Rasa penasaran mulai menyelimuti hati dan pikiran Luna. Hampir di sepanjang hari rasa penasaran Luna terhadap sosok Rakha selalu membuatnya memperhatikan segala tingkah laku Rakha di Sekolah. Luna mengamati Rakha secara diam-diam dan mencuri pandang, seolah Luna sedang menjadi detektive. Ia selalu memikirkan ucapan Vina tentang Rakha. Luna merasa galau tentang prestasi Rakha, ia merasa Rakha akan menjadi saingan berat di Sekolah.
Pagi ini langit membiru, mentari seakan mengepakkan sayapnya dan membuat semburat jingga di ufuk timur, semilir angin menambah kesejukan pagi itu. Semangat yang selalu berkobar dalam diri Luna membuatnya mantap dan percaya diri melangkah menuju sekolah.
Luna berbisik dalam hati sambil menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar rumah setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
“Aku harus semangat! Hilangkan semua kegalauan di hati ini!”
Seperti biasa Luna menunggu angkutan umum di depan rumahnya. Hari ini angkutan umum datang tepat waktu, sehingga Luna tidak kesiangan seperti hari kemarin. Saat Luna berjalan melewati tempat parkir menuju kelasnya, ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Saat Luna menoleh ke belakang ternyata ada Rakha sedang berjalan beberapa langkah di belakang Luna.
Entah mengapa tiba-tiba jantung Luna berdegup sangat cepat ketika melihat Rakha, dengan spontan ia mempercepat langkah kakinya. Saat itu Luna seakan menghindar dari Rakha. Karena Luna merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat Luna masuk ke kelasnya dan duduk menunduk sambil memandangi lantai di depan meja, dengan tatapan yang semu.
“Astaghfirullah..., kenapa jantungku berdegup sangat cepat saat melihat Rakha begitu dekat berjalan di belakangku? Entah apa yang aku pikirkan , entah apa yang aku rasakan?” Luna menarik nafas dalam-dalam sembari menggerutu dalam hati. Telapak tangannya terasa dingin, terlihat seperti sangat cemas dan begitu gugup.
Tiba-tiba Vina datang dengan suaranya yang memekakkan telinga, sambil menepuk pundak Luna,
“Hoy... Lagi ngapain Lun? Pagi-pagi sudah bengong?”
Sontak Luna merasa kaget bukan main.
“Eh...Vina mengageti saja!!! Huuuu... Bisa jantungan ni!!!”
Kemudian Vina berbicara dengan bahasa Jawa
“Lagian esuk-esuk wis aneh, kowe nangapa jane? Kayak bar weruh setan bae!”
( “ Lagian pagi-pagi sudah aneh, kamu kenapa sih? Kayak habis lihat setan aja!”)
“Ini lebih horor dari setan, Vin.”
“Ah ... Yang benar? Kamu habis lihat penampakan begitu maksudnya?”
“Iyaaa... Vin.” Sambil menahan ketawa Luna seolah memainkan peran untuk menakuti Vina.
“Serius?? Ah ... Pagi-pagi jadi horor, Lun jangan bercanda ah enggak Lucu!”
Dengan kerasnya Luna menertawakan Vina yang mulai ketakutan.
“Hahahaha...”
“Ih ...tega banget pagi-pagi sudah mengerjai aku.” Vina cemberut sambil melirik Luna.
“Hahaha... Masa sih setan pagi-pagi, yang ada ketan kali, Vin.” Luna masih tertawa cekikikan, meledek Vina, membandingkan setan (devil) dengan ketan yaitu makanan tradisional yang lezat.
“Awas ya!” Vina masih cemberut sambil melirik Luna, tapi lama-lama tak bisa menahan tawa juga.
Di sisi lain, Rakha yang begitu bersemangat dan antusias pergi ke sekolah, memang sengaja berangkat sekolah lebih pagi, tujuannya agar tidak terlambat sekolah dan menunggu si gadis manis dengan memantaunya dari tempat parkir sekolah. Setelah Rakha mengetahui si gadis manis sedang berjalan menuju kelasnya, ia bergegas mengikuti langkahnya dari belakang. Sebenarnya ia ingin berteman dengan si gadis manis, namun bingung harus memulai dari mana, sebab Rakha dan si gadis manis tidak satu kelas. Rakha tak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya, namun entah mengapa setelah pagi itu, saat Rakha melihat senyuman si gadis manis, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari siswi lainnya.
Pagi ini kelas 2 IPA 3 berolahraga di Lapangan sekolah, karena jam pertama adalah pelajaran Penjas (Pendidikan Jasmani). Cuaca yang cerah menambah semangat siswa siswi kelas 2 IPA 3 yang sedang melakukan stretching agar tidak cedera saat berolahraga. Setelah itu guru Penjas memberikan materi untuk siswa tentang sepak bola. Menjelaskan teknik menendang bola, bagaimana lari sprint saat mengejar bola, dan lainnya. Rakha sangat antusias karena memang hobi Rhaka adalah bermain sepak bola. Saat siswa siswi dibebaskan untuk mempraktikkan materi tadi, disela-sela itu Rakha dan Juna pun tak lepas dari obrolan seputar kegiatan olahraga di Sekolahnya.
“Jun, di Sekolah kita ada ekskul sepak bola atau enggak?”
“Ada dong, malah sekolah kita pernah beberapa kali menang kompetisi sepak bola.”
“Aku ingin ikutan daftar, kira-kira ke siapa ya daftarnya bro?” Rakha makin antusias dan berniat mengikuti ekskul tersebut.
“Hmm...Coba kamu hubungi ketua kelas kita, dia juga ikut club sepak bola sekolah kita.”
“Thanks ...bro informasinya.” Rakha benar-benar antusias.
“Hai... Rakha, kamu jadi ikutan tim redaksi kita enggak?” Juna menanyakan soal minat Rakha kemarin.
“InshaAllah jadi bro, berarti ekskul sepak bola sama redaksi, oke?” Sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Juna.
“ya ampun, pakai salaman segala...hahaha, aku sih cuma ikut ekskul redaksi aja bro, kalau olahraga aku enggak ikutan.”
“Hahaha...yang penting enjoy aja.” Rakha terlihat sangat bersemangat.
Bel istirahat pun berbunyi, Rakha dan Juna bergegas ke kantin. Tak disangka pucuk cinta ulam tiba, Juna bertemu dengan Luna disana.
“Boss, apa kabar?” Juna menyapa Luna.
“Hahaha... Alhamdulillah sehat, ini buktinya tetap makan banyak, hahaha...” Luna ketawa sambil memperlihatkan jajanan yang ia makan, tanpa ia sadari bahwa ada Rakha disana.
“Wah ... Banyak juga ya Boss?” Juna cekikikan melihat Luna makan banyak.
Dan tiba-tiba Luna kaget melihat Rakha berada di Kantin Sekolah. Ia duduk sambil meminum air mineral. Luna yang sedang membawa semangkok bakso dan beberapa camilan langsung kikuk melihat Rakha duduk di sebelah Juna. Karena Rakha terlihat begitu tampan setelah selesai berolahraga. Rakha pun tersenyum pada Luna. Senyuman Rakha membuat Luna merasa gugup. Saat itu Luna berpikir akan membawa makanannya ke kelas, tapi itu akan terasa aneh. Akhirnya Luna salah tingkah, ia mondar-mandir entah ke mana, sampai Vina bingung melihatnya.
“Lun, dirimu mau makan bakso? Atau mau keliling jualan bakso?” Vina mengomentari sikap Luna yang terlihat salah tingkah.
“Hehehe... Iya aku mau makan lah Vin.” Luna yang sedang salah tingkah langsung duduk di meja yang berseberangan dengan Rakha.
“Lagian mondar-mandir ra nggenah.”
(“Lagian mondar-mandir enggak jelas.”)
Vina melirik Luna sambil menggerutu dan tertawa.
Luna yang terlihat sangat kikuk, hampir tidak mengikuti obrolan antara Vina, Juna, Rakha, dan teman-teman lainnya. Luna hanya melirik Rakha sesekali, benar-benar berbeda dari sikap Luna yang biasanya percaya diri, tegas, dan supel.
Tak lama kemudian Juna menanyakan formulir pendaftaran tim redaksi sekolah kepada Luna.
“Oh iya Lun, ini si Rakha mau ikutan gabung di tim redaksi kita.”
Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Luna hanya menjawab
“Oh iya... Boleh nanti pulang sekolah mampir saja ke sekretariat redaksi ya! Sekalian aku jalan duluan ke kelas nih.” Luna sangat gugup sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan kantin dan langsung berjalan menuju kelas.
“Luna ,tunggu!” Vina berjalan cepat di belakang Luna.
“Ayooo...buruan jalannya Vin!” Luna berjalan makin cepat.
“Kowe nangapa sih? Buanter banget mlakune?”
(“Kamu kenapa? Cepat banget jalannya?”)
Lagi-lagi Vina berkomentar dengan bahasa Jawanya yang medok.
“Kan bentar lagi bel masuk Vin, makanya harus cepat masuk kelas, begitu lho Vin.”
“ Ah...belakangan ini kamu aneh, pokoknya aneh.”
Vina merasa ada yang aneh dengan Luna, dan Vina berniat menyelidikinya.
Setelah jam pelajaran terakhir berakhir, bel pulang sekolah pun berbunyi. Luna bergegas ke ruang redaksi sekolah, ia menyiapkan beberapa formulir pendaftaran dan ia menitipkan kepada teman satu timnya di sana. Karena setelah mempersiapkan formulir pendaftaran, Luna langsung buru-buru berpamitan pulang. Selang beberapa menit setelah Luna berpamitan, Juna dan Rakha datang ke sekretariat redaksi. Sayangnya Juna dan Rakha tidak bertemu dengan Luna, akhirnya Rakha mengambil formulir pendaftaran itu. Mereka pun bergegas berjalan menuju tempat Parkir sekolah.
“Nah itu formulirnya jangan lupa di isi yang lengkap, besok kita ketemu lagi sama si Boss, oke Bro?” Juna memberitahu Rakha, dan Rakha hanya mengangguk sambil menepuk pundak Juna.
“Aku pulang duluan bro.” Juna berpamitan dengan Rakha.
“Oke bro, aku lagi menunggu kapten sepak bola kita, hati-hati dijalan bro!”
“Siap!”
Juna pun melenggang bersama motor vespa kesayangannya. Sedangkan Rakha masih menunggu beberapa temannya untuk membahas latihan sepak bola di hari minggu nanti. Sebenarnya Rakha berharap bertemu si gadis manis, namun siang itu ia tidak bertemu, seolah ia merasa ada sesuatu yang hilang saat pulang sekolah.