“Kembalikan!" Medina merebut foto itu dari tangan Irvan, hingga jari Irvan tercakar oleh kukunya yang panjang.
“Astaga! Tangan kamu luka. Aku minta maaf, sini aku obati–"
“Tidak usah." Irvan menepis kasar tangan Medina. “Kamu hanya perlu menjelaskan saja, mengenai semuanya."
“Tapi, ini adalah rahasia bos. Aku tidak boleh mengatakan apapun!"
Memang benar bahwa foto itu adalah rahasia besar bos, yang dilihat oleh Irvan adalah foto bos nya bersama dengan seorang wanita, yang hendak masuk ke dalam hotel. Medina berniat untuk menghilangkan foto itu, yang beberapa hari lalu dikirimkan oleh seorang anonim tidak dikenal. Penerimanya adalah Leon, dia menyimpannya di ruangan kerja pribadinya untuk sementara waktu. Namun lupa menghilangkan nya.
“Tolong jangan kasih tahu staf lain terkait masalah ini. Bos bisa terkena skandal."
“Oh, baguslah kalau begitu. Kita bisa ganti bos kan? Lagipula, ini adalah perusahan milik negara. Bukan milik pribadinya."
“Aduh, bukan begitu Irvan. Walaupun kita berhasil mendapatkan bos baru, belum tentu lebih baik darinya kan? Aku tahu kamu bosan karena uang gaji jika dikorupsi, tapi …."
“Berikan fotonya!" Dia kembali merebutnya dari tangan Medina. Senyuman manis penuh arti, syarat dengan penuh kengerian tercetak di sudut bibirnya.
“Aku akan menggunakan foto ini sebagai kartu as ku untuk kepentingan pribadi," seringainya, seraya berjalan keluar tanpa memperdulikan Medina yang berteriak, minta fotonya untuk dikembalikan.
“Irvan! Kamu tidak bisa seperti itu. Aku bisa dipecat bodoh!"
Medina yang ditugaskan oleh sang bos untuk menyembunyikan semua kegiatan kotornya merasa sangat panik. Itu adalah alasan lain mengapa dia seribu dibayar dengan bonus lebih oleh sang bos.
“Irvan sialan!" rutuknya.
***
Sementara itu di tempat lain, Leon sedang dalam perjalanan ke pantai Bali. Pertemuan dengan klien nya akan dilakukan di malam hari. Jadi, kini dia akan meluangkan waktu untuk memadu kasih dengan … Ranita! iya, pria itu memang berselingkuh dengan wanita lain.
Dia pergi ke sebuah rumah makan, yang langsung menghadirkan pemandangan di pantai. Sudah ada Ranita yang menunggunya di sana.
Keduanya berpelukan, saling melepaskan rindu. Leon dengan semangat mencium kening kekasihnya itu, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Cherly jika mengetahui hal ini.
“Hei, Sayang, sudah lama sekali kita tidak bertemu kan? Aku sangat rindu padamu."
“Aku juga merindukanmu." Leon memesan seafood untuk dimakan berdua.
Ranita adalah gadis yang dia temui ketika masih kuliah dulu, di sebuah universitas negeri terkenal yang ada di Jakarta. Wanita itu adalah anak dari pemilik perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. Leon gagal untuk melamar di sana, jadi apa salahnya untuk memacari anak pemilik perusahaan itu untuk mendapatkan keuntungan lebih? Selain karena dia beralasan mencintai Ranita dengan sepenuh hatinya. Gaji yang didapat oleh Leon, sebenarnya tidak begitu besar dibandingkan dengan manajer dari perusahaan lain, dikarenakan sang bos yang gemar korupsi uang gaji karyawan.
“Oh, iya kita akan menginap di mana?" Rabu Ranita. Wanita yang memiliki wajah putih bersih itu, berseri-seri bahagia.
“Aku sudah menyiapkan hotel untuk kita berdua kok, jangan khawatir. Tempatnya bagus, kamu pasti akan suka."
“Kamu romantis yah, seperti biasa. Jadi, kapan kita akan menikah?"
“Ha?" Leon berhenti memasukan makanan ke dalam mulutnya. Dia memang mengatakan bahwa dirinya masih lajang kepada Ranita, tidak pernah memberitahukan padanya mengenai Cherly.
“Itu … tidak bisa aku lakukan sekarang deh. Aku kan sedang sibuk, jadi nanti-nanti saja. Kita nikmati dulu yang sekarang," berucap tenang memberikan alasan.
Wajah Ranita cemberut. “Iya, tapi aku tidak sabar untuk memperkenalkan kamu kepada orang tuaku sih."
“Hahaha. Tenang saja, aku sedang mencari-cari waktu yang tepat."
Benar, mencari waktu yang tepat untuk bercerai dengan Cherly. Lalu dia akan menikah dengan Ranita, mendapatkan harta yang banyak, juga posisi sebagai pewaris perusahaan keluarga Ranita, karena wanita itu adalah anak tunggal. Kehidupan Leon akan seribu kali lebih baik dari pada saat ini. Dia tidak perlu lagi berkutat dengan banyak kesibukan monoton, dan omongan bos yang sering kali menyakiti perasaannya.
Setelah makan, Ranita dan Leon, bergandengan tangan, bersama pergi ke hotel yang sudah Leon siapkan.
Tawa bahagia tercetak di wajah keduanya. Tidak sabar menghabiskan malam bersama, sambil menatap keindahan pantai Bali, dan langit malamnya yang indah.
Dari arah belakang, mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang menguntit. Melihat dengan penuh amarah kebahagiaan Leon dan Ranita. Wanita itu mengepalkan tangannya kuat, berlari terseok-seok di pasir pantai. Dia mencekal tangan Ranita, segera memberikan tamparan keras.
Ranita jatuh tersungkur. Leon ingin marah, namun dia sadar siapa wanita di hadapannya itu. Dia adalah … Alea Marisinta.
***
Jika kembali ke masa kuliah dulu, Leon mengenal tiga orang wanita, yang kesemuanya memiliki perasaan padanya. Mereka adalah Ranita, Cherly dan Alea. Cherly berkuliah di universitas lain, sedangkan Ranita, Leon dan Alea berkuliah di universitas yang sama.
Pada hari pertama ospek, Alea sudah melihat ketampanan dan kecerdasan yang Leon miliki. Dia tertarik, dan bersungguh-sungguh untuk menjadikan Leon miliknya.
Seperti tradisi kampus, wanita itu memasukan Snack beng-beng ke dalam saku celananya. Itu adalah hal yanu dilakukan oleh ayam kampus, yang menandakan mereka adalah wanita penghibur di sana. Jika ada yang mengambil beng-beng itu–di selipkan nomor telepon, maka yang mengambil bisa bertemu dengan wanita itu di tempat yang telah mereka sepakati.
Leon sendiri awalnya tidak tahu mengenai masalah ini. Dia sering iseng saja mengambil makanan itu, dan membuang nomor telepon nya ke sembarang arah. Lumayan, pikirnya.
… dan kejadian itu sudah berulang kali dia lakukan selama satu semester penuh.
Jadi, Alea akan mendekatinya secara langsung, karena rencananya sudah gagal.
“Hei, kau sedang apa, adik tingkat?" sapa Alea, ketika Leon sedang makan sendirian di kantin.
“Aku? Tidak lihat aku sedang apa? Kamu tidak kelihatan seperti orang yang tuna netra sih," jawabnya asal. Bekal itu adalah buatan Cherly, nasi goreng pedas, dengan beberapa potong daging.
“Eh, hahaha. Bercandamu tidak sopan loh, untuk ukuran kakak tingkat seperti aku."
“Hum …"
“Sepertinya enak, aku coba ya!" Merebut sendok makan Leon, dan memakan nasi goreng melalui sendok yang sama.
Leon jijik dengan hal itu. Dia beranjak bangun dan berkata, “Untukmu saja. Tapi, jangan lupa kembalikan wadahnya, aku malas beli yang lain."
“Ah iya!" Alea jadi memiliki alasan untuk bertemu dengan Leon.
“Huh, apa-apaan dia. Aku bukannya tidak peka, kalau dia itu mengejar-ngejar ku sejak lama. Bahkan sempat mengurungku di gudang bersamanya. Dja sengaja pakai baju yang kurang bahan."
Ponselnya berdering nyaring. Ada orang tidak dikenal yang menelponnya.
“Hei, ayo bertemu nanti malam!"
Panggilannya ditutup sepihak.
“Loh, siapa ini? Suaranya tidak asing. Apa yang mau dia lakukan padaku di malam hari nanti?"