Layar televisi di ruang kerja Steven masih menampilkan wajah Yara dengan label merah bertuliskan “Buronan Penculikan”. Steven menghantamkan kepalan tangannya ke meja jati hingga guncangannya menjatuhkan gelas kristal di atasnya. Gurat kemarahan di wajahnya tidak lagi dapat disembunyikan. “James, kau benar-benar licik,” desis Steven dengan suara serak. Dia tahu persis bahwa James melaporkan putri kandungnya sendiri bukan karena khawatir, melainkan untuk mengunci pergerakan Yara agar tidak bisa keluar dari kota ini. James ingin dunia memburu Yara, agar wanita itu tidak punya tempat untuk bersembunyi selain kembali ke telapak tangannya. “Roy!” panggil Steven dengan lantang. Asisten pribadinya segera masuk dengan wajah kaku. “Ya, Tuan?” “Abaikan protokol resmi. Hubungi jaringan kita

