Sang perawat pun mengantarku ke bagian bangsal rawat inap. Di sini ada perawat yang lain yang mengantarku untuk menuju ke kamar pasien yang kucari. Sejujurnya, aku juga taku tahu dengan apa yang membawaku untuk tiba-tiba menghampiri anak Pak Fathur ke mari, namun … aku hanya merasa dengan segala kondisi yang menimpa Pak Fathur dan keluarga kecilnya. “Silakan, pak.” Perawat tersebut menunjukkan padaku di bagian mana anak Pak Fathur dirawat. Dan aku pun dipersilakan untuk memasuki sebuah kamar yang memiliki enam kasur. Semuanya terdiri dari anak-anak. Ada yang sedang tertidur, ada yang sedang dibacakan buku oleh ibunya, dan ada pula yang sedang disuapi makanan. Yang mana Fadil? Aku sama sekali tidak tau dan tidak punya informasi mengenai anak tersebut. Bahkan ibunya pun tak ada. Mereka

