36. Tangis Bahagia

1916 Kata

“Seperti yang Bapak katakan minggu sebelumnya, hari ini saya datang secara resmi untuk melamar putri Bapak, Marissa Larasati untuk menjadi pendamping hidup saya di masa kini dan seterusnya.” Risa melongo, gadis itu masih tidak bisa mengerti situasi yang sebenarnya saat ini. Masih melekat diingatannya tadi ketika Divan memang benar-benar datang sesuai janjinya seminggu lalu, tapi bahkan sampai detik Divan datang pun Risa sama sekali tidak mengetahui apa tujuan pria itu datang hari ini. Selama seminggu terakhir Divan sama sekali tidak menghubunginya, ah mungkin menghubungi untuk menanyakan kabar Risa, tapi setelahnya? Pria itu akan tenang dan tidak menganggu Risa lagi. Dan itu benar-benar membuat Risa cemas bukan main, mulai memikirkan mungkin apa yang Tiwi ataupun Karlina katakan bisa saj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN