Sembilan belas

1056 Kata
Ketika waktunya malam hari, Leon segera pergi ke sebuah jembatan, di bawahnya ada sungai yang lumayan deras, kala itu belum tercemar oleh sampah-sampah plastik, yang dibuang oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Tempat pertemuan itu dikirimkan oleh sang anonim, sesaat setelah dia memutuskan sambungan teleponnya. Bersama dengan sepedanya, pemberian Cherly, dia pergi ke sana. Namun, tidak menemukan ada seseorang yang kelihatan sedang menunggunya. Semua orang malah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Menghabiskan waktu bersama pasangan, atau sekedar mencari angin malam dan melepaskan penat. Akhirnya, Leon memilih untuk pergi ke sebuah kursi yang tidak jauh dari sana. Dia duduk menyendiri, menikmati kopi hitam yang tadi dibelinya dalam perjalanan kemari. Sebuah tepukan agak keras di pundaknya, entah oleh siapa dia rasakan. Ada seorang wanita yang tiba-tiba muncul, yang tak lain adalah Alea. Tanpa persetujuan dari Leon, gadis itu duduk di sampingnya. “Kamu yang menelepon yah?" “Sudah tahu kan? Yah, memang aku yang menelepon. Kenapa? Tidak suka bertemu dengan kakak tingkatmu yang cantik ini." “Sudahlah. Jangan basa-basi, aku masih punya pekerjaan lain yang lebih penting.“ “Hei, jangan seperti itu dong. Aku ini mau menawarkan sesuatu padamu. Sesuatu yang menarik. Kamu mau dengar?" “Aku tidak tertarik–" Alea mendekat, dia berbisik pada Leon. “Bagaimana kalau kita bermalam ke hotel, kamu mau kan?" “Hah? Kamu kira aku pria macam apa, sialan!" bentak Leon. ”Ayolah sekali saja," bujuk Alea. “Aku sudah punya kekasih. Kamu harus tahu, aku mencintainya." “Loh, kan kita melakukannya diam-diam. Dia tidak akan tahu kalau kamu tidak bicara apapun kan?" ”Tidak." Kali ini, nada suara Leon terdengar agak ragu. Dia ingin menjawab, ‘ya' tapi harga dirinya sebagai pria yang lurus akan dipertaruhkan. “Lagipula, kamu itu sudah dewasa kan? Apa salahnya melakukan yang seperti itu?" tanya Alea. Leon diam tidak menjawab. Dia menatap kosong ke arah air sungai yang bergerak-gerak, bergelombang karena desiran angin malam. “Bagaimana? Kamu mau kan?" “Asal, kamu janji satu hal padaku." “Apa itu?" tanya Alea dengan semangat. “Kejadian ini, jangan sampai siapapun tahu. Apalagi kekasihku." “Hah, baiklah." Leon jalan duluan, diikuti oleh Alea, pergi ke sebuah hotel yang lumayan besar di daerah kota Jakarta. Gadis itu rela memberikan kesuciannya pada Leon, demi mendapatkan hati pria itu. Namun, usahanya selama ini sia-sia saja. Pengorbanan apapun yang dia lakukan untuk pria itu, sepertinya tidak akan pernah cukup untuk membuatnya berpaling dari Cherly. Padahal, Alea yang selalu ada untuk Leon ketika dia susah. Seperti saat ini, Leon sedang mengerjakan skripsinya, dan sibuk untuk mempersiapkan semua hal. Jam tidurnya berkurang, bagian bawah matanya menghitam, dan badannya kurus. Tidak ada waktu untuk memikirkan kesehatan badan, asalkan sekarang lulus saja dulu, begitu pikirnya. Hampir setiap hari pula Alea datang ke kost-an Leon, untuk membawakan makanan berat, buah-buahan dan referensi skripsi kakak tingkat yang satu jurusan dengannya. “Ini, makan dulu. Kamu bisa sakit kalau seperti ini terus. Skripsi itu penting, tapi kesehatanmu lebih penting." “Omonganmu tidak berguna sama sekali. Siapa juga yang menyuruh kamu datang kesini!? Bagaimana kalau Cherly tahu. Ah, sialan. Bikin tambah banyak masalah saja!" bentak Leon. Rambutnya menipis karena depresi, rontok lumayan banyak, dan kepalanya kini agak pitak. “Aku sudah pastikan dia tidak akan tahu kok. Kamu makan saja, aku akan langsung pulang. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk telepon ya!" “Iya, pergi sana. Aku tidak mau diganggu," ucap Leon emosi. Tanpa sepengetahuan Alea, dari sudut gang, Cherly melihat dia masuk ke kawasan kost Leon. “Siapa dia? Aku tidak pernah lihat sebelumnya. Dia mau menengok siapa kira-kira ya?" tanya Cherly dalam hati. Dia juga hendak membawakan makanan untuk Leon. Di dalam kamar kost Leon, gadis itu terkejut karena sudah ada banyak makanan berat di sana. “Kamu pesan ini kapan?" “Hah? Oh, barusan. Kenapa?" “Enggak apa-apa sih. Tapi, wadahnya seperti punya pribadi ya." “Iya, itu kakak tingkat ku yang punya usaha catering." “Oh, begitu. Ya sudah, ayo makan dulu." “Iya." Kalau Cherly, dia tidak bisa menolak. Menghentikan sejenak pekerjaannya, dan duduk bersila di hadapan Cherly. “Aku minta disuap. Masih banyak lembar yang harus aku periksa, sambil makan." “Yah, aku kira kamu mau berhenti dulu sebentar, dan makan dengan benar." “Tadinya sih mau begitu. Tapi …" Melihat tumpukan kertas HVS yang tercecer, ada banyak tulisan ketik di sana. “Aku harus revisi–" “Aaaaa. Ayo makan, buka mulutnya." *** Tiba di sore hari, Cherly sudah kembali ke kosannya. Sedangkan Leon sedang pergi ke tempat fotokopi untuk mencetak dokumen skripsinya. “Semoga saja dosen pembimbing itu tidak banyak omong lagi. Dia pikir, tidak lelah apa revisi terus setiap hari!" rutuknya kesal. Di tempat yang sama, Ranita juga sedang membuat beberapa dokumen penting untuk kegiatan organisasi yang dia ikuti di kampus. Gadis itu belum bisa wisuda karena nilainya kecil, dan harus mengambil semester pendek. Sebenarnya, Leon dan Ranita tidak punya kisah yang begitu nyata saat di bangku kuliah. Mereka hanyalah dua orang asing yang sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya pernah beberapa kali berpapasan, tanpa saling tegur sapa. Hingga tiba saatnya kelulusan, Leon dan Cherly berfoto-foto di depan kampus Leon sebagai kenang-kenangan terakhir. Leon kembali ke tempat kelahirannya bersama Cherly, dan meninggalkan Alea tanpa kabar apapun. Leon dengan cepat mendapatkan pekerjaan bagus, dan tidak lama naik jabatan sebagai manager. Sayangnya, dia tidak puas karena gaji karyawan selalu di korupsi oleh sang bos. Dilaporkan juga percuma, koneksi sang bos banyak, orang-orang hukum bisa dengan mudah disogok olehnya. Di saat itulah Leon kembali bertemu dengan Ranita. Memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang pernah satu fakultas, dan pria lajang yang sedang mencari pasangan. Tentu saja Ranita langsung mau saat Leon mengajaknya untuk berpacaran. Padahal, ketika itu dia sudah menikah dengan Cherly. Takdir yang berjalan aneh, seakan-akan memang sudah merencanakan pertemuan mereka di pantai Bali. Ini adalah situasi yang rumit. Alea begitu marah ketika Leon bergandengan dengan wanita lain, yang dia pikir adalah Cherly, karena Alea belum pernah bertemu dengan kekasih Leon waktu itu. “Oh, jadi ini wanita yang pilih sehingga meninggalkan aku sendirian?" “Diam. Kita tidak punya hubungan apapun. Lepaskan tangannya!" “Tidak mau." Alea menatap lekat-lekat manik mata Ranita. “Kamu pasti gadis yang sangat polos sekali ya. Sampai tidak tahu, apa saja yang sudah dia lakukan di masa lalu." Dahi Ranita mengkerut. Kemudian, dia bertanya dengan serius pada Alea. “Memangnya, apa yang sudah dia lakukan di masa lalu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN