bc

Daddy Material

book_age16+
6
IKUTI
1K
BACA
possessive
family
love after marriage
arrogant
drama
icy
single daddy
city
nanny
actor
like
intro-logo
Uraian

Hidup seorang Alesya Gianina berubah 180° karena ia menemukan fakta yang hanya diketahui oleh segelintir orang didunia ini. Bahwa seorang aktor yang telah mendunia, Brian Liamford, diam-diam sudah memiliki malaikat kecil nan cantik yang lelaki itu sembunyikan dari dunia luar.

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 0.0.1
Aku Esya, Alesya Genania. Gadis biasa berumur 19 tahun yang menjadi nanny di ibu kota. Niat awalku pergi ke kota ini untuk menempuh pendidikan tinggi, tapi.. ..disilah aku sekarang. Bermain dengan dua anak perempuan walau tubuhku rasanya sudah remuk. Mereka adalah Lydia dan Brielle. Sebenarnya aku hanya dibayar untuk menjadi nanny Lydia, tapi sering kali Brielle datang ke rumah Lydia. "Kedua orang tuanya bekerja. Ayahnya bilang Brielle juga tipe yang susah berbaur dengan orang baru, ia tak mau memaksa." Jawab Nyonya Cashel, ibu dari Lydia, ketika aku bertanya kenapa Brielle selalu dititip ke rumah ini. Sebenarnya aku tak keberatan, mengingat betapa imut, pintar, dan cantiknya Brielle. Anak yang berumur 4 tahun itu juga selalu baik dan sopan padaku. Tak jarang, ketika aku mulai lelah, ia memberiku pelukan kecil. Uhh... dia benar-benar seperti malaikat kecil. Kedua orang tuanya berhak masuk daftar 10 orang paling beruntung di dunia. "Nanny Esya! Lihat hasil gambarku ini." Lydia dengan suara lantangnya menghampiriku sambil memegang kertas berisi hasil gambarnya. "Ini Ibu dengan tas herm*s kesayangannya, ini Ayah dengan piyama yang mirip denganku. Kami selalu memakainya ketika mengadakan pesta piyama." Aku hanya memerhatikan penjelasannya sambil tersenyum lebar. "Sebenarnya aku ingin menggambar Nanny, tapi Iyel sudah melakukannya duluan. Kami tidak mungkin menggambar dua Nanny Esya, karna Nanny hanya satu didunia." Aku tersenyum haru mendengar kata-kata itu keluar dari mulut anak yang masih pra-sekolah. Tak lupa, aku menghampiri anak perempuan yang selalu disapa sebagai Iyel. "Nanny dengar dari Lydia, Iyel menggambar Nanny ya? Boleh Nanny lihat hasilnya?" Tidak seperti Lydia yang selalu percaya diri dan riang, Brielle cenderung agak pemalu dan bahkan terkadang murung. Menghadapi seorang anak seperti Brielle harus penuh kesabaran dan kelembutan. Brielle pun menunjukkan hasil gambarnya padaku. Aku kaget dan heran. Iyel hanya menggambar dirinya, aku, dan seseorang yang ditulisnya sebagai Daddy Ian yang kuyakini adalah ayahnya. Bukannya Nyonya Cashel bilang kedua orang tuanya Brielle masih lengkap? Atau jangan-jangan ada masalah? "Maaf Iyel, Nanny boleh bertanya sesuatu padamu?" Brielle hanya mengangguk polos menanggapi pertanyaanku. "Kenapa Iyel tidak menggambar Mommy Iyel?" Brielle terdiam sebentar, ia menunduk lalu kembali menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kujelaskan. "Nanny janji jangan beri tahu siapa pun, okay?" Brielle menyodorkan jarinya yang berbentuk pinky promise padaku. Sungguh, bukannya aku ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak kukenal. Tapi ini menyangkut Brielle, malaikat kecil tersayangku. Aku menyambut jarinya. Ia berdiri dan mengarahkan bibirnya pada telingaku untuk berbisik. "Orang-orang bilang, Mommy ku orang jahat." Aku membelalak sambil menutup mulutku yang terbuka, reflek ketika terkejut. Aku menenangkan diri, lalu kembali menatap Brielle. "Lalu, apa Iyel percaya dengan kata-kata mereka?" Brielle menggeleng. "Iyel tidak menggambar Mommy agar orang-orang tidak terus-terusan menyebut Mommy jahat." Sungguh, dunia tidak patut memiliki anak sesuci Brielle. Ia tetap berprasangka baik kepada siapa pun. Aku lalu kembali memperhatikan hasil gambar Brielle. Aku pun tertarik dengan satu hal, nama belakang Brielle, Liamford. Dan fakta bahwa seseorang yang ia panggil Daddy bernama Ian. Mirip dengan nama seseorang. "Iyel, apa ayahmu bernama Brian Liamford?" Tanyaku iseng sambil tertawa kecil. Brielle mengangguk lalu balik bertanya "Bagaimana Nanny bisa tau?" Tawa kecil ku memudar. Aku dengan gelisah membuka ponsel lalu menelusuri Brian Liamford, aktor asal kota ini yang memang dikenal sebagai bintang kelas dunia. Aku menunjukkan foto yang terdapat di layar ponselku pada Brielle, tanpa sempat aku bertanya, Brielle langsung saja berteriak.. "Daddy!" ketika melihat layar ponselku. Aku mematung. Apa aku baru saja menemukan salah satu dari tujuh hal yang masih menjadi rahasia di muka bumi? Seorang Brian Liamford, memiliki anak perempuan yang tidak diketahui dunia, dan aku adalah orang yang selalu di titipi anak itu? Berbagai asumsi singgah di otakku. Bisa jadi seperti yang orang-orang bilang, Mommy nya Brielle memang jahat karena lebih memilih mengenalkan aktor terkenal, daripada ayah biologisnya sebagai Daddy kepada Brielle. Tingtung... Bel rumah yang berbunyi membuyarkan lamunanku. Itu Zack, supir sekaligus pengawal Brielle. Sepertinya waktu kebersamaanku dengan Brielle hari ini sudah berakhir. Brielle langsung saja mengemas barang dan mainannya ke dalam tas. Ia berpamitan padaku dan Lydia dengan senyum yang lebar, lalu berjalan dengan tangan kecilnya menggandeng tangan Zack. Saat aku dan Lydia kembali masuk ke dalam apartemen, Lydia dengan sigap berlari mengambil sesuatu lalu memberikannya padaku. Ternyata itu adalah salah satu mainan favorit Brielle. Lydia langsung memakai jaket miliknya sekaligus mengambil mantel abu-abu milikku lalu memberikannya padaku. "Ayo nanny, kita harus segera menyusul Iyel untuk memberikan mainan miliknya!" Dengan lift, aku dan Lydia turun dari lantai 11 ke Lobby. Saat melihat didepan Lobby tidak ada mobil yang biasa dipakai Zack untuk menjemput Lydia, kami langsung menuju tempat parkir di Basement menggunakan tangga. Saat menginjak tangga terakhir, aku hampir berteriak saking kagetnya. Aku menyender ke tembok sambil memeluk erat Lydia yang ada di gendonganku. "Nanny kenapa?" Tanya Lydia padaku dengan nada sedikit berteriak, mungkin ia juga kaget karna aku tiba-tiba memeluknya dengan erat. Bagaimana tidak. Aku melihatnya, lelaki itu. Lelaki yang Brielle panggil Daddy Ian. Ya, dia benar-benar Brian Liamford. Bocah kecil yang selama ini ku asuh itu anak dari seorang Mega Bintang Kelas Dunia. Dia Brian Liamford yang itu. Aku memutuskan untuk kembali ke Apartemen, aku harus segera naik sebelum mereka tahu aku disini, mereka tidak boleh tahu aku sudah mengetahui hal yang mereka rahasiakan ini. Aku harus pergi dari si... "Alesya." Sial. Itu Zack yang memanggilku dengan suaranya yang dingin. Belum terlambat, aku masih bisa berpura-pura. "O-oohh.. Ka-kalian masih disini?" Persetan dengan suara ku yang terbata-bata setiap kali berbohong. "Ehemmm." Aku membersihkan tenggorokan ku agar dapat berbicara, lebih tepatnya berbohong dengan lancar. "Kukira kalian sudah pulang haha.." Kecanggungan ini hampir saja membuat ku ingin pingsan. Aku mendekati Zack, lalu berkata "Mainan milik Iyel, maksudku Brielle, tertinggal. Kami hanya ingin mengembalikannya." Zack mengambil mainan tersebut lalu mengangguk. Dengan terburu-buru, aku segera kembali naik. Sekali lagi, langkahku dihentikan oleh Zack. "Alesya!" Aku menoleh, menatapnya dengan senyuman aneh yang seolah mengisyaratkan kata-kata 'Apa lagi sih?'. "Kau..." Zack seperti ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya. "...tidak melihat apa-apa kan?" Sontak aku menjawab. "Tentu saja! Aku dan Lydia baru saja datang. Kenapa? Ada apa? Apa ada sesuatu yang tidak boleh kulihat?" Alesya bodoh. Pertanyaan seperti itu bukannya bisa membuat Zack semakin curiga.. Setelah berpamitan, aku dan Lydia langsung masuk ke dalam Apartemen. Aku ketakutan setengah mati. Bagaimana jika mereka tahu aku mengetahui sesuatu? Apa aku akan diculik, lalu otakku dicuci? Tidak, nyawa ku pastinya tidak ada tandingannya dengan informasi semahal itu. Bisa saja dengan mudahnya mereka membunuhku. Tidak. Aku masih ingin hidup lebih lama. Bagaimana jika aku menginap disini malam ini, izin pamit pada keluarga Cashel, embeli tiket pesawat paling pagi ke negara terjauh, dan minta Sarah mengemas barang-barangku lalu mengantarku ke bandara. Yah. Kalau begitu pasti nyawaku akan terselamatkan. Tapi.. aku lupa bahwa aku belom memperpanjang pasporku. Aku dapat mendengar harapan hidupku hancur berkeping-keping. Yang dapat ku lakukan sekarang hanyalah berdoa. Semoga Zack benar-benar percaya dengan perkataanku. *** Tidak bisa kupercaya! Disinilah aku sekarang. Di dalam mobil mewah series terbaru yang harganya bisa menghidupi sekeluarga selama setahun. Mungkin orang-orang akan senang jika berada di posisi ku saat ini, tapi tidak denganku. Aku, bersama Brielle dan di supiri oleh Zack, kami menuju tempat yang akupun tak tahu pasti. Kronologinya, disaat Zack menjemput Brielle untuk pulang seperti biasa, ia juga memintaku, lebih tepatnya menyuruhku, untuk ikut bersama mereka. Nyonya Cashel pun memberi izin karena entah kebetulan atau memang disengaja, beliau mengambil cuti hari ini. Jadi aku tidak perlu khawatir meninggalkan Lydia. Dan ya, aku sangat yakin sejak kemarin Zack mengetahui bahwa aku berpura-pura tidak melihat apapun. Aku merasa sangat bodoh saat ini. Setelah satu jam lebih kami berkendara, kami memasuki daerah tersembunyi yang rindang dan banyak pepohonan tinggi. Selang beberapa menit, tibalah mobil berhenti di hadapan garasi sebuah rumah mewah. Zack pun mengeluarkan sesuatu seperti remote control dari dalam sakunya, tiba-tiba saja pintu garasi rumah tersebut terbuka. Aku hanya bisa menatap takjub pada kemewahan ini. Saat mobil berhenti didalam garasi, seorang laki-laki membukakan pintu mobil untukku. Laki-laki itu menyuruhku mengikutinya, meninggalkan Brielle bersama Zack. Aku dituntun menuju sebuah ruangan berpintu sangat besar. Ketika pintu kayu itu di buka, terlihat sosok yang menyilaukan mata. Dengan tatapan dinginnya, ia menatapku yang perlahan berjalan mendekatinya. Dia Brian Liamford. Idola sejuta umat. Masuk dalam jejeran Aktor dengan bayaran termahal sedunia. Brian yang selalu dipuja-puja, apalagi kenyataan bahwa ia memiliki yayasan amal yang semakin memberinya nilai plus. Orang-orang memanggil Brian dengan julukan 'Nation's Daddy' karena sifatnya yang Daddy Material. Dibeberapa wawancara Brian juga sempat mengatakan cita-citanya adalah menjadi ayah yang baik. Dan siapa sangka, Brian memiliki cita-cita tersebut karena ia sudah memiliki seorang putri. "Kau pastinya tau alasan ku menyeretmu kesini." Brian dengan suara tegasnya berbicara sembari menatap ku dengan tatapan aneh. "Aku.. kurang yakin." Jawabku dengan cengiran canggung. "Jika kau menduga Brielle adalah anakku, maka dugaan mu benar." Brian lalu tersenyum. Jika biasanya aku melihat senyuman itu di televisi, pastinya aku akan terpesona. Tapi saat ini, aku lebih cenderung merasa takut dan merinding, yakin bahwa senyuman itu bukan pertanda baik. "Aku sudah mendengar banyak tentang mu dari Brielle. Aku juga sudah mencari tau segala sesuatu yang berkaitan dengan hidupmu." Aku terdiam, membiarkan Brian melanjutkan kata-katanya. "Keluarga inti berada di kota yang berbeda, tidak punya siapa-siapa di Ibu kota, tidak punya status penting, dan juga..." Apa ini? Dia sekedar membeberkan fakta atau memang ingin meledekku? "...tidak berada dalam hubungan romansa dengan siapapun." Aku tercengang. Dia baru saja mengatakan aku adalah manusia anti sosial dalam beberapa bahasa. "Kondisi mu sekarang ini sangat cocok." Cocok? Cocok untuk apa? Cocok untuk di bunuh? Tidak, aku harus mencari alasan agar lelaki ini tak membunuhku. Dan sebelum Brian sempat berbicara, aku langsung saja berteriak "UANG!". "Saya hanya butuh uang untuk menutup mulut. Saya akan pergi sejauh mungkin dan hidup sesenyap mungkin. Anda bisa menganggap saya tidak pernah ada di dunia ini." Ucapku dengan gugup dan suara yang bergetar. Matanya yang tak pernah berhenti menatap mataku perlahan mulai menghangat. "Uang ya..." Brian berpikir sejenak. "Baiklah!" Ucapnya dengan semangat. Aku menatapnya dengan heran, Brian balik menatapku sambil tersenyum sinis. "Kau akan bekerja denganku." Aku mengedipkan mataku berkali-kali, kaget dengan ucapannya yang tiba-tiba. "Kau akan ku pekerjakan sebagai pengasuh Brielle." Aku membiarkan pria itu melanjutkan kata-katanya. "Aku akan mengabulkan permintaanmu setelah aku cukup yakin kau bisa di percaya. Sebelum waktu itu tiba, kau sedang dalam pengawasanku dan juga orang-orang ku." "Dalam pengawasan?" Aku menatap lantai marmer tempat kaki ku berpijak, sambil mencerna kata demi kata yang pria itu lontarkan. "Bagaimana?" Tanya Brian. "Waktumu hanya tinggal 3 menit, cepat putuskan atau aku akan berubah pikiran." Tanpa pikir panjang, aku langsung menjawab tawaran Brian. "Saya terima!" Jawab ku dengan senyum paksa. Brian membalas senyumanku dengan senyuman yang lebih manis, dan entah kenapa senyuman itu terasa lebih menyeramkan dari sebelumnya. "Kalau begitu, bisa kita mulai hari ini? Asistenku akan menjelaskan apa saja tugasmu." Asistennya yang entah sejak kapan berdiri di belakangku menyuruhku mengikutinya keluar dari ruangan itu. Sesaat setelah kakiku menapak ruangan yang berbeda, Brian berbicara padaku sebelum pintu kayu di hadapanku perlahan menutup. "Oh ya, aku lupa satu hal. Mulai hari ini, kau akan tinggal di rumah ini." to be continued..

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook