Hati ini berdegup kencang begitu menyadari akan ada seorang pria yang hendak menjemput Neng Iis. Sepertinya, tiga tahun merupakan waktu yang terlalu lama untuk meninggalkan seorang perempuan tanpa ada kepastian. Pantas saja jika dirinya berpaling mencari yang lain. Ah …, tepatnya mungkin bukan berpaling, melainkan hanya sekedar mencari yang terbaik daripada harus menunggu dengan harapan kosong. Aku salut pada Neng Iis bila dia bisa melupakan aku dan mencari pria lain. Pria bermotor di belakangku sepertinya telah menutup panggilannya. Dia sedang menunggu wanita yang ia baru saja ia panggil dengan tetap berdiri di samping motornya. Kudengar suara pintu terbuka dari rumah Neng Iis dan ada seseorang keluar dari sana. Tidak terlihat dengan jelas, karena gerbang rumahnya cukup rapat. Namun d

