Alam hanya terdiam. Ia keheranan, bagaimana Melanie mengetahui tentang taruhan itu? Seharusnya hanya ia dan Panji saja yang tahu. “Kau tahu!? Pria yang pantas mati selanjutnya adalah kau! b******k!” Ujar Melanie sembari berbalik dan melangkah meninggalkan Alam sendirian di dalam kelasnya. Langkahnya kebas dan diiringi oleh isakan kecil di wajahnya. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya karena telah membuka aibnya sendiri. Aib karena telah memberikan kehormatannya begitu saja kepada Panji. Tetapi terlanjur, Alam sudah tahu semuanya karena kedua gadis kembar itu telah menggambarkan kenyataan yang terjadi. Sehingga ia tak perlu lagi menutup-nutupi. Di mata ayah dan ibunya, Melanie adalah gadis baik-baik. Kesempurnaan tubuhnya hanya karena faktor keturunan campurannya, bukan dari hasil c

