Malam di penthouse itu terasa semakin mencekam dalam kesunyian yang dingin. Jam dinding digital di atas nakas menunjukkan pukul dua pagi, namun kantuk seolah menjadi musuh yang enggan berdamai dengan Yara. Dia terus membolak-balikkan tubuh di atas ranjang sutra yang mahal, namun pikirannya tetap tertuju pada retakan hidupnya yang kian menganga. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah James yang murka dan senyum licik Nadine menari-nari dalam kegelapan. Dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban, Yara memutuskan untuk bangkit. Dia butuh air minum untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Namun, saat melewati lorong, ia melihat seberkas cahaya remang keluar dari celah pintu ruang kerja Steven yang sedikit terbuka. Yara melangkah ragu. Dia mendekat dan mengintip ke da

