Sebuah Tawaran

1016 Kata
Selama ditempat acara itu, Nara sangat menikmati suasana, menikmati makanan yang tersaji dengan sangat enak membuatnya lupa sebentar akan kehidupannya yang sedang sulit, sehingga tak terasa waktunya sudah semakin malam dan mereka harus pulang. Nara akan di antar pulang oleh Nadira dan juga Ayahnya. Nara baru sadar tangannya dingin ketika pintu mobil Nadira sudah tertutup. “Kami akan anter kamu sampai depan kos ya,” kata Nadira sambil mengencangkan sabuk pengaman. “Udah malam banget soalnya.” ucapnya lagi. Nara mengangguk, ia terlalu lelah untuk menolak ajakan itu. Mobil hitam itu melaju pelan membelah jalanan yang terasa lancar karena kurangnya aktifitas pada malam hari membuat jalanan mulus tanpa ada drama macet yang panjang. Terlihat di pinggiran jalan lampu kota memantul di aspal, memecah sunyi di antara mereka. Nadira sibuk dengan ponsel nya, membalas pesan entah dari siapa, sementara Raka duduk di kursi depan, menyetir dengan fokus dan penuh kehati-hatian, sedangkan Nara menatap keluar jendela melihat pemandangan pada malam hari. Tak ada musik yang di putar dan tak ada percakapan di dalam mobil itu, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing, hanya ada terdengar suara mesin mobil dan detak jantung Nara yang entah kenapa terasa lebih jelas terdengar. “Besok kamu ada jadwal kuliah?” suara Raka yang tiba-tiba memecah keheningan tanpa menoleh. “Iya, Pak,” jawab Nara refleks. “Jam siang.” ujarnya lagi. Raka mengangguk singkat. “Kamu kerja sambilan juga?” tanya Ayah Nadira itu lembut. Nara terkejut karena ia tidak merasa pernah bercerita soal itu. “Iya,” jawabnya jujur. “Freelance.” ucapnya. “Pasti capek ya?” tanya Raka datar. Nara tersenyum kecil. “Sedikit.” jawab Nara singkat. Tak lama kemudian mobil berhenti tepat di depan kosnya. Bangunan yang sudah lama dengan cat kusam itu tampak kontras dengan mobil yang mereka tumpangi. Nadira turun lebih dulu. “Kamu tunggu di dalam mobil sebentar ya, Nar. Aku mau ambil charger ku yang ketinggalan.” ucapnya yang berlalu begitu saja meninggalkan sahabatnya dan juga Ayahnya. Ya, Nadira sering bermain di kos Nara. Nara mengangguk, lalu ia meraih tasnya. Saat ia hendak membuka pintu mobil, suara Raka kembali terdengar. “Nara.” panggilnya. Nara pun langsung menoleh. “Saya mau bicara sebentar, boleh?” nada itu tetap tenang, tanpa ada tekanan, seolah ia sedang meminta hal paling biasa di dunia. Nara ragu sepersekian detik, lalu mengangguk dan Nara kembali ke posisi duduknya. Kemudian Raka mematikan mesin. Ia menoleh, menatap Nara secara langsung dan lebih dekat pertama kalinya sejak acara tadi berlangsung. “Kamu tinggal sendiri disini?” tanyanya. “Iya.” jawab Nara singkat. “Orang tua kamu?” tanya Raka. Nara menelan ludah dengan pahit. “Sudah meninggal.” ucapnya menunduk. Raka tidak langsung merespons, tatapannya turun sejenak, lalu kembali naik dan menoleh ke arah Nara yang masih menunduk. "Maaf, saya tidak tau." Ucapnya yang menyesali. Nara tersenyum sedikit dan berkata "gak apa-apa." “Apa kamu kesulitan?” tanyanya pada Nara. Nara tersenyum tipis. “Semua orang juga pasti akan ada merasa kesulitan kan?” ucapnya mulai merasa tak nyaman. Raka menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Lalu ia berkata pelan, nyaris datar, namun setiap katanya terdengar jelas oleh Nara. “Aku punya tawaran untukmu.” ucapnya. Jantung Nara berdegup lebih cepat. “Tawaran apa, Pak?” tanya Nara dengan rasa penasaran dan juga ada rasa khawatir. Raka menarik napas pendek. “Aku butuh seseorang, seseorang yang akan kujadikan istri.” jelasnya. Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa ada emosi dan tanpa kata pengantar. Nara terpaku. “Maaf?” Nara tak mengerti maksudnya. “Ini bukan pernikahan yang biasa,” lanjut Raka, suaranya tetap terdengar stabil. “Ini ada kesepakatan.” ucap Raka lagi. Nara tertawa kecil, refleks. “Pak Raka bercanda, ya?” ucapnya menatap lurus ke depan. Raka tidak ikut tertawa tapi ia juga tidak merasa tersinggung. “Aku tidak bercanda, Nara.” ucapnya yang masih serius. Sunyi kembali turun tapi kali ini terasa berat. “Jika kamu mau, aku akan menanggung semua keperluan mu,” kata Raka. “Mulai dari biaya kuliah, tempat tinggal, semua kebutuhanmu apa pun itu dan juga untuk hidupmu ke depannya.” jelas Raka yang masih menatap lekat sahabat dari putrinya itu. Nara menatapnya balik, jantungnya terus berdegup dengan keras. “Dan sebagai gantinya?” tanya Nara. “Kamu harus mau menikah denganku.” ucapnya enteng. “Kenapa harus saya?” suara Nara hampir berbisik tapi masih bisa di dengar oleh Raka. Raka terdiam sejenak. “Karena kamu tidak mencari apa-apa dariku.” ucapnya, dan terdengar aneh bagi Nara. Nara menggeleng pelan. “Ini terlalu aneh.” lirihnya. “Aku tidak akan memaksamu, tapi coba kamu pikirkan ini baik-baik.” kata Raka. “Anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya.” kata Raka akhirnya. Nara terdiam karena melihat Nadira sudah hampir dekat kearah mobil. Pintu mobil terbuka dan Nadira masuk kembali dengan bawakannya yang selalu ceria. “Eh, kok pada diem sih?” ucapnya tanpa menoleh ke arah keduanya. “Nara capek,” jawab Raka singkat. “Kita pulang ya.” ucapnya menatap putrinya. Nara tak mengucapkan sepatah kata pun dan ia pamit pada sahabatnya. "Makasih ya, Dir." Ucapnya singkat. "Makasih juga Pak." Ucapnya pada Raka tanpa menoleh. "Oke Nar, aku yang harusnya bilang makasih ke kamu, bye sampai jumpa, kamu istirahat ya." Kata Nara sambil tersenyum ke arah sahabatnya itu dan mereka berpelukan. Dan terlihat Raka hanya mengangguk. Malam itu, di kamar kosnya, Nara duduk di tepi ranjang dengan ponsel yang sudah mati di tangannya karena habis baterai. Kata-kata Raka tadi di mobil terus berputar di kepalanya. Seorang istri. Kesepakatan. Tidak memaksamu. Kata-kata itu terus meracuni pikiran nya. Ia tertawa lirih sambil menutup wajahnya. “Ini gila banget,” gumamnya. Akhirnya dia memutuskan untuk membersihkan diri, setelah itu wajahnya tampak lebih segar, dan dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya yang kecil. Namun ketika lampu kamar sudah di padamkan, dan hujan kembali turun di luar, satu hal yang membuatnya terjaga adalah kenyataan pahit yang tak bisa ia abaikan begitu saja yaitu ia memang sedang dalam masa kesulitan. Dan untuk pertama kalinya, ada jalan keluar yang terbuka meski terasa salah sejak awal tawaran itu di utarakan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN