Darren berhadapan dengan Rose Guan di ruang minum teh. Gadis itu memicingkan mata pada Darren sampai membuat bulu kuduk Darren merinding. “Jika Nona masih marah, sebaiknya aku pergi saja. Silakan istirahat, Nona.” Darren tak tahan ditatap seperti musuh, meski mereka memang bukan teman. “Tetaplah diam di sana. Jika kau melangkah, kau akan keluar selamanya dari rumah ini,” ancam Rose Guan. Apakah ini ancaman dari Nona besar? Oh, sudah jelas! Darren Wei menghela napas seraya memutar bola mata malas. Darren Wei berdiri seperti patung. Ia tahu ancaman Rose tidak main-main. Gadis itu bisa saja memecatnya kapan saja, dan ia akan kesulitan menjalankan misi. “Pertanyaan ini mengganjal dalam pikiranku. Siapa sebenarnya atasanmu, Darren Wei?” Rose bertanya seraya mendongak, menatap sengit pada D

