Rakha berpamitan Pulang, langkah kakinya seakan melayang karena menahan ke galauan yang ia pendam. Ia tak mau kehilangan sang penyemangat hatinya, namun ia pun bingung harus bagaimana agar bisa terlepas dari bayang-bayang Putri. Malam kian larut, namun Luna belum dapat memejamkan matanya. Air mata masih menetes di pipinya. Ia merasakan kepedihan yang amat mendalam. “Aku menyadari, hati ini tak bisa melihat Rakha jalan bersama perempuan lain. Tapi memang semua salahku. Kenapa dari dulu aku tak mau mengakuinya? Penyesalan memang datang terlambat.” Luna berbicara dalam hatinya. Semalaman Luna merenung, memikirkan jalan keluar dari semuai ini. Karena ia harus fokus melanjutkan skripsinya. Ia akan berusaha tetap fokus walau mungkin hal terburuknya adalah harus merelakan bintang hatinya bersa

