B 494 S, mobil sedan mewah dengan nomor polisi tersebut, berpakir di sebuah garasi bersama dengan deretan mobil mewah lainya. Turun dari dalam mobil itu seorang pria dewasa yang memakai setelan jas berwarna hitam. Kemudian pria yang berusia sekitar tiga puluhan itu, berjalan tegap menuju rumah mewah dengan desain klasik.
"Sudah pulang pak Bagas?" Tegur salah seorang asisten rumah tangga saat Bagas baru saja menutup pintu ruang tamu. Assisten rumah tangga itu berjalan santai mendekati Bagas. Kemudian ia mengambil tas kerja berwarna hitam dari tangan Bagas lalu membawanya ke ruang kerja Bagas.
Sedangkan Bagas berjalan santai di belakang assisten rumah tangganya.
"Le."
Suara seorang wanita yang sudah berusia lanjut menghentikan langkah kaki Bagas. Ia memutar kepalanya 90 derajat untuk menoleh ke arah suara itu berasal. Bibirnya tersenyum simpul, menyambut ibu Sumi yang sedang berjalan santai ke arahnya.
"Sudah pulang le?" Tanya bu Sumi ketika sudah berada tepat di samping Bagas.
"Sampun bu.."
Bagas mengalukan tangannya di punggung ibu Sumi, kemudian ia mencium kedua pipi wantia yang kini tubuhnya sudah agak membungkuk.
"Adnan belum pulang?" Tanya Bagas.
"Belum, paling sebentar lagi." Jawab ibu Sumi sambil melepaskan jas hitam yang melekat di tubuh Bagas. Setelah jas itu terlepas ibu Sumi melipat dan mengangtungkan di pergelangan tangannya. "Ibu khawatir sama Adnan."
Bagas mengerutkan kening menatap wajah ibu Sumi yang terlihat murung. "Khawatir kenapa bu?" Tanya Bagas sambil menggulung lengan baju kemejanya sampai seperempat pergelangannya.
"Baju yang dipake Adnan itu nggak ada yang bener, celananya kok sobek semua. Ibu cuma takut nanti dia dikira preman. Tolong dinasehati le jangan sampai anakmu itu salah pergaulan. Masak beda banget sama pas jaman kamu kuliah, ayahnya juga enggak begitu."
Bagas tersenyum simpul mendengar penuturan ibu Sumi. Wajar sih kalau ibu Sumi mempunyai pikiran yang demikian. Pikirannya masih sangat kolot, tapi itu semua karena ia sangat menyayangi cucu satu-satunya.
"Ndak usah terlalu dipikirkan bu. Kita tau gimana Adnan, mungkin dia lebih nyaman sama pakaian yang model seperti itu. Tapi sejauh ini baik-baik saja to bu? Adnan ndak pernah terlibat kejahatan." Jelas Bagas. "Nggak papa penampilan seperti preman, yang penting hatinya seperti malaikat." Imbuh Bagas sambil memberikan senyum kepada ibu Sumi.
Ibu Sumi juga ikut tersenyum, kemudian ia memukul pelan lengan Bagas, "kamu bisa aja." Ucapnya.
" Adnan masih muda, dia sedang mencari jati dirinya bu. Aku ndak mau terlalu mengekang dia. Biarkan dia berekspresi, nanti kalo udah dewasa juga pasti berubah." Bagas mengusap-usap punggung ibu Sumi seraya berkata, "jangan terlalu dipikirin."
Bagas paling bisa membuat hati dan perasaan ibu Sumi tenang. Cara Bagas berbicara, tutur katanya yang sopan selalu bisa membuat senyum ibu Sumi mengembang.
"Tapi jangan terlalu dimanja," ucap bu Sumi.
Bagas menanggapinya hanya dengan senyuman.
"Aku mau mandi dulu bu," ijin Bagas.
"Ya sudah ibu siapian makan dulu buat kamu."
Kemudian ia berjalan menuju anak tangga, untuk masuk ke kamarnya.
"Masmu kapan pulang le ?"
Bagas menghentikan perjalanannya saat sudah berada di tengah tangga. Ia memutar tubuhnya menatap ibu Sumi yang masih di lantai dasar.
"Mungkin lusa bu." Jawab Bagas.
Sudah tiga hari Arya berada di Purworejo, ia sedang memantau usahanya yang ada di sana. Sekalian melihat rumah mereka yang sudah lama ditinggalkan.
Sejak Bagas dan Arya lulus kuliah, mereka memutuskan untuk pindah di kota Yogyakarta. Selain klien Bagas sebagian besar berasal dari Jogja, kota itu termasuk kota besar. Punya potensi bagus untuk mengembangkan bisnis Arya. Tapi sesekali mereka juga masih sering ke tempat asal mereka. Purworejo.
"Jangan boleh lama-lama di sana, memangnya kamu ndak kangen apa?"
Bagas tercekat mendengar kata-kata ibu Sumi. Entahlah, akhir-akhir ini ibu Sumi seperti sengaja menggoda Bagas. Ia sering membicarakan Arya di depan Bagas. Seperti sedang membicarakan anaknya kepada menantunya. Seperti kata kangen yang keluar dari mulut ibu Sumi barusan. Itu sudah membuat Bagas gelagapan.
"Ahk... ibu ini ngomong apa toh?" Rona wajah Bagas terlihat memerah. Kemudian ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke kamar. Namun wajahnya terlihat gelisah, keningnya berkerut nampak ia sedang berpikir.
Apa ibu tau? Pikir Bagas.
Ibu Sumi tersenyum simpul sambil menggeleng-gelangkan kepala. Matanya menatap teduh punggung Bagas yang sedang menaiki anak tangga.
~ARBA~
Setelah menyelesaikan sholat ashar di mushola kampus, Adnan berjalan mengendap ke luar mushola. Adnan mengintai keadaan diluar, merasa aman dan terlihat sepi, Adnan pun meninggalkan mushola, lalu berjalan santai menuju gedung fakultasnya.
Ini memang kali pertama Adnan sholat di mushola kampus. Biasanya kalau tidak mencari masjid di luar kampus, ia lebih sering melakukan sholat di rumahnya. Tapi berhubung waktu ashar sudah mau habis, jadi mau tidak mau, Adnan menjalankan ibadah sholat ashar di mushola yang ada di kampusnya.
Bukan apa-apa, image nya di kampus terkenal sebagai macan kampus. Lalu penampilannya yang seperti preman membuat orang-orang menyebutnya berandal.
Biasalah, orang-orang di negara Indonesia, apapun itu pasti lebih banyak komentar negativenya dari pada yang positife. Contoh; seorang preman biasa melakukan kejahatan, tapi giliran preman itu sudah tobat, atau berbuat baik pasti ada aja yang suka nyinyir.
Adnan cuma tidak mau, hal itu sampai terjadi padanya. Lagipula Adnan bukan tipe pemuda yang suka pamer, atau pencitraan.
Dikit-dikit posting di sosmed, contoh lagi; otw soljum, atau; tenang kalau udah sholat.
Padahal, katanya laki-laki yang suka apload atau pamer di sosmed kalau dirinya sedang sholat jumat atau apapun. Mereka adalah orang yang jarang, bahkan tidak pernah melakukan ibadah tersebut. Jadi sekalinya beribadah langsung posting, atau pamer.
Bagi Adnan, ibadahnya cukup ia sama Tuhan yang tahu. Toh yang memberi pahala juga Tuhan, bukan orang-orang. Tidak perlu semua orang tahu kalau Adnan rajin beribadah, yang penting Tuhan tahu kalau Adnan memang rajin.
Untuk masalah penampilan Adnan, Bagas dan Arya memang tidak pernah mempermasalahkan. Tapi kalau untuk urusan ibadah, Bagas dan Arya selalu keras dalam mendidik Adnan.
Seperti apa kata Bagas.
Tidak apa-apa terlihat seperti berandal, yang penting hati seperti malaikat. Dari pada terlihat seperti malaikat, tapi ternyata hatinya iblis. Busuk!
Adnan merubah arah tujuannya, yang tadinya ia akan ke fakultas jurusannya. Tapi karena ia melihat gadis pujaan hati sedang berdiri tidak jauh dari gedung fakultasnya, Adnan lebih memilih menemui Fatma.
"Hai..." sapa Adnan setelah ia berada tepat di hadapan Fatma. "Ngapain di sini?"
Adnan merasa heran, pasalnya fakultas kedokteran, jaraknya lumayan jauh dengan fakultasnya.
"Mau nemuin aku ya?" Imbuh Adnan. Ia memang lumayan percaya diri. Bagaimana tidak, banyak wanita yang meng eluh-elukannya. Itu yang membuat Adnan menjadi terlalu percaya diri, bahkan di hadapan Fatma sekalipun.
Seperti biasa Fatma selalu memutar bola matanya malas, tiap kali bertemu dengan Adnan. Wajar kalau Fatma seperti itu, manusia punya batas kesabaran, atau jerah. Digoda, dan diganggu terus-terusan lama-lama Fatma juga pasti akan bosan. Apalagi pria yang menggodanya tampangnya seperti preman.
"Lagi nunggu temen." Fatma tidak mau dicap sombong. Jadi meski malas ia tetap menjawab pertanyaan Adnan.
"Temen?" Adnan mengenyeritkan kening. "Siapa?"
Baru saja Fatma akan membuka suaranya, tiba-tiba seorang pemuda memanggil namanya.
"Fatma...!"
Persis banget seperti adegan di sinetron-sinetron atau FTV Indonesia.
"Udah dari tadi?" Tanya Fatur sambil merapikan tas gendongnya. Kemudian Fatur menoleh ka arah Adnan yang sedang menatapnya heran. "Adnan!" Sapa Fatur ramah.
"Hem..!" Adnan hanya bergumam sambil mengangkat kepalanya singkat.
Fatur adalah seorang mahasiwa yang masih satu jurusan dengan Adnan. Tapi meski begitu hubungan mereka kurang dekat. Karakter Fatur sangat bertolak belakang dengan Adnan. Fatur adalah pemuda yang terkenal sangat alim, sopan, dan juga ramah. Fatur juga terkenal ganteng. Jadi jika disandingkan dengan Fatma, Fatur sangat cocok.
Dari nama saja sudah serasi, Fatur dan Fatma. Kepribadian mereka juga sama, soleh dan soleha. Pokoknya mereka akan menjadi couple favorit jika menjadi sepasang kekasih.
Itu sebabnya Adnan tidak pernah suka dengan yang namanya Fatur.
"Belum..." jawab Fatma. "Yuk..." ajak Fatma kepada Fatur. "Kita duluan ya Adnan."
"Tunggu!"
Fatur dan Fatma menghentikan perjalanannya yang baru beberapa langkah. Keduanya menatap Adnan dengan tatapan penuh tanya.
Adnan berdiri tepat di hadapan Fatma, tatapan matanya lurus menatap mata Fatma.
"Fatur..." panggil Adnan. Namun matanya tidak berpaling dari wajah Fatma. Adnan melipat kedua tangannya di d**a seraya berkata.
"Aku titip dia ya... tolong jaga jodohku ini baik-baik. Soalnya aku nggak mau ada yang lecet, pas waktunya nanti tulang rusukku ini kembali sama pemiliknya. Meskipun cuma lecet sedikit."
Setelah menyampaikan itu, Adnan berlalu meninggalkan Fatma dan Fatur yang sedang terbengong dengan kata-kata Adnan barusan.