4. Perlahan

1751 Kata
Kanaya memang sudah sehat dan boleh pulang dari rumah sakit. Tapi kondisi kakinya sepertinya belum bisa kembali seperti sediakala. Masih butuh beberapa kali terapi dan latihan sebagai program pemulihan. Peristiwa kemarin memang membuat tulang di bagian kaki Kanaya bergeser. Butuh waktu memang untuk kembali normal kembali. Bersyukurnya tidak sampai patah tulang. Hari ini Kanaya memutuskan kembali kuliah. Dia merasa sudah terlalu lama ijin kuliah. Sudah banyak ketinggalan tugas di beberapa mata kuliah. Kanaya bersiap ke kampus, kali ini Kanaya berangkat ke kampus di jemput Wira. Dia memilih berlatih berjalan dengan tongkat sambil menunggu Wira datang. Kanaya memikirkan ucapan Wira saat mereka telponan tadi malam. WIRA : "Kamu uda bisa jalan sendiri emangnya" dengan lembut Wira bertanya pada Kanaya. KANAYA : "Bisa kok Wir, aku uda latihan di jalan. Lagian aku bawa tongkat ke kampus. Insyaallah aman. Aku uda lama banget bolos kuliah" Kanaya berusaha meyakinkan Wira. Wira amat khawatir dengan keputusan Kanaya yang mau kuliah padahal masih susah jalan dengan tongkat. WIRA : "Ke kampusnya gimana? Aku antar jemput aja ya?" pinta Wira yang masih khawatir pada Kanaya. KANAYA : "Ngak usa Wiraa. Aku bisa naik taksi online" tegas Kanaya yang mulai kesal pada Wira. WIRA : "Tapi Nay, abang taksi online ngak mungkin bantuin kamu naik turun taksi" dengan nada agak tinggi Wira menjawab Kanaya. KANAYA : "Kamu kenapa jadi ribet gini sih Wir?" Kanaya mulai ketus dan tersulut emosi. WIRA : "Aku KHAWATIR Kanaya" dengan tegas Wira menyatakan apa yang dia rasakan pada Kanaya sekarang. Mereka terdiam, hening tanpa suara untuk beberapa detik. Hingga Kanaya memecah keheningan itu. KANAYA : "terserah kamu deh Wir" tetap terdengar ketus pada Wira. WIRQ : "Ok. Aku jemput besok jam 7. Karena semua terserah aku. Wassalamualaikum" dengan yakin Wira menutup sambungan teleponnya dengan Kanaya. Tanpa sadar Kanaya menarik kedua sudut bibirnya. Merasa sedikit geli pada perutnya. Dan tersadar, betapa meraka amat kekanakan. Dalam hatinya, posesif banget sih Wira. Padahal baru aja temenan. Cia aja ngak gitu banget. Kanaya menyadari Wira mungkin merasa bersalah padanya. Sebenarnya Kanaya menolak saat Wira mengundangnya datang ke seminar tempo hari. Tapi Wira memaksa dengan dalih biar banyak audience yang datang di seminarnya. Mereka semakin intens berkomunakasi. Sejak kedatangan Wira ke rumah sakit pagi itu. Dari chatting hal-hal lucu. Sampai telponan setiap malam untuk sekedar tanya kondisi perkembangan kaki Kanaya. Wira memang tertarik pada Kanaya. Tapi entah dengan Kanaya, sejauh ini mereka terlihat semakin dekat. Wira tiba di rumah Kanaya, membawa Honda CR-V hitam. Wira sebenarnya lebih sering naik motor kemana-mana. Tapi karena harus menjemput Kanaya,ia meninggalkan motor kesangannya dirumah. Tidak mungkin menjemput Kanaya yang sedang sakit dengan motor. Apalagi harus bawa tongkat dan tas Kanaya. Terlalu ribet jika mambawa motor. Makanya dia putuskan membawa mobil saja. Biar Kanaya lebih nyaman juga. "Loh Wira, aku kira kamu bawa motor" sapa Kanaya yang melihat Wira memasuki pagar rumahnya. Wira memang sudah tahu dimana rumah Kanaya. Dia ikut mengantar Kanaya saat pulang dari rumah sakit. "Kamu khan lagi sakit, mana bisa naik motor" sahut Wira yang tengah berdiri dihadapan Kanaya. Kanaya menarik kedua sudutnya bibirnya. Merasa tersipu, kok Wira care banget ya. "Aku uda siap sebenernya mau naik motor. Uda pakek tas ransel sama sepatu snikers segala" Wira tertawa mendengar kepolosan Kanaya itu. "Aku ngak setega itu biarin kamu naik motor sakit-sakit begini. Bawa tongkat pula" sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Kanaya berjalan. Kanaya tersenyum lebar, bersyukur punya teman yang begitu peduli padanya. Tanpa ragu Kanaya mengulurkan tangannya pada Wira untuk membantunya berjalan ke mobil. Wira menuntun Kanaya masuk kedalam mobil. Meskipun sedikit kesulitan. Tapi ya akhirnya mereka bisa berangkat ke kampus dengan aman. Wira memutar lagu korea selama perjalanan ke kampus. Wira tahu Kanaya fans berat BTS. Dengan sengaja dia memutar lagu BTS. Walaupun dia sendiri tak tahu itu lagu apa. Sembarangan saja dia pilih. Berbeda dengan Kanaya yang kegirangan mendengar suara Jungkook di awal lagu. "Kamu sering muter lagu korea?" tanya Kanaya. Penasaran sekali dengan jawaban Wira. "Oh ini, adik aku yang sering puter. Yah jadinya aku sering denger" Mencoba staycool, mencoba senatural mungkin menjawab pertanyaan Kanaya. "Oh, adiknya pasti cewek ya?" mencoba menebak. Karena kebanyakan cewek yang suka korea. Cowok jarang banget. "Iya, kok kamu tau" sambil menoleh menatap heran ke arah Kanaya. "Iya dong tau" dengan nada bangga seperti dugaannya. Mereka membahas lagu kesukaan masing-masing sepanjang perjalanan. Ternyata Wira menyukai musik pop era 80an dan 90an. Berbanding terbalik dengan Kanaya. "Selera kamu bapak-bapak banget sih" ejek Kanaya sambil mencolek lengan Wira. "Itu namanya referensi musikku bagus" sahut Wira tak mau kalah. "Ya enggak dong, selera mana ada yang paling bagus, Namanya selera ngak bisa dibandingin. Cuma kalo musik 80 dan 90an emang seleranya bapak-bapak" semakin mengejek Wira. "Lah kamu sukanya BTS. Kayak adik aku tuh. Selera anak SMA" balik mengejek Kanaya. Mereka tertawa bersamaan. Merasa geli dengan hal yang baru saja mereka lakukan seperti anak kecil saling mengejek satu sama lain. Wira mencari parkiran paling dekat dengan gedung pasca. Kasian Kanaya kalo kejauhan jalan. "Aku gendong deh ya" pinta Wira saat membukakan pintu mobil untuk Kanaya. Mata Kanaya membola mendengar ucapan Wira. "Kamu gila?" "Kok gila sih? Kelas kamu di lantai dua loh. Kan lebih gampang kalo aku gendong" mencoba meyakinkan Kanaya. "Ngak mau. Aku jalan pekek tongkat aja. Uda ayo bantu turunin" meminta Wira membantunya turun dari mobil. "Haduh, ini kamu jalan uda sama persis kayak nenek tau ngak" menggoda Kanaya yang lambat banget jalannya. "aku tuh ngak biasa aja pkek tongkat ini Wir" "Makanya aku gendong aja ya. Ini tangan sama pinggang aku uda peggel pegangin kamu" "Ih kamu, kemarin aja marah-marah mau jemput. Sekarang ngelu ini itu. plin plan banget jadi cow" Kanaya mulai tersulut emosi. "Maaf deh. Jangan ngambek dong. Ini kan aku tetep pegangin kamu. Bawain tas kamu. Ngak aku tinggal. Takut ya aku tinggalin" raut muka tiba-tiba berubah menjadi sumringah. "Iya makasi Wira baik banget" raut wajah setengah mengejek setangah geli mendengar ucapan Wira. Di depan lobi terlihat Cia sedang berdiri sambil bolak balik mengangkat tanganya untuk melihat jam. "Akhirnya sampek juga kamu. Aku uda jamuran berdiri nungguin kamu beb" dengan nada kesal karena lama menunggu Kanaya yang terlambat. Kanaya hanya tersenyum canggung pada Cia. Dia merasa sedikit bersalah pada Cia. Tapi ya memang kakinya belum bisa berjalan. "Tadi uda mau aku gendong sih Ci. Tapi dia mala marah-marah" pungkas Wira sambil menengakkan tubuhnya yang pegal. "Itu ide bagus. Uda ayo gendong dia aja. Kapan ini mau sampek kelas. Mana kelas kita di lantai 2 lagi" pinta Cia pada Wira. "Guys, aku bisa jalan. Uda Wira, aku bisa sendiri ke kelas. Cia duluan aja kelas. Aku bisa sendiri" dengan mata berkaca-kaca Kanaya menunduk. Dia memang sensitif dan perasa sekali. Sekarang dia merasa banyak sekali merepotkan orang lain. Wira harus antar jemput dia. Cia ikut terlambat masuk kelas. Dia benci merepotkan orang lain. Dia tak suka orang di sekelilingnya ikut kesusahan karena kondisinya. "Kok gitu, mala sedih. Aku khan janji mau anterin sampek kelas" Wira menatap mata Kanaya dalam-dalam. "Beb beb, emang melan kolis nih anak. Uda ah ayo" Cia emang begitu, uda paham sama Kanaya yang sensitif. "Wir, mending gendong Kanaya ditangga aja deh. Kayaknya susah juga kalo pakek tongkat" dengan raut muka meringis Cia menatap ke arah tangga. "Iya sih. Agak repot sih ya. Tapi Kanayanya ngak mau adegan gendong-gendongan" Wira menoleh ke arah Kanaya. "Ok ok guys. Yauda, Wira bantuin aku sampek di lantai dua pokoknya terserah caranya gimana" nada putus asa dan keburu telat juga. "Gitu kek beb dari tadi juga. Uda percaya sama aku dan Wira deh" sambil memegang tongkat Kanaya. Tanpa ragu Wira menggendong Kanaya. Memegang erat tubuh Kanaya. Kanaya yang tidak biasa di perlakukan seperti ini memilih mengalungkan kedua tanganya ke leher Wira. Takut jatuh saja. Kanaya bisa merasakan parfum strong khas pria yang membuat jantungnya berdetak kencang. Sekarang wajahnya begitu dekat dengan Wira. Dekat sekali, jika saja Kanaya memajukan wajahnya bisa menyentuh pipi Wira. Netra coklatnya menatap wajah Wira yang terlihat serius memperhatikan setiap anak tangga. "Turunnya depan kelas aja ya" Sambil setengah terengah Wira terus membawa Kanaya sampai di depan kelas. Wira munurunkan Kanaya dari gendongannya dan membantunya berdiri. "Awas awas hati-hati" sambil memegang kedua lengan Kanaya. Kanaya hanya membisu menatap Wira. "Uda kayak obat nyamuk nih gue" Cia yang tiba-tiba berdiri diantara Wira dan Kanaya. "Yah kalo ngak ada nyamuk. Kasian yang jual obat nyamuk Ci. Ngak laku" Wira tertawa meledek Cia yang kesal. Cia membawa tongkat dan tas Kanaya yang sejak tadi berjalan di belakang Kanaya dan Wira. "Makasi ya beb. Kamu terbaik deh. Sahabat plus PA (personal asisten) aku hari ini" Kanaya ikut meledek Cia. Cia memilih memasang raut muka cemberut dan membantu Kanaya memakai tongkatnya. "Uda ayo masuk" ajak Cia pada Kanaya. "Iya bentar beb. Kamu duluan aja masuk. Aku nyusul abis ini" pinta Kanaya pada Cia. "Jangan lama-lama ntar jatuh cinta" ledek Cia pada Kanaya. Wira tersenyum mendengar ledekan Cia pada Kanaya. Cia menangkap sinyal tak biasa dari Wira pada Kanaya. Cia sudah curiga sejak awal datang ke acara seminar. Wira begitu menunjukkan kepeduliannya pada Kanaya. Laki-laki kalo bukan karena naksir mana bisa begitu. Itulah dugaan Cia pada Wira. Tapi Cia masih belum tau Wira laki-laki seperti apa. Dia perlu mencari tahu lebih jauh. Karena dia tak mau Kanaya kembali bertemu laki-laki b******k seperti Ario. "Emm Wir, makasi banget kamu uda aku repotin pagi ini. Kamu abis ini kemana?" netra coklat Kanaya menatap Wira yang sejak tadi melebarkan senyumnya. "Aku pulang abis ini. Nanti kalo kamu uda mau pulang telfon aku. Aku jemput lagi" Mata Kanaya membola mendengar penjelasan Wira. "Jadi kamu ke kampus cuma nganteri aku? Aku pikir kamu ada urusan atau ketemu dosen gitu" "Ngak ada Nay, cuma ngurusin kamu aja hari ini" sambil mengulurkan tangannya ke ujung kepala Kanaya. Kanaya terdiam mematung. Kok ada cowok begini ya. Kenal belum lama uda care aja. Baik banget ngak sih dia. "Yauda, nanti aku telfon ya. Makasi. Kamu hati-hati" sambil melambaikan tangannya pada Wira. Kanaya memang masih seperti kekanakan. Dia tak sedewasa umurnya. Sedikit manja, tulus dan jujur. Memang rasanya tak percaya perempuan cerdas, ternyata memiliki sifat seperti itu. Itu alasan Wira tertarik padanya. Sepanjang jalan pulang Wira tak membiarkan senyumnya pudar darai wajahnya. Sambil memdengarkam lagu Dynemite kesukaan Kanaya. Entah kenapa dia mala memutar lagu itu. "Jangan jangan aku uda jatuh cinta lagi sama Kanaya" gumamnya sendiri meletakkan tangan kanannya di kepalanya dan menopang dahinya. "Duh Kanaya gini juga ngak ya" sekali lagi dia bergumam sendiri. "Uda ah, suka ya biarin aja. Tinggal ngomong aja" memilih meyakinkan dirinya sendiri. (Bersambung) Terima kasih telah membaca episode ini.??? Mohon berikan komentar/saran membangun untuk judul ini.??? Follow me? IG Maylafaisha.rl
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN