Leon balas menampar wajah Alea, tidak ingin wanita itu mengungkapkan masa lalu mereka yang menjijikan. Baginya, Ranita adalah harta berharga yang harus dia jaga dengan baik. Jangan sampai rencananya untuk menguasai perusahaan milik keluarga Ranita gagal hanya karena omongan Alea.
“Ayo kita segera pergi dari sini!" ajak Leon, seraya menarik paksa tangan Ranita.
Sesampainya di hotel, Leon langsung membereskan barang-barangnya untuk pulang.
“Loh, kamu mau pulang sekarang? Tidak jadi bertemu dengan klien?"
“Bertemu dengan klien itu nanti malam. Besok aku akan langsung pulang. Aku akan antarkan kamu sekalian, jangan sampai bertemu lagi dengan wanita sialan itu."
“Kenapa? Kamu kelihatan takut sekali dengannya. Sebenarnya, kalian pernah punya hubungan apa di masa lalu? Dia siapa?" tanya Ranita panjang lebar.
“Bukan siapa-siapa. Jangan dipikirkan."
“Loh, jangan dipikirkan bagaimana? Bilang saja sih yang sebenarnya, apa susahnya?"
“Sifat kamu yang keras kepala tidak pernah berubah ya?" Leon menggandeng tangan Ranita, dan mereka berdua duduk di atas ranjang.
Tangannya membelai puncak kepala Ranita. Menaruh kepalanya di bahu wanita itu, lalu mendekapnya dengan erat. Hati Ranita meleleh seketika.
“Masih marah? Akan aku jelaskan semuanya kalau kamu sudah tidak marah lagi."
“Hah … kamu pikir, aku bisa marah kalau begini? Tidak sama sekali."
“Hahaha. Baiklah, dengarkan baik-baik ya."
Ranita mengangguk mantap.
“Jadi, dia itu adalah kakak tingkatku waktu kuliah dulu. Kamu mungkin kenal sih, walau tidak spesifik. Dia itu adalah salah satu ayam kampus yang paling terkenal. Entah mengapa, dia jadi terobsesi denganku, dan mengejar-ngejar aku dengan segala cara. Aku yakin sekali, dia pasti mau menuduh macam-macam. Jangan percaya pada omongan orang yang suka berbohong sepertinya. Kamu mengerti kan?" jelas Leon berbohong. Tercetak senyum miring di bibirnya. Ranita adalah tipe wanita manja yang mudah ditipu, naif dan cengeng. Maklumlah, dia ini kan anak orang kaya, yang sejak kecil, semua keinginannya selalu dipenuhi.
“Oh, begitu rupanya. Aku hampir menangis karena mengira kamu berselingkuh."
“Hahaha. Dasar, mana mungkin aku berselingkuh dengan gadis secantik dan sebaik kamu. Jangankan berselingkuh deh, kepikiran seperti itu saja tidak pernah."
Ranita mengeratkan pelukan mereka.
“Aku sayang kamu."
“Aku juga, Ranita. Kamu itu adalah ‘harta' aku yang paling berharga. Jangan takutkan apapun. Tidak ada wanita yang bisa membuat aku tergila-gila, selain kamu." Ucapan manis, yang dipenuhi oleh kebohongan itu, amat indah dan terasa nyaman didengar oleh Ranita. Dia benar-benar tertipu, dan menganggap Leon adalah pria sempurna untuknya. Dia baik hati, mapan, dan setia, begitu pikir Ranita.
***
Matahari, di pagi hari perlahan mulai naik ke atas permukaan. Membantu tanaman-tanaman untuk melakukan proses fotosintesis mereka. Juga hewan-hewan, seperti burung yang ada di pantai, mendapatkan kehangatan mereka kembali.
Orang-orang sedang bersiap-siap untuk melakukan kegiatan monoton mereka, seperti bersekolah, bekerja, dan banyak lainnya. Begitu pula dengan Leon, semalam, dia sudah memesan tiket pesawat untuk pulang. Acara memadu kasih dengan Ranita dia batalkan karena ada Alea.
Keduanya berpelukan sangat erat di bandara. Tidak rela hati Ranita untuk kembali berpisah dengan pria yang amat dia cintai.
“Kita baru bertemu sebentar loh. Kamu sudah mau pergi begitu saja?"
“Maaf. Tapi aku janji deh, akan cepat-cepat meluangkan waktu bersama."
“Iya. Hati-hati saat di jalan ya!" pesan Ranita tegas.
“Hahaha. Iya, iya." Dia mencium kening Ranita, sebelum akhirnya masuk ke dalam pesawat.
***
Irvan dan Cherly sendiri sudah semakin akrab seperti seorang kekasih. Walaupun Cherly tetap saja menganggap Irvan sebagai adiknya.
“Irvan, kamu mau minum teh di gazebo? Hujan gerimis, sepertinya enak kalau sambil minum teh hangat kan?"
“Wah, ide yang bagus. Biar aku bantu untuk membuatkannya ya."
“Boleh. Jangan pakai gula terlalu banyak ya. Nanti kena diabetes."
“Hahaha. Iya kak."
Tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Sekarang sudah berubah menjadi senyuman bahagia dan kedekatan satu sama lain.
Irvan menaruh sebuah teko berisi teh hangat, dan dua buah gelas diatas meja, yang ada di Gazebo.
“Irvan, kenapa kamu tidak mencari pacar saja sih? Padahal kan, pasti banyak yang mau."
“Masa, aku harus katakan alasannya?"
“Haha. Kalau kamu tidak mau, tidak usah. Tapi, memangnya tidak bosan sendirian terus?"
“Aku bukannya mau terus melajang kak. Hanya sedang mencari wanita yang tepat saja."
“Oh, kalau begitu, ada seseorang yang kamu suka sekarang? Siapa? Kasih tahu dong, pada kakak iparmu ini."
Irvan mengarahkan pandangannya pada Cherly. Seakan-akan hendak menjawab, “Kamu, kamu orang yang aku suka."
Situasi itu terasa aneh bagi keduanya. Saling diam dan tatap-tatapan. Tidak tahu bahwa Leon sudah kembali ke rumah, basah terkena hujan karena lupa membawa payung. Dia memanggil istrinya, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
“Sialan! Dia kemana sih? Aku kedinginan seperti ini juga!" kesalnya.
Pintu gazebo terbuka, dia penasaran, apakah Cherly ada di sana atau tidak.
… dan benar saja. Istrinya itu kini sedang berbincang-bincang penuh tawa dan canda bersama Irvan. Mereka tampak serasi seperti sepasang kekasih yang tengah dimadu cinta. Leon mengepalkan tangannya kesal. Dia menggebrak meja tiba-tiba, tanpa disadari.
“Astaga! Kaget aku!" teriak Cherly.
“Loh, Kakak sudah pulang? Kapan?"
“Baru saja. Tidak dengar atau pura-pura saja?"
“Eh, sudah. Kamu pasti kesal karena kedinginan ya? Aku mau ambilkan dulu handuk ya. Setelah itu, mandi air hangat–"
Tubuh Cherly ditarik oleh Leon. Memamerkan kemesraan di depan Irvan. “Kalau yang ini, punyaku. Kamu tidak bisa mengambilnya," ucapnya dalam hati.
Irvan tidak kalah kelas melihat hal itu. “Aku mau pergi ke kamar saja."
“Eh, tehnya bagaimana? Apa mau bawa ke kamar saja?"
“Tidak usah." Beranjak pergi dengan wajah masam, sedangkan Leon tersenyum penuh kemenangan.
“Kamu basah. Ayo ganti baju dulu."
“Kamu tidak kangen aku? Sepertinya bahagia sekali waktu aku tidak ada ya?"
“Hah? Mana ada. Aku malah tidak bisa tidur semalam. Kamu bilang aku senang? Tidak lihat mataku–"
Sebuah kecupan singkat di mata menghentikan ucapan Cherly.
“Ah, dasar. Jangan tiba-tiba begitu dong."
“Iya, hahaha. Aku lapar, Sayang."
“Oh, kebetulan aku sudah masak SOP buntut sapi. Mau makan sekarang? Atau mandi dulu?"
“Makan sekarang deh. Aku kelaparan selama perjalanan."
“Tuh kan. Salah sendiri sih. Sudah berapa kali aku bilang kan, harus jaga pola makan dan kesehatan. Malah tidak menurut."
“Duh, kamu mau mengomel sampai kapan? Nanti keburu pingsan gara-gara lapar nih."
“Iya, ayo ke dapur."
Ruang makan ramai lagi, Leon berbicara banyak tentang kemarin di Bali. Meskipun dia banyak membual agar Cherly tidak curiga.
Ponsel Leon berdering. Ada nama kontak, ‘sayang' dan emoticon love di sampingnya.
“Siapa yang menelepon?"