Hari minggu pagi, Luna sudah sampai di rumahnya setelah mengikuti kegiatan di sekolah. Badannya terasa pegal dan masih mengantuk. Setelah mandi dan sarapan, Luna mencuci baju dan sepatunya. Pagi yang cerah ditambah kicau burung yang terdengar indah, membuat suasana rumah Luna semakin asri. Luna duduk di halaman belakang rumahnya. Ia menikmati suasana minggu pagi itu. Semilir angin membuat Luna merasa sangat nyaman. Tatapan matanya mengarah ke sekuntum bunga yang sedang mekar. Seperti hatinya yang sedang berbunga-bunga. Pikirannya tak lepas dari bayang-bayang Rakha. Tanpa sepengetahuannya, ternyata Mama memperhatikan Luna. Pandangannya terlihat kosong seperti memikirkan sesuatu, namun sesekali ia tersenyum. Mama yang merasa heran dengan tingkah Luna, berusaha mendekatinya.
“Luna sayang, kamu baik-baik saja, Nak?” Mama menanyakan keadaan Luna yang terlihat aneh.
“Eh Mama, iya Ma, Luna baik-baik saja, memang kenapa Ma?”
“Enggak apa-apa, hanya saja kamu terlihat sering melamun belakangan ini.”
“Oh... Enggak apa-apa Ma, Luna masuk kamar dulu ya, Ma.” Luna takut ketahuan Mamanya kalau ia sedang menyukai Rakha, akhirnya iaberusaha menghindari pertanyaan itu.
“Eh, nanti dulu, Nak!”
“Oh...iya Ma, ada yang harus Luna kerjakan?”
“Besok pagi setelah subuh kamu bisa mendandani Dara atau tidak?”
“Dara anaknya tante Nining?”
“Iya betul, itu kan si Dara mau ikut lomba menari perwakilan sekolah kalau nda salah, jadi minta tolong didandani.”
“Waduh, nanti kalau kurang bagus hasil dandannya gimana, Ma?”
“Ah enggak apa-apa, kan masih SD, jadi belum sesusah mendandani orang wisuda.”
“Hehehe...kalau mau sih ya Luna enggak apa-apa.”
“Sip, nanti Mama bilang sama mbak Nining.”
Luna memang punya jiwa seni, ia senang melukis, dan mulai belajar make up, karena Luna senang jika ia memiliki banyak keterampilan.
Dara adalah teman Luna yang berbeda usia, anak dari tante Nining. Sedangkan suami tante Nining adalah teman satu kantor dengan Papa Luna. Sehingga mereka cukup akrab. Luna adalah gadis yang ramah dan supel, sehingga tidak heran jika anak-anak pun suka bermain dengan Luna.
Hari senin pun tiba, seusai subuh Dara sudah datang ke rumah Luna. Dara sudah bersiap didandani oleh Luna.
“ Mbak Luna, nanti Dara didandani yang cantik ya!” Dara sangat ngefans dengan Luna sampai-sampai mau lomba nari saja minta didandani Luna.
“Oke deh Dara, memang mau lomba dimana sih?” Luna mulai mendandani Dara sambil ngobrol dengannya.
“Di kecamatan mbak, doakan Dara biar menang ya mbak!”
“Iya, semoga Dara juara satu ya.”
“Amiiin.” Dara berharap ia akan memenangkan lomba menari di kecamatan.
“Oh iya, Dara kesini diantar Papanya Dara?” Luna bertanya karena Luna tak melihat tante Nining di rumahnya.
“Enggak mbak, tadi Dara diantar sama mas Barra.”
“Mas Barra yang mana?” Luna bingung karena Luna merasa asing dengan nama itu.
“Ih mbak Luna masa enggak kenal? Mas Barra itu kan kakak Dara.”
“Oh kakak kamu namanya Barra?” Luna berusaha mengingatnya.
“Iya lah, kan mas Barra juga kenal kok sama mbak Luna, tapi sih enggak satu sekolah sama mbak Luna.”
“Oh gitu? Asli mbak Luna lupa sama kakak kamu, hehehe...” Luna sudah berusaha mengingatnya tapi tetap saja tak mengingatnya.
Luna adalah tipe orang yang selalu berusaha maksimal setiap mengerjakan sesuatu. Setelah selesai mendandani Dara, Luna bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Nah, sudah selesai dandannya, cantik kan?” Luna bertanya pada Dara.
“Iya mbak, sekarang Dara tunggu Papa di ruang tamu ya.”
“Okeee... Dara.” Luna tersenyum pada Dara dan berpamitan untuk berangkat sekolah.
Seperti biasa Luna menunggu angkutan umum, Luna tak mau terlambat ke sekolah karena ada upacara bendera. Biasanya siswa yang terlambat mengikuti upacara bendera, akan dikenai sanksi atau dihukum berdiri dengan posisi hormat di depan tiang bendera.
Hampir saja terlambat, Luna berjalan menuju kelasnya. Dari kejauhan terlihat Vina sudah bersiap menuju lapangan upacara. Akhirnya Luna berlari dan mempercepat langkahnya menuju kelas, untuk menyimpan tasnya. Semua teman Luna sudah berbaris di lapangan upacara. Luna yang gugup langsung keluar kelas dan berlari menuju lapangan. Saat Luna berlari ternyata topinya terjatuh. Kemudian Luna hendak mengambil topinya yang terjatuh, ketika ia berbalik ternyata sudah ada Rakha di belakangnya yang sudah mengambilkan topi milik Luna. Rakha memberikan topi itu sambil tersenyum.
“Eh Rakha.” Luna terkejut karena topinya sudah diambil oleh Rakha.
“Ini topi kamu, makanya hati-hati dan jangan terburu-buru!” Rakha mengingatkan Luna sambil tersenyum dan menatapnya sangat dalam.
Deg!!! Raut wajah Luna terpaku sejenak menatap Rakha.
“Hehe ... Iya Rakha, makasih ya.” Luna merasa deg-degan, ia langsung melanjutkan langkah kakinya menuju barisan.
Upacara bendera berlangsung tertib. Setelah upacara bendera dibubarkan, Luna dan Vina berjalan menuju kelas. Namun Luna selalu melihat sekelilingnya, ia mencari keberadaan Rakha. Vina yang menyadari hal itu langsung bertanya pada Luna.
“Hei...tengak-tengok saja, mencari apa sih?”
“Hehehe...enggak apa-apa Vin, biasa leher masih kaku dan pegal jadi aku putar kepala saja.” Luna terlihat menutupi sesuatu dari Vina.
“Idiiiih mulai kelihatan bohongnya nih, hahahah...Mending kamu cerita deh sama aku!” Wajah Vina terlihat serius.
“Cerita apaan?” Luna pura-pura tidak mengerti maksud Vina.
“Ya kalau kamu masih menganggap aku sahabat mu, pasti mau cerita.” Vina berharap Luna cerita padanya, wajahnya terlihat cemberut.
“Iya sudah nanti sepulang sekolag saja ya.”
“Benaran loh, jangan bohong!” Wajah Vina langsung sumringah.
“Iyaaa...”
Di dalam kelas, Luna terlihat galau, ia takut kalau menceritakan yang sebenarnya pada Vina. Karena Luna takut kalau Rakha sampai menjauhinya seandainya mengetahui hal ini. Vina selalu memperhatikan Luna yang bersikap aneh akhir-akhir ini. Sebenarnya Vina tahu kalau Luna menyukai Rakha, tapi ia belum yakin kalau Luna mau mengakuinya.
“Luna, ana apa sih? Ngelamun bae.”
(“Luna, ada apa sih? Melamun saja.”), Vina menanyakan pada Luna tentang sikapnya.
“Enggak apa-apa Vin, lagi banyak hal yang harus dikerjakan saja.” Luna menjawab pertanyaan Vina sambil mengerjakan latihan soal Kimia.
“Nanti kamu jadi curhat sama aku, kan?” Vina sangat berharap Luna jujur menceritakan pada Vina.
“Iya, tapi janji ya enggak bocor!” Luna menatap sahabatnya berharap Vina bisa menjaga rahasia.
“Siap, laksanakan boss.”
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Terik matahari siang ini terasa sangat panas. Luna dan Vina mampir ke kantin untuk membeli segelas es teh manis. Kemudian mereka berjalan menuju sekretariat redaksi. Sesampainya di sana terlihat ada beberapa anggota redaksi yang menyetorkan file berita hasil peliputan dies natalis kemarin. Vina dan Luna duduk di dalam sekretariat sambil menikmati segelas es teh manis. Kemudian Juna terlihat berjalan menuju sekretariat redaksi.
“Boss... Mau setor artikel nih.” Juna memberitahu Luna tentang maksudnya.
“Oke, Jun, dicopy saja ke komputernya!” Luna masih menikmati es teh manisnya bersama Vina.
“Oke, siap.” Juna masuk kedalam sekretariat dan menyimpan helm-nya di kursi sebelah meja komputer. Ia terlihat sibuk mengcopy file-nya. Tak lama kemudian ia berpamitan pada Luna dan teman-temannya. Suasana sekretariat sudah sepi, karena anggota redaksi lainnya sudah berpamitan. Di sana hanya ada Vina dan Luna, akhirnya Luna memulai untuk bercerita pada Vina, sambil memeriksa file redaksi yang sudah masuk dalam komputer.
“Ya sudah Vin, aku curhat sama kamu.” Luna menarik nafas dalam-dalam lalu berusaha memulai obrolan.
“Oke aku siap jadi pendengar.” Vina siap mendengarkan curhatan Luna.
“Tapi janji, jangan bocor dan jangan meledek aku ya!” Luna melirik Vina.
“Iya, aku janji buat sahabatku.” Vina yang penasaran dengan curhatan Luna, berusaha meyakinkan Luna bahwa apa yang Luna ceritakan padanya akan aman dan tidak akan disebar luaskan.
Luna menguatkan hatinya, untuk memulai cerita pada Vina.
“Begini, awalnya bagaimana aku juga enggak tahu, Vin. Mungkin karena aku penasaran tentang prestasinya yang seperti kamu ceritakan itu, jadi hampir setiap kali aku melihat dia, aku selalu memperhatikannya dengan detail.” Luna berusaha menceritakan sebenarnya.
“Maksud kamu?” Vina bingung siapa sebenarnya yang dimaksud Luna.
“Iya gitu Vin, aku memperhatikan dia mulai dari cara bicaranya, caranya berjalan, cara dia menatap, gaya rambutnya, semua aku perhatikan, gara-gara kamu bilang kalau dia ganteng.” Luna melanjutkan ceritanya.
“Hah? Siapa sih?” Vina penasaran yang dimaksud Luna itu antara Prima dan Rakha.
“Jadi sejak pertamakali aku kenalan sama dia, itu aku sudah dibuat penasaran, kamu enggak tahu kan Vin?” Luna semakin membuat Vina penasaran.
“Lha iya yang kamu maksud itu Prima atau Rakha?”
Saat Luna sedang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaannya, tiba-tiba Juna datang hendak mengambil helm-nya yang tertinggal. Juna menyadari bahwa Luna sedang menceritakan seseorang, ia tak sengaja mendengar pembicaraan Luna dan Vina. Juna menghentikan langkah kakinya dan ia berdiri dibalik pintu. Juna bingung apakah ia akan memotong pembicaraan Luna untuk permisi mengambil helm, atau dia harus diam dan mendengarkan. Akhirnya ia berdiam mendengarkan sedikirlt cerita Luna, sebelum ia masuk untuk mengambil helm.
“Rakha.” Luna menarik nafas dalam-dalam saat menyebut nama seseorang yang ia sukai.
“Berarti kamu suka sama Rakha?” Vina terkejut saat Luna mengaku menyukai Rakha.
“Iya aku enggak tahu itu perasaan apa, tapi yang pasti aku suka sama dia.” Luna berkata jujur.
Sesaat setelah Luna mengatakan ia menyukai Rakha, tiba-tiba Juna masuk ke sekretariat redaksi. Luna dan Vina terkejut dengan kedatangan Juna, namun seolah mereka tidak sedang menceritakan perasaan Luna. Mereka langsung membahas hal lain. Raut wajah Juna tak bisa menutupi bahwa ia mendengar pembicaraan Luna dan Vina. Sehingga setelah Juna mengambil helmnya, ia langsung berpamitan pada mereka.
“Vin, si Juna dengar apa enggak ya? Perasaanku jadi campur aduk gini rasanya.” Luna merasa sangat galau, raut wajahnya terlihat sangat bingung.
“Tenang saja kalaupun Juna dengar, dia bukan orang yang suka bergosip.” Vina mencoba menenangkan Luna.
“Semoga saja, Juna enggak mendengar pembicaraan kita.” Luna berusaha optimis.
“Terus, bagaimana kamu bisa suka sama Rakha?”
“Entahlah, Vin, aku juga bingung, perasaan itu tiba-tiba ada dalam hati aku.”
“Kok bisa, kalian kan baru kenal? Atau cinta pada pandangan pertama?” Vina penasaran.
“Begini Vin, hari pertama masuk sekolah itu, saat teman-teman heboh menceritakan siswa baru, nah pas pulang sekolah aku bertabrakan dengan Rakha di depan ruang guru, saat itu aku enggak kenal siapa dia, kelas berapa juga aku enggak tahu.”
“ Terus?” Vina sangat penasaran.
“Nah disitu dia memperkenalkan diri, aku ingat sekali, keesokan harinya kan kamu selalu bilang kalau Rakha ganteng, eh pas tahu ternyata Rakha yang kamu maksud itu sama dengan Rakha yang nabrak aku.”
“ Terus kamu bisa suka sama dia gimana Lun?” Vina sangat penasaran.
“Iya setelah itu, dia kan ikut redaksi sekolah, terus ikut Like FC, semuanya bareng sama aku. Dan yang bikin aku salah tingkah itu tatapan matanya, berasa jantung aku mau copot.” Luna terlihat sangat galau.
“Hahaha...ada-ada saja, Luna, terus dia bilang suka sama kamu?”
“Nah sudah beberapa kali dia mengantar aku pulang ke rumah, kamu pasti enggak tahu ya? terus kemarin makan bakso berdua, ah pokoknya aku juga bingung dengan perasanku.”
“Itu namanya cinta monyet saat SMA, rasa suka sama seseorang lawan jenis. Hahaha... Luna jatuh cinta, hihiiiiyyyy...” Vina terus-terusan meledek Luna.
“Terus aku harus gimana Vin?”
“ Ya kamu simpan baik-baik perasaanmu untuk dia”
“Kamu jaga rahasia ini ya Vin, aku takut kalau Rakha tahu, ia pasti akan canggung dan kesal sama aku.”
“Eh Rakha enggak begitu orangnya, dia itu baik sebenarnya, hanya saja yang aku tahu, dia itu kalau di dekati teman perempuan sudah pasti menghindar, seperti enggak nyaman dan grogi, makanya aku herann kok bisa dia deket sama kamu.”
“Hah? Masa sih?” Luna berharap Rakha juga menyukainya.
“Jangan-jangan dia juga suka sama kamu.” Vina menebak-nebak perasaan Rakha terhadap Luna.
“Sudahlah Vin, ini rahasia kita ya!” Luna menegaskan pada sahabatnya.
“Okay.” Luna mengacungkan jempol tangan pada Luna.
Setelah mereka selesai bercerita, mereka bersiap pulang, kemudian Vina melihat Prima berjalan tergesa-gesa dari balik jendela ruang redaksi. Vina curiga kalau Prima menguping pembicaraan mereka. Namun Vina memendam kecurigaannya itu. Mereka berjalan keluar ruang redaksi dan mengunci pintu.
Hari semakin petang Luna kembali belajar seperti hari-hari biasanya. Ia teringat tentang ulangan biologi minggu lalu yang dirasa kurang maksimal dalam mengerjakan soal. Sehingga Luna belajar lebih giat lagi untuk memperbaiki semuanya. Luna memang belum pernah merasa galau untuk masalah hati. Ia mempunyai prinsip bahwa urusan hati jangan sampai membuat kacau prestasi. Ia berharap esok kan lebih baik.
Pagi ini udara terasa sangat dingin. Hujan menyelimuti wilayah purwokerto. Luna berangkat ke sekolah diantar Papanya menggunakan mobil pribadi. Luna jarang diantar ketika berangkat sekolah namun kali ini Papa Luna tidak tega kalau Luna harus berangkat ke sekolah dengan kendaraan umum karena hujan sangat lebat. Sesampainya di sekolah, Luna memakai payung dan berjalan menuju lobi sekolah. Saat di lobi sekolah, ia melihat ke arah area parkir sekolah untuk mencari keberadaan Rakha, karena biasanya Luna berjalan melewati area parkir untuk melihat Rakha. Namun Luna tak melihat motor Rakha, ia berpikir mungkin Rakha belum berangkat, akhirnya ia melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Seperti biasa Luna menyapa teman-temannya dengan ramah. Namun Luna merasa ada yang aneh dengan situasi hari itu. Semua teman seolah terlihat sedang membicarakannya. Tiba-tiba ada beberapa siswi dari kelas lain yang menghampirinya.
“Luna, aku mau bicara.” Sapa siswi kelas 2 IPS yang menghentikan langkah Luna.
“Oh iya, ada apa?” Luna bingung mengapa tiba-tiba ia menghentikan langkagnya.
“Apa benar kamu menyukai Rakha?” Siswi tersebut langsung bertanya pada Luna, tanpa basa basi dan dengan raut wajah yang agak kesal.
“Hah? Aku?” Luna benar-benar terkejut dan wajahnya terlihat marah bercampur sedih.
“Iya, kamu suka sama Rakha?”
“Gosip dari mana?” Luna berakting seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
“Kalau kamu suka sama Rakha, kita bersaing!” ancam siswi tersebut kepada Luna sambil berlalu dari pandangan.
Badan Luna seolah terpaku, ia marah bercampur sedih. Kecewa yang Luna rasakan sangat dalam. Ia berpikir bahwa Vina mengkhianatinya. Luna sangat malu dan takut kalau rumor itu sampai ke telinga Rakha. Langkah kaki Luna tak semantap biasanya. Kakinya gemetar, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang hampir menetes ke pipinya, hatinya sangat kalut. Luna berusaha menutupinya ketika sampai di kelasnya. Vina yang tersenyum menyapa Luna seolah tak mengetahui apa yang terjadi pada Luna.
“Luna...” Sapa Vina pada Luna.
Luna tak menjawab sapaan Vina. Luna terdiam dan hanya menundukan kepala. Vina merasa ada yang tidak beres. Tapi Vina sudah paham ketika menghadapi Luna yang sedang marah atau sedih, ia biarkan saja Luna sendiri sampai Luna tenang. Tak lama kemudian Guru biologi memasuki kelas dan membagikan hasil ulangan minggu lalu. Alangkah terkejutnya Luna dengan hasil ulangannya, nilainya anjlok tak seperti yang diharapkan. Saat itu Luna benar-benar merasa down. Ia meminta izin untuk ke UKS. Vina melihat Luna menitikkan air mata saat berjalan ke arah guru biologi yang sedang duduk di kursinya. Selang lima menit setelah Lunaeminta izin, Vina juga meminta izin untuk menemani Luna di UKS.
Vina berjalan setengah lari untuk mengejar Luna. Pintu UKS terbuka, Vina masuk ke dalam UKS. Di sana ia melihat Luna sedang menangis sambil duduk di kursi. Vina bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan Luna.
“Luna...” Suara Vina memecah suasana.