Tiga

2668 Kata
Adnan memarkirkan motornya di garasi, bersamaan dengan barisan mobil mewah milik ayah dan papanya. Meski ada belasan mobil mewah di rumahnya, namun Adnan lebih suka menggunakan motor jika pergi kuliah atau kemanapun. Langkah kaki Adnan membawanya hingga sampai di depan pintu rumah. Kepalan telapak tangannya menggantung di udara, ia urung mengetuk pintu, lantaran pintu sudah dibuka dari dalam. "Eh... mas Adnan sudah pulang," sapa seorang assisten rumah tangga yang secara kebetulan baru saja membuka pintu. "Sudah bi," balas Adnan seraya melangkahkan kaki, berjalan masuk ke dalam rumah, lalu Adnan berlari kecil menuju kamar pria yang biasa ia panggil papa. Sementara pembantunya melanjutkan perjalanannya, setelah menutup kembali pintu rumah. Ia akan pergi ke pasar untuk berbelanja. Adnan membuka sedikit pintu kamar Bagas. Kepalanya sudah masuk ke dalam kamar Bagas, namun badannya masih bersembunyi di balik pintu. Senyum simpul terbit dari bibir Bagas, kala bola matanya melihat kepala Adnan muncul dari balik pintu. Ia menutup laptop yang ia taruh di atas pahanya, meletakan laptop itu di atas meja kecil di samping ranjangnya. Sementara Adnan tanpa permisi, ia langsung nyelonong masuk ke kamar, berjalan santai, mendekati Bagas yang sedang duduk selonjoran, sementara punggungnya menyandar di sandaran dipan. "Assalamualaikum pa..." ucap Adnan setelah ia sudah berdiri di samping Bagas. Bagas kembali menerbitkan senyum simpul, ia harus mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Adnan, "wa'alaikumsalam..." balas Bagas. "Gimana to? salam itu diucapkan pas kamu masih didepan pintu, bukan kamu udah di dalem baru ngucapin salam." Nasehat dari Bagas hanya ditanggapi senyum nyengir saja sama Adnan. Yah Adnan memang seperti itu, kalau dinasehati seperti tidak mengindahkan. Tapi sejujurnya ia mendengarkan, lalu mempraktekkan nya suatu saat nanti. Adnan menjatuhkan pantatnya di atas kasur, duduk merapat di samping Bagas, lalu menidurkan kepalanya di pundak Bagas. Kalau sama Bagas, Adnan sedikit manja, tapi kalau sama Arya, Adnan tidak pernah seperti itu. Maklum saja, kadang Arya suka keras dalam mendidik Adnan. "Ayah belum pulang pa?" Tanya Adnan, membuka obrolannya. "Belum, paling lusa," jawab Bagas, Ia menoleh ke kepala Adnan yang masih nyaman menyandar di pundaknya. "Kenapa emangnya? tumben nanyain ayah, biasanya kamu seperti nggak pernah perduli ayah kamu pulang apa enggak." Adnan tersenyum nyengir, "ada yang pingin aku tanyain sama ayah." "Mau tanya apa? Emangnya nggak bisa kalo tanya sama papa?" Bagas mendorong punggung Adnan, lalu menyandarkanya di kepala ranjang. Adnan sudah besar dan berat, kalau terlalu lama menyandar, pundak Bagas lama-lama pegal. "Bukan gitu pa," Adnan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat merona. "Soalnya ini menyangkut masa depanku." Kata-kata Adnan membuat Bagas menarik wajahnya, keningnya berkerut menatap heran kepada pemuda yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Bahkan Bagas sangat menyayangi Adnan melebihi dirinya. "Oh... jadi papa nggak punya hak buat tau masa depan kamu? apa papa ini juga nggak boleh nentuin masa depan kamu? papa orang lain?" "Duh..." sesal Adnan. Sepertinya ia sudah salah berbicara hingga membuat Bagas salah paham. Adnan merutuki dirinya sendiri, lantaran ia sudah membuat Bagas tersinggung. "Bukan gitu pa," ucap Adnan, kedua tangannya yang kekar mengulur, memeluk erat tubuh Bagas. "Trus?" Sebenarnya Bagas cuma pura-pura ngambek saja sih, cuma Adnannya saja yang mengira kalau Bagas marah sungguhan. "Yaudah deh, aku mau ngomong sama papa," ucap Adnan, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Bagas. "Tapi papa jangan marah dong," bujuk Andan. "Yakin? ikhlas ni mau ngomong dulu sama papa?" Tanya Bagas memastikan. "Tuh kan, papa mah gitu. Masak gitu aja ngambek," Adnan melepaskan pelukkannya dari tubuh Bagas. Ia membenturkan punggungnya, menyandar pada sandaran dipan. Tatapannya lurus kedepan, wajahnya ia tekuk. Sekarang giliran Adnan yang ngambek. Bagas tersenyum nyengir, terkekeh pelan sambil telapak tangannya mengacak-acak rambut lurus Adnan yang memang sudah acak-acakkan. "Papa bercanda, udah mau tanya soal apa?" Ucap Bagas, "kamu yang ngambek, emang nggak malu sama celana kamu yang robek-robek kayak preman, kalo diledek segitu aja ngambek." Jemari Adnan mengepal, memukul pelan lengan Bagas, seraya berkata, "cuma sama papa aja aku ngambek, sama ayah mana pernah." Tegas Adnan membela diri. "Iya, buruan ngomong," desak Bagas. Manik mata Adnan melirik ke arah Bagas, rona wajahnya terlihat memerah. Sepertinya Adnan malu ingin menyampaikan maksudnya kepada Bagas. "Anu pa...." Adnan menggantungkan kalimatnya membuat Bagas mengrenyit heran, "anu apa toh?" Tanya Bagas. "Em..." Adnan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia terlihat ragu menyampaikannya. "Heem... lama," keluh Bagas yang sudah tidak sabar. "Aku mau ta'aruf," ucap Adnan to the point, ia tidak mau berbasa-basi. Pernyataan Adnan membuat Bagas terdiam, manik matanya menatap lekat-lekat wajah Adnan, mencari keseriusan di sana. Kalau boleh jujur, Bagas masih belum yakin dengan apa yang dikatakan sama Adnan barusan. "Kamu lagi ngigo? apa kuping papa yang lagi nggak beres." Ledek Bagas sambil mengorek lubang telinga, menggunakan telunjuknya. Lantaran tidak ditanggapi dengan serius, Adnan memutar bola matanya malas, sambil mendengkus kesal. "Aku serius pa," tegas Adnan. Bagas tertegun menatap wajah Adnan yang begitu serius menyampaikan maksudnya. Tapi bagaimana mungkin Adnan mempunyai pemikiran untuk melakukan ta'aruf? Sejauh ini Adnan belum pernah mengenalkan seorang gadis padanya. Selain itu usianya masih terlalu muda, masa depannya masih sangat panjang. Jadi bagaimana mungkin Adnan mempunyai pikiran untuk segera menikah? "Kenapa kamu pingin ta'aruf? Kuliah kamu saja masih belum lulus. Nunggu Umur kamu kamu cukup. Papa enggak setuju. Papa juga yakin pasti ayah kamu nggak akan setuju. Kamu juga nggak pernah ngenalin, atau minimal cerita sama papa kalo kamu lagi suka sama gadis." "Ayaolah pa... papa harus bantu aku buat ngomong sama ayah," mohon Adnan. "Gadis ini sangat istimewa, nanti kalo dia udah mau aku ajak buat ta'aruf, aku bakal kenalin dia sama papa. Aku yakin papa pasti akan suka sama dia. Dia itu spesial, makanya aku mau langsung ajak dia nikah, aku masih bisa sambil kuliah walopun aku udah nikah_" "Tunggu-tunggu," Bagas memotong kalimat Adnan. "Tadi kamu bilang kalo dia mau diajak ta'aruf?" Adnan menganggukkan kepala, membuat Bagas terkekeh pelan. "Kok papa ketawa?" Heran Adnan. "Gimana papa nggak ketawa?" Ucap Bagas ditengah kekehannya, "kamu udah ngomong sapa papa kalo mau ta'aruf, sementara calonnya sendiri belum kamu ajak, itu namanya kamu terlalu percaya diri-" jelas Bagas. "-lagi pula Nan, berumah tangga itu enggak gampang, menyatukan dua perasaan yang berbeda. Enggak bisa kalo harus menelan mentah-mentah! Soalnya pernikahan itu bukan untuk mainan, kalo kamu terburu-buru kaya gini, terus kandas tengah jalan gimana? Memang ta'aruf itu bagus, mencegah atau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi kalo menurut papa, menuju rumah tangga itu perlu proses, saling mengenal satu sama lain. Yah, minimal tunangan dululah. Jadi kalian bisa saling mengenal satu sama lain." Penjelasan Bagas membuat Adnan terdiam, memang sih ada benarnya, tapi gadis yang ingin dinikahi Adnan bukan gadis pada umumnya. Beberapa kali Fatma menegaskan bahwa tidak dibenarkan menjalin hubungan pacaran. Oleh sebab itu Adnan ingin langsung mengajak Fatma menikah, walaupun sejauh ini belum ada sinyal-sinyal bagus dari Fatma untuk Adnan. Jangankan sinyal, melihat Adnan saja Fatma seperti alergi, rasanya pingin segera menjauh. Mungkin benar apa yang dikatakan sama Bagas, Adnan terlalu percaya diri. Tapi bagi Adnan percaya diri itu penting, Adnan laki-laki, dan katanya seorang laki-laki itu berhak memilih. "Tapi Fatma beda pa," ucap Adnan. "Oh... gadis itu namanya Fatma?" Serga Bagas yang langsung ditanggapi nyengir kuda sama Adnan, lantaran ecara tidak sengaja ia menyebut nama gadis pujaannya. "Iya pa," jawab Adnan. "Nama yang bagus, pasti anaknya cantik? Soalnya kalo enggak mana mungkin kamu ngebet buat nikahin dia." Tebak Bagas. "Dia bukan cuma cantik pa, buatku dia spesial. Anaknya rajin ibadah, maklum ia keluarganya priyayi, bapaknya ustadz terkenal. Makanya dia anti tunangan, atau pacaran." Jelas Adnan. Bagas terdiam, mendengar kata ustadz, ia bisa langsung memahami sosok seorang gadis yang ditaksir Adnan. Bagas juga bisa langsung mengerti kenapa Adnan ingin melakukan ta'aruf. Tapi yang jadi pertanyaan Fatma mau apa tidak? Atau mungkin orang tuanya mengijinkan putrinya menikah dengan Adnan. Manik mata Bagas menelusuri tubuh Adnan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jujur saja sih, kalau melihat penampilan Adnan, Bagas kurang yakin jika orang tua Fatma akan setuju. Namun Bagas tidak mau mengomentari, penampilan Adnan, Adnan sudah cukup dewasa, ia pasti tahu apa yang harus ia lakukan. "Yah... malah diem?" Keluh Adnan, ia sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Bagas. "Bukan diem, papa lagi mikir. Gini," ucap Bagas yang langsung membuat Adnan antusias akan mendengarkannya. "Papa akan setuju kamu ta'aruf, dan papa nanti akan bantu dukung kamu. Papa nanti akan ngomong sama ayah kamu." Pernyataan Bagas membuat Adnan mengembangkan senyum. Rasanya Adnan benar-benar sangat bahagia. "Tapi ada syaratnya," lanjut Bagas. "Syarat?" Tanya Adnan heran. "Syarat apa?" Jemari Bagas mengepal, lalu memukul pelan kening Adnan. "Syaratnya ya kamu pastiin dulu sama papa, sama ayah kalo Fatma benar-benar mau diajak ta'aruf sama kamu. Kuncinya kan ada di Fatma." "Ohiya," Adnan tersenyum nyengir, meski belum yakin dengan jawaban Fatma, setidaknya ia sudah mendapat lampu hijau dari Bagas. Adnan melebarkan kedua tangannya, memeluk erat tubuh Bagas, sambil mencium pipi Bagas. "Papa terbaik." Bagas tersenyum simpul, "tujuan kamu baik, insyaallah dimudahkan." "Aamiin," ucap Adnan. "Ohiya, ngomong-ngomong kamu masih sering ke panti?" Tanya Bagas mengalihkan pembicaraan. "Masih pa," jawab Adnan yang masih memeluk erat tubuh Bagas. ~ARBA~ Sore itu Fatma sedang duduk bersimpuh, di lantai beralaskan permadani. Matanya yang bulat dan indah, menatap kagum pada sosok pria yang sedang memberikan ceramah kepada jama'ah pengajiannya. Seorang pria yang selalu menjadi panutannya. Sementara di hadapan Fatma dan ayahnya, sedang duduk berbaris para ibu-ibu anggota majelis ta'alim dari berbagi desa. Mereka sengaja hadir mengikuti acara pengajian ustadz Basuki yang rutin diselenggarakan dua kali dalam satu minggu. Ustadz Basuki, ia memang selalu mengadakan pengajian rutin yang ia gelar di majelis ta'alim miliknya sendiri. Letak nya tidak jauh dari rumahnya. Jika ustadz Basuki sedang menghadiri undangan ceramah di luar kota, umi Fatima, istri ustad Basuki atau ibunya Fatma yang mengantikan untuk memberikan tausiah. Jika sedang tidak ada jam kuliah, Fatma memang selalu mengikuti pengajian ayahnya. Meski ia calon dokter, tapi Fatma tidak pernah gengsi ikut membagikan snak atau makanan ringan kepada puluhan jama'ah yang hadir. Fatma, umi Fatima, dan puluhan jama'ah lainya terlihat antusias mendengarkan ceramah dari ustadz Basuki. Tema ceramah yang sedang disampaikan oleh ustadz Basuki saat itu adalah; tentang bagaimana perjuangan Nabi Luth menyadarkan kamunya dari prilaku menyimpang yang menyukai sesama jenis, LGBT atau homo seks. Dengan memegang mikrofon, ustadz Basuki berdiri dengan gagahnya. Jubah putih yang ia kenakan, semakin membuat ia terlihat sangat berwibawa. Ustadz Basuki mengedarkan pandangannya ke arah ibu-ibu yang sedang duduk tenang, menatapnya penuh takjim. "Jadi ibu-ibu, bagi yang mempunyai anak laki-laki, masih mudah ganteng, kita juga harus waspada." Ustadz Basuki menjedah ceramahnya, ia kembali mengedarkan pandangan ke arah ibu-ibu pengajian sebelum akhirnya melanjutkan. "-ternyata tidak hanya kepada anak perempuan saja kita harus ketat. Sama anak laki-laki kita juga harus lebih waspada. Jangan sampai anak laki-laki kita terjerumus, terlibat sama pergaulan bebas. Jangan sampai mereka menjadi korban sodomi atau sejenisnya." "-jaman sekarang itu banyak sekali anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual. Modusnya... ngasih barang-barang bagus, dikasih apa saja yang mereka mau, tapi ujung-ujungnya mereka jadi korban nafsu b***t orang-orang yang tidak bertanggung jawab-" "-jadi intinya, tidak anak laki-laki, ataupun anak perempuan, sebagai orang tua kita wajib melindungi mereka dari pergaulan bebas. Jangan sampai anak-anak kita berada dekat dengan lingkungan yang bisa merusak moral anak kita." Ceramah yang diberikan ustadz Basuki berlangsung dengan lancar. Ibu-ibu pengajian mengikuti tiap-tiap tausiah yang disampaikan oleh ustadz Basuki penuh dengan antusias, dari awal hingga akhir ceramahnya. Fatma, ustadz Basuki dan umi Fatimah keluar dari gedung majelis ta'limnya, setelah para anggota ibu-ibu pengajian pulang ke desanya masing-masing. Pengajian hari itu sudah selesai diselenggarakan. Ketiganya jalan beriringan menuju rumah mereka yang letaknya hanya beberapa meter dari gedung majelis. "Assalamulaiku...." Seorang pemuda tampan, menghentikan langkah Fatma dan kedua orang tuanya. "Wa'alaikumsalam..." Balas Fatma secara bersamaan dengan kedua orang tuanya. "Mohon maaf abi, umi saya menghentikan perjalanannya," ucap pemuda itu penuh takjim. Ustadz Basuki menatap lekat-lekat, pemuda tampan, dan terlihat sangat sopan. "Kamu siapa?" "Abi, dia temen satu kampus Fatma, namanya Fatur." Serga Fatma. Fatur tersenyum simpul, mengangguk penuh takjim kepada ustadz Basuki dan umi Fatimah. "Calon dokter juga?" Tebak ustadz Basuki. "Bukan abi," kali ini Fatur yang menjawab sendiri. "Saya dari fakultas teknik, beda jurusan sama Fatma." Ustadz Basuki menatap penuh intimidasi ke arah Fatur. Meski pemuda yang sedang berdiri di hadapannya terlihat alim dan sopan, tapi bukan berarti ia membiarkan putrinya dekat dengan laki-laki. "Ada keperluan apa dek Fatur datang kemari?" Tanya umi Fatimah dengan gaya keibuannya. "Begini abi... umi... walopun saya sama Fatma beda jurusan, tapi kami tergabung dalam program yang diadakan kampus. Beberapa bulan kedepan kampus kami akan mengadakan kegiatan sosial. Jadi maksud kedatangan saya kemari, saya ingin menyusun atau mendata beberapa panti asuhan, yang akan kita kunjungi untuk kegiatan sosial kami." Jelas Fatur panjang dan lebar. Sementara ustadz Basuki hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Yang disampaikan sama Fatur tadi bener abi, kebetulan Fatma sama Fatur jadi ketua panitia kegiatan kampus kita." Ucap Fatma memperkuat penjelasan Fatur. "Oh.. yasudah kalo gitu ngobrol-ngobrolnya di rumah saja." Ustadz Basuki langsung bersikap ramah setelah ia mengetahui maksud dan tujuan Fatur menemui anaknya. "Terima kasih bi, umi," ucap Fatur seraya mengangguk takjim. Ustadz Basuki melanjutkan perjalanannya menuju rumah, beriringan dengan umi Fatimah. Semenatara Fatur dan Fatma mengekor dari belakang. ~ARBA~ Arya menutup pintu ruang tamu, ia berjalan tegap menuju kamarnya yang berada di lantai dua. "Lho... sudah pulang le," suara ibu Sumi mengehntikan langkah kaki Arya yang akan menaiki anak tangga. "Sampun bu," jawab Arya setelah ibu Sumi berada tepat di hadapannya. "Ibu kira besok, soalnya dek Bagas bilangnya ke ibu besok," jelas ibu Sumi. "Iya, rencana emang besok, tapi buat apa lama-lama toh sudah ada yang urus di sana." Ibu Sumi meraih tas ransel yang sedang dipegang Arya, sementara Arya reflek memberikan tasnya. "Gimana kabar Purworejo? trus rumah kita udah selesai apa belum?" Arya menenggelamkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana sebelum akhirnya menjawab, "Purworejo baik bu, rumah kita tinggal finishing aja." Ucap Arya, kemudian ia mengarahkan pandangannya ke arah kamar, "dek Bagas di kantor apa sudah pulang bu?" "Dek Bagas sudah pulang dari siang, kalo Adnan belum pulang kuliah..." Arya tersenyum nyengir mendengar jawaban ibunya, mentertawakan dirinya sendiri lantaran ia tidak menanyakan Adnan. Putra satu-satunya. "Yaudah bu... aku mau ke kamar dulu, mau mandi." Ibu Sumi menganggukan kepalanya, "Iya sana, nanti ibu bawain minum." Arya melanjutkan perjalanannya menaiki anak tangga. Ibu Sumi pergi ke arah dapur menyiapkan minum, sambil membawa tas yang mungkin berisi pakaian kotor milik Arya. Selama di Purworejo Arya tidak pernah mencuci pakaiannya sendiri, ibu Sumi sangat paham dengan kebiasaan anaknya. Oleh-oleh yang Arya bawa, selalu pakaian kotor. Arya berjalan melenggang melewati kamarnya, lalu mengetuk kamar yang bersebelahan dengan kamarnya sendiri. Senyum nyengir terbit dari bibir Arya saat melihat pemilik kamar membukakan pintu untuknya. "Dek...." sapa Arya. "Lho mas, sudah pulang?" Ucap Bagas heran. "Katanya besok?" Tanpa menjawab pertanyaan Bagas, Arya mendorong masuk tubuh Bagas, tangan kekarnya meraih handle pintu, lalu menariknya hingga pintu tertutup rapat namun lupa menguncinya. Setelah berada di dalam kamar, Arya melingkarkan tangannya dipinggang Bagas, lalu memeluknya erat. Sementara keningnya menempel di kening Bagas. Jarak wajah mereka begitu sangat dekat hingga membuat hidung keduanya sampai bersentuhan. "Rencana besok, tapi mas udah kangen," ucap Arya dengan suara yang berbisik. "Bisa aja kamu mas, mbok mandi dulu sana," titah Bagas. "Mandinya nanti saja," tolak Arya, kemudian ia mendekatkan bibirnya hingga mendarat di bibir Bagas. Sambil melumat bibir bawah milik Bagas, Arya berjalan mendorong tubuh Bagas ke arah ranjang, lalu keduanya berakhir ambruk ke kasur, dengan posisi Arya menindih tubuh Bagas. Tangan kekar Arya menarik selimut, atau bed cover untuk menutupi tubuh mereka. "Mandi dulu mas," titah Bagas kembali, setelah tubuh mereka tertutup oleh selimut tebal. "Nanti saja mandinya, sekalian..." tolak Arya. Arya memang seperti itu, ia tidak bisa pisah terlalu lama dengan Bagas, meskipun hanya satu minggu. Terlihat Ibu Sumi mengerutkan kening, menatap heran pada selimut yang sedang bergerak-gerak tidak jelas. Bibirnya tersenyum simpul sambil menggelang-gelangkan kepalanya. Ibu Sumi menutup kembali pintu kamar Bagas, lalu berjalan ke arah dapur. Ibu Sumi urungkan niatnya yang akan memberikan minum untuk Arya. Mungkin nanti saja, setelah Arya selesai melepaskan rindunya kepada Bagas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN