Kehidupan Nara
Nara Cahyani tinggal di tempat kos yang sempit sudah hampir dua tahun terakhir ini. Dari balik jendela kamarnya yang retak di satu sudut, gadis itu menatap lampu jalan yang berpendar kekuningan, tampak samar oleh air hujan yang mengalir di kaca.
Tangannya terlihat menggenggam ponsel, dengan layar yang masih menyala dan menampilkan satu pesan yang masuk sejak sepuluh menit yang lalu, pesan itu dari Bu Marni si pemilik kos.
"Nara, jangan lupa ya, akhir bulan ini kamu harus bayar kos, Ibu tunggu." Ucap Bu Marni mengingatkan Nara.
Ya, Nara sudah di tagih uang kos. Nara menghela napas pelan, bukan karena ia kesal karena sudah di tagih uang kos, tapi karena ia sudah sangat lelah, ia menurunkan ponsel ke pangkuannya, lalu menyandarkan kepala ke dinding. Kamar yang berukuran tiga kali empat meter itu terasa semakin sempit malam ini.
Di meja kecil dekat ranjang tidurnya, ada beberapa tumpukan kertas cetakan naskah yang harus ia edit dan selesaikan sebelum besok pagi, tentunya kerjaan itu dibayar dan upah yang ia terima tidaklah seberapa, tapi itu hanya cukup untuk ia makan dan ongkos kuliah beberapa hari ke depan. Nara sudah terbiasa dengan hidup yang seperti ini, dengan segala yang serba kurang tapi ia tetap selalu bersyukur apa yang selalu dia dapat, kini ia menghitung uangnya yang ntah tinggal berapa lagi dan ia pun harus menelan rasa kecewa itu sendirian.
Sejak Ayahnya meninggal dan Ibunya menyusul sang Ayah pada setahun kemudian, hidup Nara berjalan tanpa ada sandaran, tanpa ada keluarga yang harus nya bisa menjadi tempatnya mengadu tapi kini dia hanyalah seorang diri dan ia harus belajar dengan mandiri dan harus bekerja keras demi bisa menghidupi dirinya sendiri yang akan terus berjalan.
Tak lama kemudian ketukan di pintu terdengar pelan.
“Nara?” suara Bu Marni terdengar dari luar. “Belum tidur, kan?” Bu Marni datang tiba-tiba.
Nara bangkit dan membuka pintu, wanita paruh baya itu berdiri dengan daster bunga-bunga dan rambutnya disanggul asal.
"Ya Bu." Ucap Nara.
“Ibu cuma mau ngingetin lagi,” kata Bu Marni, nada suaranya lebih lembut dari pesan singkatnya. “Ibu tahu kamu anak yang baik, tapi Ibu juga butuh muter uang ini, jadi Ibu mintak tolong sama kamu ya, Ra!” ucapnya menatap Nara.
“Iya, Bu,” jawab Nara cepat. “Saya akan usahakan sebelum tanggal dua puluh lima.” ujarnya lagi.
Bu Marni mengangguk, menatap wajah Nara sejenak dan ia merasa kasihan pada gadis itu. “Kamu kelihatan capek, jangan dipaksain terus harus tetap jaga kesehatan.” ujarnya yang merasa kasihan pada gadis itu.
Nara tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bu, saya sudah biasa.” jawabnya lembut.
Sebenarnya Bu Marni adalah orang yang baik walaupun terkadang dia sedikit cerewet tapi terkadang juga ia orang yang perduli pada Nara.
"Ya sudah, Ibu pulang dulu ya, maaf Ibu sudah mengganggu waktu istirahatmu." Ucap Bu Marni pamit.
Nara terlihat mengangguk dan tersenyum.
Setelah pintu tertutup kembali, Nara duduk di tepi ranjang, matanya jatuh pada kalender kecil yang berada di dinding. Tanggal dua puluh lima ia lingkari dengan pulpen berwarna merah, terhitung ada lima hari lagi.
Lima hari yang sangat cepat bagi Nara.
Ponselnya kembali bergetar, membuyarkan lamunan Nara yang masih menatap lekat kalender itu tapi kali ini nama Nadira muncul di layar ponselnya.
“Nara, besok jadi ikut aku ke acara Ayahku, kan?” suara Nadira terdengar ceria begitu panggilan terhubung. “Aku nggak mau datang sendirian loh, jadi kamu harus mau ya.” ucap Nadira yang sedikit memaksa.
Nara terdiam sejenak, ia hampir lupa soal ajakan Nadira itu.
“Aku lihat dulu ya, Dir,” jawabnya hati-hati. “Kayaknya aku ada kerjaan.” lanjut Nara dengan suara yang memelas.
“Ah, kamu selalu begitu, sekali ini aja cuma makan malam formal kok, Ayahku jarang ngajak orang luar.” ucapnya lagi memohon.
Nama Ayah yang disebut Nadira entah kenapa membuat d**a Nara terasa sedikit tidak nyaman, bukan karena takut, hanya ada sesuatu yang sulit ia jelaskan dalam pikirannya.
“Nanti aku kabarin lagi ya,” akhirnya Nara berkata.
"Oke, aku tunggu loh Ra tapi kamu harus mau ya, bye sampai jumpa." ucap Nadira langsung memutus panggilan itu.
Setelah sambungan terputus, Nara menatap langit-langit kamar. Ia tidak tahu bahwa keputusan kecil yang akan ia ambil besok akan mengubah seluruh hidupnya.
Nadira adalah sahabatnya, karena ada Nadira hidup Nara jadi sedikit ceria, kehadirannya membuat Nara bisa melupakan kesedihaan nya sesaat.
Pada keesokan malamnya, gedung hotel itu berdiri megah di tengah kota. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan, membuat Nara merasa seperti orang asing dan merasa dirinya tak pantas untuk berada ditempat itu.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem bukan gaun yang mahal, tapi itu baju yang paling bagus yang ia miliki saat ini.
“Tenang aja,” bisik Nadira sambil menggandeng lengannya. “Ayahku orangnya nggak galak, cuma ya pendiam.” ujarnya.
Saat Nara pertama kali melihatnya, pria itu sedang berdiri di dekat jendela besar, berbincang singkat dengan seorang pria lain. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap, setelan jas hitamnya jatuh dengan sempurna di tubuhnya. Wajahnya yang terlihat tegas, nyaris tanpa ekspresi, tapi tatapannya tajam dan tenang sekaligus.
Entah kenapa, langkah Nara terhenti.
“Itu Ayahku,” kata Nadira bangga.
Pria itu menoleh dan tatapan mereka bertemu.
Hanya satu detik, namun Nara merasa seolah ada sesuatu yang bergerak di dadanya bukan rasa ketertarikan, bukan juga rasa takut tapi lebih seperti firasat.
Tak lama pria itu langsung menghampiri mereka.
“Nadira,” suaranya rendah dan dalam. “Kamu datang, Nak.” ucapnya lembut.
“Iya, Yah, ini Nara, sahabatku.” ucapnya memperkenalkan.
Pria itu menatap Nara sekali lagi, kali ini lebih lama.
“Raka Mahendra Atmaja,” katanya akhirnya, mengulurkan tangan. "Saya Ayahnya Nadira." Lanjutnya lagi.
“Nara Cahyani,” jawab Nara pelan, menyambut uluran tangan itu.
Sentuhan singkat, namun entah kenapa, Nara menarik tangannya sedikit lebih cepat dari yang seharusnya.
“Selamat menikmati acaranya,” kata Raka singkat, lalu kembali ke tempatnya.
Nara menoleh ke arah Nadira. “Ayah kamu karismatik.” ucapnya.
Nadira tertawa kecil. “Semua orang bilang begitu tapi beliau sulit untuk didekati.” ujar Nadira.
Nara tidak tahu kenapa, tapi ia merasa pria itu justru sudah melihatnya lebih dekat daripada siapa pun malam itu, dan ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu hanyalah awal.
Awal dari sebuah hidup yang tak lagi memberinya pilihan.