Juna tidak tega melihat Luna, ia berniat mengantar Luna pulang ke rumahnya. “Luna, aku antar kamu pulang ya!” Juna merasa kasihan pada sahabatnya itu. Luna hanya menganggukkan kepala sambil mengusap air matanya. Di sepanjang jalan menuju rumah Luna, tak ada sepatah kata pun yang terucap oleh Luna. Tampaknya ia sangat menyesali sikapnya. Motor Juna telah sampai di depan rumah Luna. Kemudian ia turun dari motor vespa Juna. “Terima kasih Jun.” Luna masih lemas dan lesu. “Iya, kamu yang sabar y Luna.” Juna memberikan suport pada Luna. Lagi-lagi Luna hanya menganggukkan kepalanya. Luna membuka pintu gerbang rumahnya. Langkah kakinya terasa berat untuk memasuki rumah, karena Mama dan Papanya pasti tahu kalau Luna habis menangis. “Assalammu’alaikum...” Luna memasuki rumahnya. “Wa’alaikums

