Guntur menggelegar di langit yang pekat, memayungi kediaman James dengan atmosfer yang mencekam.
Di balik pintu kayu jati kamar yang terkunci, Yara menempelkan telinganya pada daun pintu, menyerap setiap kata yang dilontarkan ayahnya di koridor bawah.
Suara James terdengar parau namun tajam, merencanakan penghancuran martabat Steven dan masa depan Lucas seolah mereka hanyalah pion dalam papan catur bisnisnya.
“Aku akan memastikan dunia melihat mereka sebagai aib,” suara James menggema. “Dan Steven akan menyerahkan segalanya untuk menutupi ini.”
Yara menarik diri dari pintu dengan napas yang memburu. Matanya tertuju pada Lucas yang meringkuk ketakutan di atas ranjang.
Tekadnya sudah bulat; ia tidak bisa menunggu Steven yang ia anggap sebagai sumber petaka ini, tidak pula bisa menyerah pada belas kasihan ayahnya yang berhati batu.
“Lucas, Sayang, pakai jaketmu sekarang,” bisik Yara sambil menarik tas kecil yang sempat ia sembunyikan di bawah ranjang.
“Mama, kita mau ke mana? Di luar gelap sekali,” tanya Lucas dengan suara bergetar.
“Kita akan pergi ke tempat yang aman. Percaya pada Mama, ya?” Yara membantu Lucas mengenakan tudung jaketnya.
Yara melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang. Ia membuka kunci selotnya perlahan, membiarkan udara dingin dan rintik hujan mulai masuk ke dalam kamar.
Dengan bantuan kain sprei yang dipuntir kuat dan diikatkan pada kaki ranjang yang berat, dia mulai menuruni balkon setinggi tiga meter itu sambil mendekap Lucas di punggungnya.
“Pegang erat leher Mama, Lucas. Jangan dilepas,” perintah Yara tegas.
Kaki Yara menyentuh rumput yang basah dengan sedikit guncangan.
Tanpa memedulikan gaunnya yang mulai kotor dan basah kuyup, dia berlari menembus kegelapan, menghindari sorot lampu penjaga, dan merangkak keluar melalui celah pagar taman yang sudah lama rusak.
Satu jam kemudian, hujan turun semakin lebat, berubah menjadi badai yang menusuk tulang.
Yara berdiri di pinggir jalan raya yang sepi, mencoba menahan taksi dengan tubuh yang menggigil hebat.
Dia tidak membawa ponsel, benda itu telah disita James. Dia juga tidak ingin menghubungi Steven; baginya, mencintai Steven adalah racun yang membawa badai ini ke hidupnya.
“Taksi! Berhenti!” teriaknya parau.
Sebuah taksi tua berhenti. Yara segera masuk ke dalam, memberikan alamat sebuah kontrakan usang di pinggiran kota yang sempat ia sewa secara rahasia beberapa hari lalu melalui seorang kenalan lama.
Dia berniat menghilang sepenuhnya dari jangkauan keluarganya dan radar Steven.
Di dalam taksi, Yara merasakan dahi Lucas. Jantungnya mencelos. Panasnya sangat tinggi. “Lucas? Sayang, bangunlah.”
“Dingin, Mama ... Lucas pusing,” gumam anak itu dengan bibir yang mulai membiru.
Yara panik. Ia merogoh tasnya, namun baru teringat bahwa dompetnya masih berada di dalam tas tangan yang ditahan oleh James.
Napasnya tercekat, rasa putus asa hampir menguasainya sebelum jemarinya menyentuh sesuatu di saku jaketnya.
Dia menarik keluar beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang lusuh, sisa kembalian belanja keperluan butik beberapa hari lalu.
“Terima kasih, Tuhan,” bisiknya sambil menghitung uang itu. “Tuan, tolong berhenti di apotek terdekat sebelum ke alamat tadi. Anak saya butuh obat.”
Taksi itu berhenti di depan sebuah apotek yang masih menyala terang di tengah badai. Yara turun dengan terburu-buru, menggendong Lucas yang terkulai lemas di pundaknya.
Denting bel pintu apotek menyambut kedatangannya yang berantakan; rambut yang lepek, wajah pucat, dan pakaian yang basah kuyup.
“Tolong, berikan saya obat penurun panas terbaik untuk anak-anak,” ucap Yara kepada apoteker di balik meja kasir.
Apoteker itu menatapnya dengan pandangan curiga, namun tetap bergerak mengambil botol obat.
Sambil menunggu, mata Yara tidak sengaja tertuju pada layar televisi kecil yang tergantung di sudut apotek. Sebuah tayangan berita darurat sedang disiarkan.
“Pemberitahuan penting bagi masyarakat. Kepolisian Metro kini tengah melakukan pencarian terhadap Yara Patricia Caroline.
“Wanita ini dilaporkan telah melakukan penculikan terhadap seorang anak di bawah umur bernama Lucas.
“Laporan resmi ini diajukan oleh ayah kandungnya sendiri, James Arthur, yang menyatakan bahwa keselamatan sang anak terancam di tangan pelaku ....”
Wajah Yara terpampang jelas di layar kaca, berdampingan dengan foto Lucas. Dunianya seolah runtuh seketika.
“Ini obatnya, Nona. Totalnya delapan puluh lima ribu,” suara apoteker itu membuyarkan lamunan Yara.
Yara segera meletakkan uangnya dengan tangan gemetar. Dia merasakan pandangan apoteker itu mulai berpindah dari wajahnya ke arah televisi, lalu kembali ke wajahnya lagi.
“Ada yang salah, Nona?” tanya apoteker itu dengan nada menyelidik, tangannya mulai meraba gagang telepon di bawah meja.
“Tidak. Terima kasih,” jawab Yara singkat. Ia menyambar botol obat itu dan berbalik secepat mungkin menuju pintu keluar.
“Tunggu! Nona, Anda mirip dengan—”
Yara tidak menunggu kalimat itu selesai. Ia berlari kembali ke taksi dan memerintahkan sopir untuk segera memacu kendaraannya.
Di dalam mobil yang melaju, Yara mendekap Lucas seolah-olah seluruh dunia sedang berusaha merenggutnya.
“Mama ... kenapa namamu ada di televisi?” tanya Lucas dengan suara lemah, matanya terbuka sedikit, menatap ibunya dengan kebingungan.
Yara mengecup kening Lucas yang membara, air matanya kini bercampur dengan sisa air hujan di pipinya. “Hanya salah paham, Sayang. Tidurlah. Sebentar lagi kita sampai di rumah baru kita.”
Taksi itu akhirnya berhenti di sebuah gang sempit dengan deretan kontrakan usang yang berdinding kusam.
Yara turun, membayar sopir, dan berjalan cepat menuju pintu bernomor 12. Di dalam ruangan sempit yang berbau lembap dan hanya beralaskan kasur tipis itu, Yara merebahkan Lucas.
Ia membuka botol obat dengan tangan yang masih bergetar. “Minum ini dulu, Lucas. Setelah ini panasnya akan turun.”
“Mama ... apakah Papa Steven akan menjemput kita?”
Yara terdiam. Nama itu seperti luka yang disiram cuka. “Tidak, Lucas. Kali ini hanya kita berdua. Kita tidak butuh siapa pun lagi.”
Yara duduk di lantai semen yang dingin lalu menyandarkan kepalanya pada tepi kasur sambil memandangi putranya yang mulai terlelap karena pengaruh obat.
Dia tahu, di luar sana, polisi dan anak buah ayahnya sedang menyisir kota.
Steven mungkin sedang menggunakan seluruh kekuasaannya untuk mencarinya.
Namun bagi Yara, melarikan diri adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai penderitaan ini, meskipun ia harus menjadi buronan di negerinya sendiri.
“Aku akan melindungimu, Lucas,” bisik Yara di tengah kegelapan kontrakan. “Bahkan jika aku harus menghilang dari dunia ini.”