5. Kejutan

2074 Kata
"Kayaknya itu deh Wira, beb" sambil menunjuk mobil CR-V hitam yang memasuki lobi gedung pasca. "Oh itu dia, sini aku bantuin masuk mobil" Kanaya dan Cia berjalan menuju mobil hitam yang dikendarai Wira. Cia lalu membantu Kanaya naik mobil. "Ci makasi loh uda bantuin Kanaya" sapa Wira pada Cia. "Iya... uda tugas gue lagi Wir. Gue juga makasi ya loh uda mau anter jemput sabahat gue. Jagain ya. Uda lecet soalnya, jangan nambah lecet lagi. Makin jelek aja sabahat gue" celotehnya sambil berdiri di dekat jendela mobil. "Duh kalian berdua so sweet banget sih. Segitunya sama aku" Kanaya terharu mendengarkan keduanya. Kanaya merasa beruntung punya dua teman ssperti Cia dan Wira. Sungguh mereka baik sekali. "Emm, Cia makan dulu yuk. Ntar gue anter sekalian" ajak Wira pada Cia. "Eh iya ayuk kita makan dulu yuk" dengan ceper menyaut dan menarik tangan Cia agar ikut dengan mereka. "Aduh sorry banget. Gue mau jemput si Damar di Bandara" sambil mengernyitkan dahinya. Damar itu pacarnya Cia. "Yah, yauda deh lain kali aja ya" kekecewa terselip di wajah Kanaya. "Ok siap. Kayak ngak pernah makan bareng aja beb" sambil menoel pipi Kanaya. "Yauda Cia, kita balik duluan ya" pamit Wira pada Cia. "Da Cia. Ati-ati ke bandaranya" sambil melambaikan tangannya Kanaya dan Wira berlalu pergi. Di jalan pulang. "Kamu kenapa ngak nunggu di kelas aja sih" tiba-tiba Wira melayangkan protes pada Cia. "Iya gapapa. Sambil belajar jalan juga. Biar biasa" Kanaya memcoba membuat alasan. Padahal dia ngak mau ngerepotin Wira, makanya jalan sendiri dari kelas ke loby. Sedikit di bantu Cia juga sih. "Emang susah ngasih tau kamu. Keras kepala banget" tanpa canggu menarik hidung Kanaya. "Sakit" membalas memukul lengan Wira. Wira tertawa melihat Kanaya yang kesal padanya. Laki-laki itu merasa gemas sekali jika melihat Kanaya ngambek kesal begini. "Iya deh. Maaf. Aku beliin ice cream deh" dengan nada membujuk layaknya membujuk anak kecil. "Ice cream plus big mac dan kentang goreng" sahut Kanaya yang sedang merajuk. "Wah ternyata kalo ngambek banyak juga makannya. Ok ngak masalah" menyanggupi permintaan Kanaya. Kanaya menarik kedua sudut bibirnya. Menoleh ke arah Wira yang juga tersenyum mendengar permintaan Kanaya. CR-V hitam itu, melaju ke restoran cepat saji di daerah pusat kota Malang. "Mau dine in apa take away, Nay" tanya Wira pada Kanaya. "Take away aja ya. Kasian kamu kalo harus gendong aku ke dalem restoran" jawab jujur Kanaya. "Oh kalo dine in, maunya di gendong. Suka banget di gondong?" Jawaban Kanaya membuat Wira salah fokus dan meledek Kanaya. "Ngak gitu Wir" menatap tajam ke arah Wira yang tertawa senang meledek Kanaya. Mereka menunggu antrian drive thru. Selagi menunggu, Kanaya sibuk melihat menu dari aplikasi restoran cepat saji itu di ponselnya. "Wira, mau pesen apa?" menyodorkan ponselnya, meminta Wira untuk melihat menunya. "Aku samain aja kayak kamu" "Yakin?" menatap heran ke arah Wira. "Iya yakin samain aja. Sini kamu pesen aja. Biar aku yang pesenin" menatap yakin ke arah Kanaya. "Aku mau big mac, kentang goreng, ice cream, green tea, sama nugget. Uda aku pesen itu aja" sambil tersenyum lebar Kanaya seperti sedang kerasukan karena memesan menu sebanyak itu. Netra coklat Wira membola, ternyata Kanaya beneran pesan banyak seperti yang Kanaya ucapkan. Wira bukannya tak sanggup bayar. Tapi dia tak mengira bahwa perempuan kecil dan tak terlalu tinggi itu ternyata memiliki nafsu makan melebihi tubuhnya. "Nay, itu beneran kamu mau makan sebanyak itu?" "Iya, kenapa emang?" dengan raut wajah datar biasa saja. "Bukan, maksudku kamu sanggup ngabisin semuanya" mencoba mengkofirmasi lagi pada Kanaya. Karena Wira tipa manusia yang ngak suka buang-buang makanan. "Iya yakin. Abis pasti. Kalopun ngak abis kan ada kamu yang bakal aku paksa ngabisin" Kedua lalu tertawa, memecah suasana sore yang sedang mendung. Wira memesan semua pesanan Kanaya, sedangkan untuk dirinya sendiri dia memesan big mac dan ice coffe. Mereka sedikit berebut untuk membayar. Kanaya tidak mau merepotkan Wira lebih banyak lagi. Dia sudah merasa amat berterima kasih karena Wira mau mengantarnya ke kampus hari ini. Akan terlihat ngelunjak kalo harus Wira juga yang bayar makananya. Di sisi lain, Wira tidak mau Kanaya membayar makanan untuknya. Menurutnya laki-laki pantang dibayarin perempuan. Pada akhirnya, Wira yang membayar karena loket untuk membayar berada dekat dengan posisinya. Sedangkan Kanaya harus rela jadi perempuan ngelunjak yang makannya banyak banget. Makanan yang mereka pesan sudah siap dengat cepat. Kanaya membuka paper bag dan mengeluarkan satu persatu makanannya. "Lah Wira gimana makannya kan lagi nyetir" Kanaya baru tersadar. "Ya suapin" dengan santai dia menjawab. "Atau kita minggir dulu dech, kamu makan dulu" pura-pura tak mendengar permintaan Kanaya. Wira menarik kedua sudut bibirnya. Wira memilih berlalu, karena keburu macet kalo harus berenti untuk makan. Jam-jam pulang kantor membuat jalan padat sekali dan lebih sering macet. "Ngak usa berenti ya Nay, nanti keburu macet kamu mala malem sampek rumahnya" "Kamu gimana donk?" sedikit merasa bersalah. "Gapapa, aku minum kopi nih. Nanti makan big macnya di rumah aja. Kamu aja uda buruan makan. Abisin tuh" menatap tulus ke arah Kanaya. Kanaya mulai memakan big mac kesukaanya. Tentu saja kentang dan nugget juga ia cemili. Tapi Kanaya merasa tak enak hati pada Wira. Dalam hatinya. "Suapin engak ya. Ngak enak juga makan sendiri" gumamnya. Akhirnya Kanaya memilih menyodorkan kentang goreng ke mulut Wira. "Aaah..." suaranya terdenger lembut seperti ibu-ibu menyuapi anaknya. Wira terkejut, balik menatap Kanaya. "Ayo buka mulutnya" tungkas Kanaya sedikit tak sabar Wira tak segera membuka mulut. Tanpa ragu Wira menggigit kentang gorang di tangan Kanaya. "Enak kan" "Iya enak, apalagi kamu yang suapin" Wira mengerluarkan gombalannya. Bukanya merasa tersanjung, Kanaya mala balik meledek Wira. "Tapi bisanya ya Wir, makanan kalo bayar sendiri kurang enak. Kayak punyaku nih gratis. Enaknya dua kali lipat" Wira langsung tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa Kanaya mendadak lucu. Receh sekali perempuan itu. "Kamu tuh, ada-ada aja" menatap Kanaya dan meletakkan tangannya di ujung kepala Kanaya. Sedikit mengelus ujung kepala Kanaya. "Wir, suka banget sih ngelus kepala aku? Aku bukan kucing ya" tiba-tiba saja Kanaya nyerocos berkata seperti itu sambil menggigit big macnya. "Abis gemes tau" menarik lagi tangannya. Kanaya masih sibuk menghabiskan makanannya. "Kok ngak disuapin lagi. Aaah... lagi donk" Wira membuka mulutnya dan mengarahkannya ke dekat Kanaya. Kanaya memberikan big macnya pada Wira. Yang segera Wira gigit tanpa canggung. Kanaya terus menyuapi makanan di hadapannya kepada Wira. Berbagi semua makananya. Menikmati perjalanan pulang sambil makan berdua di mobil. Ice cream Kanaya belum habis ketika CR-V hitam yang di kendarainya bersama Wira tiba di depan rumah. "Uda abisin dulu, baru turun" meminta Kanaya agar tidak terburu-buru. "Iya, ayo ahhh" menyodorkan ice cream ke mulut Wira. Wira segera membuka mulut dan melahap ice cream itu. Berulang kali Kanaya mnyuapim ice cream itu pada Wira. "Nay ini jadi aku semua yang makan ice cream" setengah kesal karena menyuapinya terus menerus. "Biar cepet abis Wir, aku mau turun. Hehe" menarik kedua sudut bibirnya, melemparkan senyumnya pada Wira. "Dasar" sekali lagi Wira mengelus ujung kepala Kanaya. "Kamu iih mesti" menarik tangan Wira dari ujung kepalanya. Kanaya memprostes sekali lagi perlakuan manis dari Wira. Wira membantu Kanaya turun setelah ice cream Kanaya habis. Wira menuntun Kanaya masuk kedalam pagar rumah Kanaya. Kanaya terkejut melihat mobil sang mamanya terparkir di garasi. "Loh mobil mama. Jangan jangan mama di sini" mengernyitkan dahinya. "Mama kamu" tanya Wira yang bingung dengan perkataan Kanaya. Belum sempat Kanaya menjelaskan pada Wira. Tiba-tiba wanita paruhbaya yang sedang mereka bicarakan berdiri di depan pintu rumah. "Eh uda dateng anak mama" sambi melemparkan senyum ke arah Kanaya yang berdiri bersama Wira di dekat pagar. Netra coklat Kanaya membola, melihat mamanya muncul dihapanya. Kanaya amat terkejut seperti mendapatkan kejutan. Bedanya dia harus memberikan penjelasan panjang kepada mamanya perihal kondisinya dan juga menjelaskan laki-laki yang baru saja dilihat mamanya. "Mama kok ngak bilang mau kesini" berjalan menghampiri sang mama dan mencium tangan ibunya. "Mama abis jemput ayah kamu di Juanda. Terus ayah kamu minta mampir kesini. Katanya kangen sama kamu" jelas sang mama pada Kanaya. "Ini siapa?" Lanjut sang mama mempertanyakan laki-laki yang pulang bersama puntrinya. "Ini Wira ma, temen aku di kampus" "Kenalin tante, saya Wira teman Kanaya" mengulang penjelasan Kanaya. Maklumlah, sama seperti Kanaya, Wira juga terkejut tiba-tiba harus berkenalan dengan mama Kanaya. Dia belum terbayang akan secepat ini bertemu calon ibu mertunya (kalo diterima sama Kanaya). Wira sedikit gugup dan canggung. "Oh temen sekelas?" Lanjut mama Kanaya penasaran. "Iya" jawab Kanaya "Ngak" jawab Wira Mama Kanaya bingung mendengar jawaban Wira dan Kanaya yang berbeda. Sebenarnya ada apa ini. "Jadi teman sekelas apa ngak?" "Jadi gini ma, kita kemarin sekelas pas mata kuliah umum gitu" menjawab penuh canggung. Kanaya amat paham sifat ibunya yang amat kepo dengan kehidupannya. Mamanya akan bertanya siapa Wira dan banyak hal tentang Wira pasti di pertanyakan. Makanya dia menjawab iya, Wira teman sekelas untuk mempersingkat obrolan ini. Kasian Wira kalo harus di introgasi mama dulu. Maklumlah Kanaya adalah anak tunggal. Mamanya selalu over protective padanya. Termasuk tak boleh kos saat kuliah saat ini, dan lebih memilih tinggal dengan kakak sepupunya. "Nay kok" Wira menyela penjelasan Kanaya, karena merasa penjelasan Kanaya bukan hal yang sebenarnya. Wira memang tak suka berbohong apalagi menutupi sesuatu. "Saya teman Kanaya tante di kampus. Tapi beda jurusan juga. Kami ngak sekelas. Berbeda angkatan juga. Begitu tante" jelas Wira dengan amat sangat jujur. Kanaya lupa mengajak Wira bekerjasama sedikit di depan sang mama. Alhasil upayanya berbohong di bongkar habis oleh Wira. "Oh gitu. Teman di kampus ya. Masuk dulu yuk. Uda hampir maghrib, sekalian sholat di sini ya" ajak mama Kanaya yang jelas-jelas sengaja melakukan itu untuk mengintrogasi Wira. Wira dengan senang hati menyetujui permintaan mama Kanaya. Mana mungkin Wira melewatkan kesempatan untuk mengenal orang tua perempuan yang ditaksirnya. Raut wajah Kanaya mendadak berubah cemas. Dia teringat bagaimana dulu Ario di berondong banyak pertanyaan oleh sang mama ketika pertama kali berkunjung ke rumah Kanaya. Dia tak mau teman barunya ini memdapatkan perlakuan seperti itu dari mamanya. "Wira dimana rumahnya" Baru saja Wira duduk sudah mendapatkan pertanyaan pertama. Dengan mudah Wira menjawab pertanyaan pertama. Rumah Wira berada di daerah Sengkaling (arah ke Batu), cukup jauh dengan Kanaya yang tinggal di perbatasan selatan Kota Malang. "Jauh sekali rumah Wira. Kenapa pulangnya bareng Kanaya?" Mama Kanaya mulai curiga. "Iya tante, sengaja mengantar Kanaya pulang karena kaki Kanaya masih sakit" dengan santai Wira menjelaskan pada Mama Kanaya. "Baik sekali ya Wira. Makasi ya mau bantuim anak tante" Tak lama terdengar adzan magrib berkumandang. Mama Kanaya mengajak Wira untuk sholat bersama. Usai sholat Kanaya langsung menarik Wira ke teras depan. "Wira, sorry banget ya. Mama aku emang begitu sama teman laki-lakiku" menatap Wira dengan raut merasa bersalah. "Gapapa, cuma di tanya ditu doank Nay Wajar aja" meyakinkan bahwa dia gapapa. "Kamu abis ini pamit aja ya, nanti kamu kemaleman. Aku takut mama bakal tanya macem-macem" masih cemas dengan keadaan tak terduga ini. "Iya Kanaya bawel abis ini aku pamit kok. Mau siap-siap ketemu dosen juga buat besok" mencubit sedikit pipi Kanaya. Wira emang gemes banget kalo liyat Kanaya cemas begini padanya. Tak lama Wira pamit untuk pulang. Tentu berpamitan pada mama dan ayah Kanaya. Kanaya mengantar Wira sampai ke depan pagar rumahnya. "Makasi ya Wir, kamu ati-ati di jalan" melambaikan tangan kanannya. "Iya, makasi juga uda dikenalin sama camer aku" sambil melempar senyunya pada Kanaya. Kanaya terdiam sejenak, dan menarik kedua sudit bibirnya. "Dasar seharian gombal mulu" gumamnya sendiri menyaksikan CR-R hitam yang semakin menjauh di ujung jalan. "Mau diliyatin sampek kapan Nay" suara Mamanya membuyarkan lamunan Kanaya. "Emmm ini mau masuk kok Ma" membalik tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Di meja makan ayah Kanaya sudah siap untuk makan malam. "Kaki kamu kenapa?" Tanya ayah Kanaya yang sejak tadi ingin bertanya tentang kondisi putrinya itu. Namun karena Kanaya harus menemani Wira, maka ayahnya baru sempat bertanya padanya. "Keserempet angkot yah" jawab Kanaya sedikit takut karena belum memberi tahu komdisinya pada orang tuanya. Bukanya sang ayah, mala mama Kanaya yang merespon pernyataan Kanaya. "Kok bisa sih Nay, sampek di serempet angkot. Ngak bilang lagi sama mama dan ayah. Kamu itu anak kita satu-satunya jangan aneh-aneh deh. Kalo ada apa-apa bilang. Kamu uda 22 tahun harus bisa jaga diri. Apa perlu mama pindah kesini juga jagain kamu. Mama tuch ngak bolehin kamu kos ya begini takut kamu kenapa-napa. Untunga aja ada icha di sini. dst..." Mama Kanaya jadi ceramah panjang sekali. Kanaya sudah menduga akan seperti ini. Kak icha pasti terus di desak untuk bilang pada mama. Yah, untungnya Kanaya sudah biasa mendengar mamanya berceloteh. Dan yang paling penting Wira ngak diinterogasi karena adzan magrib menyelamatkan. (Bersambung) Terima kasih telah membaca episode ini.??? Mohon berikan komentar/saran membangun untuk judul ini.??? Follow me? IG Maylafaisha.rl
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN