“Ia diterkam harimau, padahal sudah banyak yang memperingatkannya. Jangan keluar dari areal reruntuhan.” Ujar pria tua seraya menyusap air matanya itu. Herringard memeriksa luka sang korban dengan hati-hati. Lalu ia bangkit dan berbicara pada seseorang tentara, “kirim telegram ke Batavia, sekarang!?” “Baik, profesor.” Ujar tentara muda itu. Suasana begitu sendu ketika mayat Kael dinaikan ke atas sekoci untuk di kirim di atas kapal. Sebenarnya, lebih baik menguburnya disini atau membakarnya, namun beberapa diantaranya tidak setuju. Mungkin saja, keluarganya menunggu mayat Kael yang malang di Batavia sana. Herringard tak ingin berdebat soal itu. Melanie hanya bisa tertunduk lesu tanpa kata sedikitpun keluar dari mulutnya. Benar kata Herringard, semakin lama hutan semakin tak aman. Par

