Tujuh belas

1066 Kata
Irvan membuka perlahan pintu masuk ke ruangan kerja pribadi Leon. Mau berapa kali dia sudah melihatnya, tetap saja takjub dengan interior bagian dalam. Pastilah sangat menyenangkan jika setiap hari bisa bekerja di sana, tanpa terganggu dengan staf yang lain. Bisa terhindar dari Medina dan staf wanita yang suka menggodanya dengan genit. Angin berdesir masuk melalui ventilasi jendela. Matanya tiba-tiba terpaku lagi pada sebuah foto card yang terbalik, ada di dalam laci, masih seperti posisinya kemarin. Daripada mengambil berkas, Irvan hendak mengambil foto itu. Namun, tepat ketika tangannya sudah menyentuh foto card itu, Medina muncul dan merebutnya paksa. “Aduh, aku kira kamu sedang apa. Kenapa lama sekali sih? Cepat keluar, bos ingin mendengar hasil diskusi kita. Kamu tidak mau membuat dia menunggu lama kan?" “Iya, aku akan pergi ke sana." Irvan terpaksa untuk penasaran lagi. Jadinya, dia hanya mengambil sebuah berkas yang ada di rak kayu, samping meja kerja Leon. Keduanya pergi ke ruangan kerja sang bos. Lalu mulai menjelaskan hasil diskusi mereka selama beberapa hari ini, melalui bantuan layar besar dan sebuah flashdisk. Setelah usai, bos tersenyum bangga pada mereka. "Aku tidak menyangka kalau kalian nerida bekerja dengan cukup baik. Inovasi yang digunakan lumayan bagus untuk segi ekonomi menengah kebawah. Harga barang yang terjangkau, ramah lingkungan, tapi juga murah. Bagus sekali!" Irvan tersenyum senang mendengar penuturan bos nya. Medina bisa diandalkan juga ternyata. “Baiklah, lalu bagaimana dengan hasil diskusi mengenai produk untuk menengah ke atas? Jangan kecewakan aku untuk yang ini. Orang-orang kaya itu bersedia membeli barang-barang mewah tidak berguna, asalkan dari merek terkenal. Karena itu, kita tidak boleh kalau saing dengan pasar lain yang sudah punya nama di kancah internasional." Medina mengangguk, dia dan Irvan kembali bekerja sama untuk menjelaskan hasil diskusi panjang mereka, walaupun sebagian besar waktunya diisi oleh kecentilan Medina. Wanita itu sebenarnya cukup cerdas, dan lumayan cantik. Namun, sifat serakah membutakan mata hatinya. Dia lebih suka menerima uang dari bos karena sudah bersedia kencan dengannya, daripada uang bonus tambahan karena rajin bekerja. Baginya, hal itu membuang-buang waktu dan tenaga, dia juga jadi tidak punya waktu untuk merawat diri. “Bagus sekali! Aku harap, realisasinya juga bisa sebagus dengan ide yang kalian curahkan. Oh iya, aku ingin memberikan tantangan pada kalian berdua." “Wah, tantangan ada itu bos?" tanya Irvan. “Kalau kalian berdua berhasil membuat permintaan pelanggan meningkat beberapa persen dari tahun-tahun lalu, maka kalian akan langsung naik jabatan. Bagaimana?" Medina dan Irvan saling pandang. Bingung harus menjawab apa. Untuk ukuran seorang karyawan yang belum sepuh seperti mereka, ini adalah tugas yang lumayan berat. “Aduh, kau akan menjawab apa ada bos nanti?" tanya Medina ketika mereka sudah kembali ke ruangan semula. “Tidak tahu. Tapi, kamu pikir kita akan mampu atau tidak? Lumayan kan, bisa naik jabatan untuk sekali proyek." “Yah, tapi kerugian yang akan kita timbulkan kalau gagal, juga tidak main-main, Irvan. Aku sudah punya pengalaman yang seperti ini bersama Leon. Ini sulit." “Sulit bukan berarti mustahil kan? Aku yakin, kita pasti bisa melakukannya." “Ya sudah. Aku agak tertarik kalau kami semangat begitu," jawab Medina cepat. “Iya. Aku akan pergi ke bawah untuk beli minuman dulu." “Hum." Ponsel milik Medina tiba-tiba berdering. Dia pergi ke bagian dekat jendela, untuk menarik nafas dari udara luar, dan menatap pemandangan jalan raya. “Ya, ada apa?" “Apakah kau sudah menyembunyikan semuanya? Aku khawatir jika ada yang melihat foto-foto itu," ucap pria misterius. “Itu kan salahmu sendiri karena teledor. Malah menyusahkan orang lain sih." “Maaf, tapi kamu benar sudah menyembunyikan foto itu kan?" “Iya, sudah. Tadi hampir saja Irvan melihat fotonya." “Apa!? Kamu yakin dia belum lihat?" “Belum kok. Tapi, anak itu sepertinya tambah penasaran sih. Aku akan singkirkan foto itu, jangan khawatir." “Baiklah, terima kasih atas bantuannya." “Yah, aku aneh saja. Kenapa harus membawa-bawa foto wanita itu ke kantor? Kan bisa simpan di tempat rahasia mungkin, di rumahmu sendiri." “Tidak ada tempat rahasia. Istriku itu orangnya rajin sekali membersihkan rumah. Aku khawatir sekali dia akan lihat fotonya." “Oh, begitu. Tapi maaf saya ya, aku merasa bahwa kamu ini cowok yang b******k sekali. Sudah dikarunia oleh istri yang cantik, malah tidak tahu diri. Dia juga baik, kurang apa istrimu itu?" “Hahaha. Kamu bicara seolah-olah dirimu itu bersih begitu? Padahal ada main dengan bos kan? Sudahlah, ini urusanku. Kamu jangan masuk terlalu dalam, tidak baik juga kan?" “Iya terserah saja." “Lagipula, sesuai kesepakatan awal. Kamu bisa berduaan dengan Irvan, dan aku bersamanya. Mengerti kan?" “Aku mengerti kok. Aku tutup teleponnya ya." Tanpa Medina sadari, ternyata Irvan mendengar semua percakapan itu, meskipun dia tidak dengar suara seorang pria misterius yang menelpon Medina. Itupun dia dengar suara Medina hanya samar-samar. “Foto? Maksudnya foto apa yang dia sembunyikan tadi." Tanyanya menepuk punggung Medina tiba-tiba. Wanita itu langsung menghadap ke belakang dan sangat terkejut. Apakah Irvan mendengar semua percakapannya tadi? Sampai sejauh mana pria itu tahu? Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang memenuhi isi kepala Medina beberapa saat. “Hei, sejak kapan kamu ada di sini?" “Baru saja. Wajahmu kaget begitu, habis melihat hantu ya?" jawab Irvan berbohong. “Oh begitu." Huf, dia bisa menarik nafas lega setelah mendengar ucapan Irvan. “Aku masih bisa selamat kan? Kami saling memegang rahasia masing-masing. Bisa gawat kalau dia sebarkan rahasiaku di kantor, meskipun aku bisa melakukan hal yang sama sih," katanya dalam hati. Lambaian tangan Irvan di depan wajahnya membuat Medina tersadar dari lamunan. “Kamu banyak bengong ya." “Hah? Eh iya. Sudahlah, ayo lanjut saja Pekerjaan kita." “Dia bersikap aneh karena tahu ketahuan kan? Sebenarnya foto apa yang dia maksud? Aku harus mencari tahunya," pikir Irvan. Medina mengajak Irvan untuk duduk di sofa. “Aku merasa aneh kalau kamu bertingkah seperti itu. Tidak seperti biasanya." “Hah! Kamu sering risih kalau aku goda kan? Sekarang malah rindu dengan aku yang seperti itu? Sudah deh, nanti akan aku goda kalau pekerjaan ini usai." “Tidak Medina. Aku bukannya rindu dengan hal memuakkan seperti itu. Aku hanya ingin memastikan, bahwa kamu pasti sudah cukup terbebani dengan masalah foto itu, makanya tidak bersikap seperti biasanya," pikir Irvan lagi. Saat jam pulang kantor, waktu itu sudah larut malam. Medina mengendap-endap ke dalam ruangan kerja Leon. Dia membuka perlahan laci meja tadi, dan …. Lampu ruangannya menyala. Menampilkan sosok pria jangkung. “Kamu sedang apa?" Dia merebut sebuah foto yang ada di tangan Medina. Dahinya berkerut. “Loh? Ini bukannya …"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN