah untuk berangkat ke sekolah. Setibanya di gerbang sekolah, Luna berjalan sambil melihat ke tempat parkir sekolah. Ia berharap melihat Rakha, walau masih ada perasaan gugup yang mengganggu dalam hatinya. Benar saja pagi itu Rakha sudah berada di tempat parkir sekolah, Luna pura-pura tak melihatnya. Ia terus saja berjalan tanpa menoleh sekelilingnya. Luna mulai gugup, ia bingung kalau Rakha menghampirinya. “Luna...Luna tunggu!” Mendengar seseorang memanggilnya, Luna berhenti sejenak, mengambil nafas dalam-dalam lalu menoleh ke belakang. “Eh ... Juna, aku pikir siapa, hehehe...” “Memangnya siapa?” Juna terlihat bingung. “Oh...Enggak apa-apa kok.” Sambil tersenyum, Luna merasa malu pada Juna. “Yuk, ngobrolnya sambil jalan ke kelas.” “Baiklah sobat.” Luna sudah menganggap Juna sebagai sahabatnya. “Oh iya boss, jadwal dies natalis sudah ada.” “Oke, nanti sepulang sekolah kita rapat lagi di sekretariat redaksi, kamu buat pengumuman di grup WA, nanti aku buat pengumuman di mading.” Mereka asyik berbincang sambil berjalan menuju kelas. Tak lama kemudian ada yang menepuk pundak Juna, mereka pun menoleh ke arah tangan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN