Brug Tanpa bisa berkata apa-apa, aku melihat Pak Fathur ambruk dan berlutut di hadapanku. Setelah tadi aku berbincang dengan istri Pak Fathur mengenai pengobatan Fadil, istri Pak Fathur ini langsung menghubungi suaminya. Pak Fathur pun datang tergesa-gesa dan langsung ambruk di depanku begitu melihat diriku. “Tuan Muda.” Dia memanggilku sambil berkaca-kaca. Aku pun jadi tak tahan melihat kesedihannya. Dia raih tanganku dan ia pegang dengan begitu erat, sambil ia cium dan bercampur dengan airmata. “Pak Fathur, berdirilah.” Aku merasa tak enak. Karena Pak Fathur setidaknya lebih tua dari aku. “Terima kasih, Tuan Muda. Terima kasih.” Ia pun bangkit berdiri sambil tetap memegang tanganku. Sebenarnya aku pun tak kuasa menahan tangis karena Pak Fathur yang menangis seperti ini. Saking terh

