Hal yang selalu Luna tunggu setiap pagi adalah telepon dari Barra. Karena disetiap waktunya selalu memberi perhatian dan motivasi pada Luna. Entah mengapa kini perhatian Luna mulai tertuju pada Barra. Luna sedang duduk di kursi yang dekat dengan jendela kamarnya sambil menikmati secangkir kopi, secercah cahaya mentari pagi menghangatkan ibu pertiwi. Kesejukkan udara dipagi itu menemani Luna yang sedari tadi menunggu telepon dari kekasih hatinya. Tatapannya jauh memandang semburat jingga di ufuk timur. Pikirannya melayang membayangkan kekasihnya yang sangat menawan. “Mas Barra itu... Ganteng, keren, perhatian... Dan sorot matanya selalu membuatku meleleh....” Luna berbisik dalam hatinya. “Tukang gombal sih... Tapi aku terhibur dengan tingkah dan gombalannya... Dia juga sangat mengerti si

