Tiba di waktu malam, seperti biasanya, keadaan kantor yang sedari tadi ramai, kini mulai sepi. Karyawan-karyawan mulai pulang ke rumah masing-masing. Hanya ada beberapa staf tersisa, yang terpaksa lembur karena pekerjaan mereka menumpuk, ataupun karena alasan finansial seperti membutuhkan uang lebih. Medina mengejar Irvan yang hampir masuk ke dalam mobil. Dia mencekal pergelangan tangan pria itu. “Hei, kamu mau kemana? Bukannya ada janji untuk makan malam dengan aku ya?" Irvan memicingkan sebelah mata. “Kapan kita punya janji seperti itu? Kamu mimpi atau bagaimana?" ”Irvan aku—" ucapannya terhenti ketika melihat tatapan seram dari Leon. Dia tidak mau mengotori tangannya lagi. “Ah, itu—" “Tidak usah repot-repot membatalkannya kok. Aku juga tidak mau pergi Medina. Ada urusan lai

