Hari semakin siang, terik matahari terasa begitu panasnya. Seperti hati Luna yang sedang berkecamuk untuk mengartikan suatu perasaan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Ia merasa ingin segera pulang. Luna mempercepat langkah kakinya menuju halte sekolah. Tak seperti biasanya, hari itu Luna hanya mampir sebentar ke sekretariat redaksi. Rupanya Luna bingung dengan dirinya sendiri. Ia bingung dengan sikapnya ketika bertemu dengan Rakha. Apalagi ketika melihat tatapan Rakha, Luna merasa sangat gugup, jantungnya berdegup cepat, ia belum pernah merasa seperti itu. Luna takut kalau sampai ia salah tingkah lagi ketika bertemu Rakha. Itu lah alasan Luna memilih untuk menghindar dan pulang lebih cepat.
Sesampainya di rumah, Luna mengerjakan kebiasaannya seperti hari-hari kemarin. Ia berganti pakaian, ibadah sholat dzuhur, dan makan siang. Namun hari ini Luna tak tampak seperti biasanya, hal itu terlihat saat Luna makan siang, kali ini Luna hanya makan sedikit dan terlihat melamun di meja makan.
“Luna, tumben makannya sedikit?” Mama Luna memperhatikan seolah Luna terlihat kehilangan nafsu makan.
“Eh Mama, enggak kok Ma, tadi pas jam istirahat, Luna sudah makan bakso, jadi yaaa...agak kenyang saja.”
“Oh begitu, ya sudah dihabiskan makannya, setelah itu jangan lupa cuci piringnya!”
Seperti biasa Mama selalu mengajarkan kemandirian dan kedisiplinan sejak dini pada Luna, tujuannya supaya Luna bisa survive dikemudian hari, karena sudah terbiasa mengerjakan sendiri segala sesuatu yang ia lakukan sehari-hari.
Setelah Luna selesai makan siang dan mencuci piring, ia bergegas pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Ia berbaring di atas tempat tidurnya, semilir angin yang berembus melewati celah dedaunan, terasa sejuk menyentuh kulit. Mata yang mulai sayu tampak jelas di raut wajah Luna. Pandangannya semu, ia tampak lelah namun seolah masih memikirkan sesuatu.
“Aku sebenarnya kenapa ya Allah, rasanya galau, sikapku jadi aneh, tapi ini terjadi semenjak ada Rakha di Sekolah, Aaarrrgggghhhh....!!!”
Luna berteriak sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Luna tampak sangat galau, ia berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian Luna terdiam sejenak untuk introspeksi diri.
“Enggak bisa dibiarkan seperti ini, aku harus fokus sama sekolahku, Rakha adalah teman, bukan musuh, aku juga enggak mau kalau sampai Rakha dan teman-teman yang lainnya salah paham, ya aku hanya merasa gugup, entah mengapa tatapan mata Rakha membuat aku deg-degan, oke ... baiklah harus bersikap sewajarnya, semangat Luna!”
Luna meyakinkan diri sambil menganggukkan kepalanya. Pertanda ia berusaha berdamai dengan hati dan pikirannya. Sebelum tidur siang, biasanya Luna memeriksa Handphone-nya. Saat Luna membuka Handphone, ia kaget karena grup w******p Sepak bola dan futsal banyak sekali notifikasi obrolan.
“Wow...WA grup Like FC rame banget obrolannya, aku menyimak dulu saja, hmmm... Pada ngobrolin apa sih ini?”
Selang beberapa saat, Luna sangat terkejut ternyata obrolan WA grup Like FC berisi tentang penyambutan dan perkenalan pada anggota baru Like FC yang tidak lain adalah Rakha.
“What? Rakha masuk Like FC?”
Luna kaget dan terdiam sejenak. Ia merasa dibayang-bayangi kehadiran Rakha. Entah apa yang sebenarnya Luna rasakan saat itu. Luna hanya menghela nafas dan menyiapkan mental karena akan sering bertemu Rakha saat latihan bersama Like FC dan satu tim redaksi.
Waktu terasa cepat berlalu, bahkan teriknya siang kini berganti dengan dinginnya malam. Setelah selesai ibadah sholat maghrib dan membaca Al-Qur’an, seperti biasa Luna makan malam sambil menunggu Adzan isya.
“Ma, Papa ke mana? Kok kita cuma makan berdua?”
“Oh iya , tadi habis Sholat Maghrib, Papa mu pergi karena ada urusan di luar.”
Mama dan Luna makan malam berdua, dan Mama memulai pembicaraan dengan Luna.
“Oh iya Nak, bagaimana sekolah mu? Apakah masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik?”
“Alhamdulillah masih aman Ma, hanya saja di sekolah Luna, ada siswa baru, namanya Rakha. Kalau dari cerita yang Luna dengar, dia itu berprestasi Ma, tapi enggak satu kelas sama Luna, jadi Luna belum tahu seperti apa prestasinya.”
“Oh jadi Rakha yang membuat kamu galau?” Mama seolah meledek Luna sambil tersenyum dan melirik Luna.
Luna kaget dan tak mengomentari ucapan Mama, ia hanya tersenyum ke arah Mama dan terlihat salah tingkah.
Setelah selesai makan malam dan membantu Mama membereskan meja makan, Luna berjalan menuju kamarnya. Malam semakin larut, suasana semakin sunyi, hanya suara detik jam dinding yang menemani, namun Luna belum bisa memejamkan mata. Matanya memandangi langit-langit kamar, pikirannya seakan melayang jauh membayangkan hari esok dan mengingat kembali apa yang telah terjadi kemarin. Tak lepas dari bayang-bayang Rakha yang sekarang hampir selalu ada dalam pikiran Luna. Ia membayangkan kejadian kemarin, saat pertama bertemu dengan Rakha dihari pertama sekolah. Mengingat kembali saat ia mengamati Rakha di sekolah. Sampai hari ini saat ia bertemu Rakha. Luna memutuskan untuk berdamai dengan hati dan pikirannya, ia berusaha memulai perkenalan dengan Rakha hari esok. Karena Luna berpikir jika ia selalu menghindar justru akan semakin membuatnya gagal fokus. Saat hati Luna berusaha berdamai dengan pikirannya, seketika mata Luna mulai terpejam dan terlelap dalam tidurnya.
Di sisi lain, Rakha yang sedang bersemangat untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pun tak lepas dari bayang-bayang si gadis manis. Ia memutuskan untuk mengenalnya lebih dekat, walaupun ia heran dengan apa yang sedang terjadi. Biasanya Rakha selalu gugup dan menghindar jika didekati teman perempuan, namun berbeda halnya dengan si gadis manis, justru Rakha yang ingin memulai pertemanan dengannya.
Rakha duduk di depan meja belajarnya, ia menoleh ke arah jendela, terlihat jutaan bintang menghiasi langit malam itu. Lalu Rakha membuka jendela kamarnya, dan menatap indahnya bintang yang bersinar terang diantara gelapnya malam. Malam yang sunyi dan penuh bintang di langit, menjadi suasana favorit Rakha. Karena suasana itu memberi kedamaian dan inspirasi untuk Rakha. Setelah lelah dengan semua aktivitas hari ini, kini saatnya Rakha beristirahat dan memeriksa handphone-nya. Rakha Asyik dengan obrolan di grup WA Like FC. Like FC adalah nama club sepakbola dan futsal di sekolah Rakha. Sambil memeriksa info grup. Mata Rakha terbelalak kaget karena ternyata si gadis manis juga salah satu anggota Like FC.
“Ini... Serius? Wow...Ternyata si gadis manis anggota Like FC juga, oke aku harus save nomornya.” Rakha merasa senang sampai speechless ,karena ia baru mengetahui hal itu.
Rakha mulai menganggap si gadis manis adalah salah satu penyemangat dalam hidupnya.
“Sejak dia tersenyum pagi itu, sejak aku mengamatinya, caranya berkomunikasi, begitu polos, berprestasi, dan lucu.” Rakha berbicara pada sendiri, ia berkomentar rentang si gadis manis, tak terasa Rakha melamun sambil senyum sendiri.
Rakha beranjak dari kursi menuju tempat tidurnya, sambil memeluk bantal guling, Rakha pun berpikir bagaimana cara untuk bersahabat dengan si gadis manis. Malam semakin sunyi, membuat Rakha semakin mengantuk, sehingga Rakha mulai memejamkan mata.
Langit malam yang terlihat gelap akan menjadi indah ketika dihiasi berjuta bintang. Bulan terlihat begitu cantiknya ketika bersanding dengan bintang. Terkadang bulan pun tersipu malu ketika bintang berkedip indah dengan sinarnya. Seperti halnya rasa cinta, bisa menjadi penyemangat dalam hidup bagi orang yang menjaganya.