Perkenalan

1293 Kata
Luna selalu bersemangat ketika pergi ke Sekolah. Begitu juga pagi ini, Luna bersemangat namun ada kegelisahan dalam hatinya, ia bingung harus bersikap seperti apa ketika bertemu dengan Rakha. Karena memang begitulah adanya, ketika hati telah merasakan sesuatu yang berbeda pada seseorang , terkadang sikap kita tidak bisa menutupi apa yang dirasakan oleh hati, maka yang terjadi adalah sikap salah tingkah. Luna hanya tak ingin sikapnya membuat orang lain salah paham, atau bahkan merasa tidak nyaman. Karena Luna pun belum tahu pasti perasaan apa yang sedang ia alami. Hari ini Luna akan bertemu dengan tim redaksi sepulang sekolah untuk membahas anggota baru redaksi sekolah dan kegiatan redaksi yang akan meliput kegiatan dies natalis sekolah. Di sisi lain, seperti biasa Rakha berangkat pagi dan menunggu si gadis manis dari tempat parkir sekolah. Karena setiap siswa atau guru yang melewati gerbang sekolah pasti akan terlihat dari tempat parkir sekolah. Saat itu ia berniat memberikan formulir pendaftaran anggota baru tim redaksi sekolah pada Luna. Maka setelah ia melihat Luna berjalan melewati tempat parkir, ia langsung memanggilnya sambil mengejarnya. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Luna berjalan sambil terus memikirkan perasaan galau dalam hatinya. Luna berusaha berdamai lagi dengan hati dan pikirannya. berusaha bersikap seperti biasanya, tetapi Luna ragu, apakah bisa atau tidak bersikap sewajarnya. Luna melangkah menapaki jalan menuju kelasnya. Saat Luna berjalan melewati tempat parkir sekolah tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. “Luna.” Luna yang sedang berjalan sambil memikirkan perubahan sikapnya ketika bertemu Rakha, tiba-tiba menyadari ada siswa yang memanggil namanya. Kemudian ia menoleh dan melihat sekeliling untuk mengetahui sumber suara. Terlihat dari kejauhan seseorang melambaikan tangan dan berjalan menghampiri. “Luna, ini formulir pendaftaranku untuk anggota baru tim redaksi sekolah.” Ternyata seseorang yang memanggil Luna dari tempat parkir adalah Rakha. Luna yang kaget dan tiba-tiba gugup saat itu hanya melontarkan senyum sambil menerima formulir yang di berikan Rakha. “Oke, terima kasih.” Jawaban Luna sangat singkat dan ia kembali berjalan menuju kelasnya. Wajah Luna pucat, telapak tangannya sangat dingin, jantungnya berdegup sangat cepat, ia sengaja buru-buru berjalan ke kelasnya, karena ia menghindar dari Rakha. Sebab Luna takut perubahan sikapnya itu terlihat oleh Rakha. Menurutnya Rakha adalah seseorang yang baru ia kenal. Maka akan sangat aneh jika terlihat salah tingkah. Saat itu Rakha melihat wajah Luna yang pucat dan sikap Luna yang terlihat tidak semangat, membuat Rakha berpikir apa yang sebenarnya terjadi. “apakah mungkin Luna sedang tidak enak badan?” Rakha menerka-nerka dalam hati, tentang sesuatu yang mungkin terjadi pada Luna. Kemudian Rakha terus berjalan menuju kelasnya. Ketika melewati kelas Luna, Rakha menoleh sambil melihat ke dalam kelas Luna, untuk memastikan apakah Luna baik-baik saja atau mungkin ia tak ada dikelas alias berada di UKS. Namun Rakha melihat Luna berada di dalam kelas dan terlihat baik-baik saja. “Syukur lah, Luna baik-baik saja.” Setelah memastikan Luna ada di kelas dalam keadaan baik, maka Rakha segera menuju ke kelasnya. Jam pelajaran pertama dan kedua terlewati dengan baik. Bel istirahat pun berbunyi, pertanda jam pelajaran kedua telah usai. “Luna, ke kantin yuk!” Vina mengajak Luna pergi ke kantin. “oke, tapi temani aku mampir ke kantor dulu ya, mau ketemu sama pak Broto.” “baiklah.” Sambil mengacungkan jempol Vina tersenyum pada Luna. Sebelum pergi ke kantin, Luna dan Vina bergegas pergi ke kantor untuk menemui pak Broto. Pak Broto adalah pembina redaksi sekolah, Luna dan timnya berniat mengadakan perkenalan untuk anggota tim redaksi yang baru mendaftar sekaligus untuk membahas peliputan dies natalis sekolah yang akan segera dilaksanakan. Ternyata pak Bro (sapaan untuk pak Broto) menugaskan Luna untuk segera membentuk beberapa tim redaksi, dan segera mempersiapkan materi agar pelaksanaan peliputan kegiatan dies natalis sekolah berjalan dengan baik. Karena mendadak, maka Luna memutuskan membuat pengumuman yang akan ia pasang di mading sekolah untuk mengumpulkan seluruh anggota redaksi senior dan anggota baru agar berkumpul di sekretariat seusai pulang sekolah. Luna telah menempelkan pengumuman di mading, ia juga membuat pengumuman di grup WA redaksi sekolah. Setelah itu Luna dan Vina makan di kantin sekolah. Vina memulai obrolan dengan Luna, karena belakangan ini Vina melihat sikap aneh Luna. “Luna, apa kamu baik-baik saja?” “Baik kok, Vin, memangnya kenapa?” Luna bingung dan heran dengan pertanyaan Vina. “Ya syukurlah kalau baik-baik saja, soalnya sikap kamu belakangan ini kelihatan aneh.” Vina berbisik sambil tertawa. “Masa sih, Vin? Enggak aneh kok, hehehe....” Luna menjawab pertanyaan Vina sambil tertawa dan raut wajahnya mulai memerah. “Itu kan wajah mu memerah lho.” Vina semakin penasaran dengan Luna. “Ah pokoknya mau aku selidiki.” Vina mulai menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada sahabatnya. “Hahaha... Apanya yang harus diselidiki, Vin? Kamu aneh-aneh saja.” Luna tertawa menyeringai sambil melirik Vina. Sedang asyiknya mengobrol tiba-tiba Luna melihat Juna dan Rakha berjalan menuju kantin. Luna berbisik dalam hati sambil menatap Rakha yang terlihat sangat karismatik dan tampan. “Aduh... Gawat, jantungku mulai berdebar tak karuan.” Rupa-rupanya rasa itu muncul lagi ketika Luna berhadapan dengan Rakha. Luna berusaha menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya. Luna pun berdoa pada Allah, agar Luna tak salah tingkah. Luna berusaha bersikap seperti biasa, padahal yang ia rasakan dalam hati adalah perasaan yang amat berkecamuk. Benar saja, Juna dan Rakha menyapa mereka berdua, kemudian Juna menanyakan pengumuman yang Luna pasang di mading sekolah. Luna menjelaskan pada Juna untuk berkumpul di sekretariat sepulang sekolah. Hari semakin siang, namun siang itu sangat mendung. Angin yang berembus begitu dingin, awan mendung yang bergerak seolah terlihat sangat dekat. Rintik gerimis mulai datang ketika Bel pulang sekolah berbunyi. Gerimis semakin deras, seolah mengiringi Luna yang berjalan menuju sekretariat redaksi. Setibanya di sana, Luna dan beberapa anggota redaksi langsung menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk pembahasan acara siang itu. Tak lama kemudian seluruh anggota redaksi baru dan senior sudah berkumpul. Acara pun dimulai, Luna membuka acara siang itu. Walau Luna seorang perempuan, namun Aura kepemimpinan yang terpancar dari gadis itu membuat seluruh anggota sangat kagum dan menghormati cara kepemimpinan Luna. Bahasanya yang santun dan tegas membuat seluruh anggota semakin yakin dengan kepemimpinan Luna. Perkenalan antar anggota redaksi pun berjalan dengan baik. Kemudian seluruh anggota redaksi telah sepakat membentuk lima tim redaksi untuk meliput kegiatan dies natalis sekolah. Masing-masing terdiri dari empat anggota, dengan formasi dua anggota senior dan dua anggota junior. “Seperti yang telah disepakati, satu tim terdiri dari empat anggota, untuk pemilihannya bagaimana kalau dengan cara pengambilan nomor, biar enggak ada yang iri, nanti kita buat dua dus berisi lintingan nomor, satu dus untuk anggota senior, satu lagi untuk junior.” Luna menjelaskan peraturan untuk menentukan anggota tim. “Berarti di dalam dus terdapat masing-masing dua lintingan nomor yang sama ya?” Juna bertanya pada Luna. “Iya seperti itu, bagaimana? Setuju?” Sekali kagi Luna menanyakan persetujuan anggotanya. Seluruh anggota menyetujuinya dan mereka memulai membuat nomor dan memasukkannya kedalam dus. Pengambilan nomor sudah dimulai, Luna nampak sangat tegang, karena ia takut kalau nantinya satu tim dengan Rakha. Setelah pengambilan nomor selesai, tiba saatnya mengumpulkan anggota yang mendapatkan pengambilan nomor yang sama. Dan ternyata Luna mengambil nomor yang sama angkanya dengan Rakha. “Oh my God.” Luna berbisik dalam hatinya dan raut wajahnya nampak pucat. Tapi ia harus melanjutkan rapat ini. “Nah, sekarang teman-teman sudah tahu anggota tim masing-masing, untuk pendataan dan penyesuaian jadwalnya, saya serahkan pada sekertaris redaksi!” “ Baik Boss.” Bahkan semua anggota redaksi menyanggupinya. Setelah rapat selesai, Luna masih berbenah di ruang redaksi bersama beberapa anggota redaksi. Hari semakin sore, tak lama kemudian Luna berpamitan dengan teman-temannya. Langit yang mendung menyelimuti suasana sore itu. Ketika Luna mulai berjalan menuju halte sekolah, ternyata rintik gerimis mulai jatuh membasahi bumi. Luna berlari agar cepat sampai halte sekolah. Saat Luna melewati tempat parkir sekolah hujan semakin deras, Luna terus berlari, tak lama kemudian terdengar seseorang yang memanggil namanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN