Empat

2282 Kata
Masih dalam keadaan telanjang bulat, Arya sedang terlelap dalam tidur dengan posisi tengkurap. Selimut tebal hanya menutupi kaki sampai kebagian pinggang saja. Sehingga punggungnya yang lebar dan berotot, terekspose sempurna. Kedua lengan kekarnya memeluk bantal yang sedang ia gunakan untuk landasan kepala. Tidurnya terlihat sangat pulas, lantaran Arya masih kelelahan akibat adegan dua ronde yang baru saja ia lakukan bersama Bagas. Sekedar informasi; meskipun usia Arya sudah mencapai kepala empat, tapi untuk urusan ranjang tenaganya masih sangat kuat. Seandainya tadi Bagas tidak menolak, Arya masih mampu menambah satu atau bahkan dua ronde lagi. Tapi sayang, Bagas menolak lantaran hari sudah hampir gelap. Jangan salahkan Arya yang ingin meminta nambah, tapi salahkan waktu yang sudah memisahkannya selama beberapa hari. Karena itu Arya menjadi rindu berat. Bergulat di atas ranjang, adalah cara paling manjur untuk menuntaskan hasrat rindunya kepada Bagas. Satu lagi, tubuh Arya yang kini terlihat atletis karena rajin melakukan fitnes, membuatnya nampak begitu seksi saat dirinya sedang menggagahi Bagas di atas ranjang. Apalagi kalau keringat dingin sudah keluar membasahi sekujur tubuhnya, bisa dibayangkan, keseksian Arya tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Sementara itu, Bagas baru saja keluar dari kamar mandi, dengan memakai handuk kimono. Tubuhnya terlihat sangat segar, ditambah dengan rambut semi basah yang sedang ia acak-acak menggunakan handuk kecil. Berjalan santai ke arah ranjang, bibirnya tidak berhenti mengusung senyum, saat melihat pria yang baru saja memberikan rasa sakit bercampur nikmat, masih tertidur pulas. Sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk, secara tidak sengaja kepalanya menoleh ke arah pintu kamar. Deg...! Betapa terkejutnya ia kala bola matanya melihat pintu yang sedikit terbuka. Sebenarnya hanya sedikit sekali pintu itu terbuka, paling cuma dua senti saja. Tapi itu sudah membuat Bagas terkejut, lalu berjalan cepat mendekati pintu kamarnya. Bagaiman Bagas tidak terkejut? itu artinya ia dan Arya lupa mengunci pintu kamar saat sedang bergulat di atas ranjang. Setelah menutup, sekaligus mengunci pintu kamar, Bagas berjalan cepat menghampiri Arya yang masih tertidur pulas. "Mas... mas... bangun," ucap Bagas saat ia sudah duduk di tepi ranjang. "Mas bangun..." ucap Bagas kembali, sambil menggerak-gerakan punggung kekar Arya. Arya membuka sedikit matanya, melihat Bagas dengan mata sayu, "opo toh dek? Ngganggu aja," keluh Arya sambil menggeliat. "Mas tadi nggak ngunci pintu ya," tanya Bagas, wajahnya terlihat panik. "Mosok?" Ucap Arya santai, matanya kembali terpejam lantaran ia masih mengantuk. "Iya... tadi aku liat pintunya kebuka sedikit," Bagas masih terlihat panik, ia merutuki kecerobohannya sendiri. Ia masih benar-benar sangat khawatir. Bagaimana tidak? Kalau aktivitas panasnya sampai dilihat orang bagaimana? Bisa-bisa hubungannya dengan Arya yang sudah mereka simpan rapat-rapat, akan terbongkar. Apalagi Adnan dan ibu Sumi jarang sekali mengetuk pintu saat akan masuk ke kamar Bagas. Entah apa yang akan terjadi, jika salah satu diantara mereka mengetahui pergulatan penuh gairah yang baru saja mereka lakukan. Membayangkan pun, Bagas tidak berani. "Mas lali," Arya menjawabnya tanpa beban, sangat enteng seperti tidak punya dosa. Ia tidak merasakan bagaimana takutnya Bagas. "Astaga... mas," dengus Bagas. "Kalo ada yang liat gimana coba? Ceroboh." "Takut amat dek, buktinya nggak ada yang liat. Sudah toh sini tidur lagi," ajak Arya sambil menarik pergelangan Bagas, tapi sayang Bagas menepisnya. "Nggak mas. Sana mandi, terus buruan keluar dari kamar," titah Bagas. Arya kembali menggeliat, sedikit demi sedikit, bola matanya mulai terbuka lebar lantaran Bagas terus saja mengusiknya. Bibir Arya tersenyum nyengir, ia beranjak dari tidurnya, lalu menyandarkan pungunggungnya di kepala dipan, bola matanya tidak berkedip menatap Bagas. "Kamu sudah mandi?" "Sudah. Sekarang giliran mas sana mandi, terus cepetan keluar dari kamarku. Aku ndak mau ya... kalo nanti ibu, apa Adnan liat mas masih dalam keadaan kayak begini." Kekhawatiran Bagas sama sekali tidak ditanggapi sama Arya. Yang ada malah tangan kekarnya menarik pergelangan Bagas, menenggelamkannya dalam pelukan. "Nanti saja mandinya," Arya tersenyum nyengir, "sekali lagi yuk..." ajaknya. Jangan heran, dua ronde Arya masih kurang, tadi ia sempat ditolak sama Bagas saat ingin mengajaknya nambah. Sekarang ia makin tidak tahan saat melihat Bagas terlihat sangat segar setelah selesai mandi. Aroma sabun mandi, dari tubuh Bagas membuat Arya semakin tidak tahan untuk mengajak Bagas kembali masuk kedalam selimut. Sementara yang di bawah sana jangan ditanya, selalu tidak bisa anteng kalau melihat Bagas dalam keadaan seperti itu. Miliknya sudah berkedut, menggeliat dan kembali mengacung keras. Sekuat tenaga Bagas melepaskan dirinya dari dekapan Arya, "males mas, udah sore. Buruan ah mandi, jangan cari gara-gara." Dengan susah payah akhirnya Bagas bisa terlepas dari pelukan Arya. Berdiri di samping dipan, menatap Arya seraya berkata dengan tegas. "Nggak usah aneh-aneh mas, udah mau mahrib. Buruan mandi." Setelah menyampaikan itu, Bagas memutar tubuhnya berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaian. "Dek baju mas mana?" Tanya Arya lantaran ia tidak menemukan pakaiannya di atas ranjang ataupun di lantai. "Tak taruh di keranjang pakaian kotor. Di kamar mandi." Jawab Bagas sambil memilih pakaian di dalam lemari. Arya mendengkus, mengibaskan selimut yang menutupi kaki dan pinggangnya, iaturun dari ranjang, lalu berjalan melenggang ke arah kamar mandi dengan keadaan telanjang bulat. Ia terlihat sangat cuek, meski kejantanannya masih berdiri tegap mengacung ke atas. Terlihat Bagas mengerutkan kening, menatap heran pada Arya yang sedang berjalan tanpa busana. Ia menggelangkan kepalanya, saat mengetahui benda yang baru saja keluar masuk ke dalam lubangnya ternyata sudah berdiri lagi. "Wong edan..." maki Bagas. Tanpa menanggapi makian Bagas, dengan cueknya Arya tetap melanjutkan perjalanannya, masuk ke dalam kamar mandi. Arya memang seperti itu, ia sudah tidak malu lagi meski telanjang bulat di hadapan Bagas. Toh hanya di hadapan Bagas saja, tidak ada orang lain. Lagi pula, kenapa harus malu? miliknya juga sudah sepenuhnya ia berikan menjadi milik Bagas. Begitupun sebaliknya. ~ARBA~ Adnan sedang berkumpul bersama teman-teman gangnya. Di warung burjo, yang letaknya tidak jauh dari sekitar kampus. Jika tidak ada jam kuliah, Adnan dan teman-temannya memang sering menghabiskan waktu di sana. Meski banyak uang, tapi Adnan lebih suka jajan di warung sederhana seperti itu. Selain harganya murah, sangat pas untuk kantong para pelajar, tempatnya juga nyaman, jadi Adnan dan kawan-kawannya bebas berekspresi di sana. Jangan ditanya bagaimana wujud teman-teman Adnan seperti apa. Tidak jauh-jauh dari penampilan Adnan, urakan seperti preman. Terkadang memang seperti itu, meski tidak direncana, tapi karena nyambung, dan sejalan yang membuat pergaulan terkadang seperti berkelompok. Yang alim gangnya sama yang alami, yang bandel gangnya juga sama yang bandel. Walaupun sebenarnya kelakukan Adnan tidak sebrandal penampilannya, tapi Adnan merasa nyaman bergaul sama mereka. Bebas mengekspresikan jiwa mudanya. Teman Adnan, Bonar baru saja bergabung bersama mereka. Wajah nya terlihat lesu, pucat dan tidak bersemangat. Telapak tangannya sedang memijit pundaknya sambil sesekali menarik lehernya ke kanan dan ke kiri. Tingkah Bonar, mahasiswa asal Medan itu menarik perhatian Adnan yang, baru saja menyalakan rokok menggunakan pematik. "Kenapa Nar?" Tanya Adnan setelah Bonar duduk di sampingnya. "Sepertinya aku masuk angin," keluh Bonar, meski sedang tidak enak badan, tapi suara ngebas logat Bataknya masih kentara. "Dua minggu aku tak mencuci pakaianku, semalaman aku lembur sampai jam tiga pagi." "Makanya kau jangan malas," cibir Adnan, ia mengikuti gaya berbicara Bonar, menggunakan logat Batak. Adnan memukul pelan pundak Bonar, "ngadep sana," titah Adnan supaya Bonar memutar tubuhnya. "Kau mau apa?" Tanya Bonar. Adnan mematikan rokok ke dalam asbak, ia memutar tubuhnya 90 derajat duduk melangkahi kursi panjang yang terbuat dari papan. "Udah nurut aja," kata Adnan yang langsung dituruti oleh Bonar. Memutar tubuhnya 90 derajat, duduk memunggungi Adnan. Telapak tangan kekar Adnan, langsung mencengkeram pundak Bonar saat Bonar sudah duduk membelakanginya. Tidak hanya pundak, telapak tangan Adnan berjalan merbah dari punggung hingga sampai ke pinggang milik Bonar. Hal itu membuat Bonar meringis, merasakan sakit, tapi juga nikmat, "enak kali pijitan kau Nan," puji Bonar dengan ekspresi wajah ke enakan. "Enak?" Tanya Adnan sambil memijit mencari urat-urat yang ia kira menjadi pusat masuk angin. "En... enak Nan," aku Bonar, ia membusungkan d**a lantaran Adnan sedang menekan-nekan punggungnya. Suara sendawa juga beberapa kali keluar dari mulutnya. "Kenapa kau tidak sambil buka panti pijat saja Nan? Aku yakin kau akan punya banyak pelanggan. Lumayan kan, bisa nambah uang saku kau." Entahlah, meski Adnan tidak pernah belajar memijit, tapi telapak tangannya bisa tahu mana bagian urat-urat yang harus dipijitnya. Mungkin itu bakat yang diwariskan dari simbah nya. "Muka kau kan ganten, mana tau ada tante minta dipijit, trus kepincut sama kau. Jadilah kau simpanan tante-tante kaya." Goda Bonar yang langsung mendapat dorongan di bagian kepalanya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan orang yang sedang memijitnya. "Asal aja kalo ngomong," protes Adnan. "Mending mati kelaparan dari pada jual diri sama tante-tante. Gini-gini aku juga punya prinsip, jangan sampai merendah kan diri kita cuma demi uang. Buat apa hidup mewah tapi diri kita dikuasai orang. Mending miskin tapi terhormat." "Ha... ha...!" Kalimat Adnan membuat Bonar terbahak."Aku tak menyangka, ternyata tampang preman macam kau bisa juga ngomong terhormat." Ujar Bonar, ia langsung mendapat hadiah pukulan kecil di kepala setelah menyampaikan itu. "Eh Nan... gebetan lu tuh," celetuk Azri, saat tidak sengaja melihat Fatma sedang berjalan bersama teman-temannya, ada Fatur juga di sana. Mahasiwa asal Jakarta itu menunjuk Fatma di seberang jalan, menggunakan wajahnya. "Kayaknya lu musti mundur alon-alon deh Nan. Gue yakin banget si Fatur memang sudah jadi jodohnya Fatma. Makin deket aja mereka." Azri menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berdecak heran sambil menatap miris ke arah Adnan. Bagimana tidak miris? Azri tahu persis bagaimana Adnan memperjuangkan gadis idamannya. Namun tidak pernah mendapatkan respon sama sekali dari Fatma. Kalo tidak salah ingat, Adnan sudah lebih dari dua puluh kali mengajak Fatma menjadi pacarnya, atau minimal jalan. Tapi hasilnya selalu nihil. Fatma selalu menolak dengan cara yang sangat halus. Bukan Adnan namanya kalau menyerah begitu saja, justru ia semakin merasa penasaran. Karena hal itu pula Adnan memutuskan untuk tidak lagi mengajak Fatma pacaran. Ia tidak mau ditolak untuk kesekian kali. Adnan ingin langsung mengajak Fatma untuk menjalani hubungan yang lebih serius yaitu; menikah atau ta'aruf. Siapa tahu hatinya Fatma akan luluh kalau diajak serius. Karena biasanya seorang wanitakan lebih membutuhkan bukti, dari pada janji. "Aku rasa si Fatma itu emang lebih cocok sama si Fatur, soleh sama soleha. Dari pada sama kamu Adnan. Kau sama sekali tidak cocok. Muka kau saja boleh ganteng, tapi penampilan kau sama sekali tak macing sama Fatma." Adnan hanya diam saja, ia malas menanggapi cibirian teman-temannya. Ia yang sejak tadi sudah memandangi keakrapan Fatma dan Fatur beranjak dari duduknya, berjalan cepat meninggalkan teman-temannya. "Adnan...! Mau kemana kau sudahlah, Fatma itu bukan jodoh kau," teriakan Bonar sama sekali tidak dihiraukan sama Adnan. "Belum selesai kau mijitnya," imbuh Bonar. "Kasian Adnan..." ucap Azri sambil menatap miris ke arah Adnan yang sudah menjauh. ~ARBA~ Fatma dan teman-temannya terpaksa harus menghentikan langkah, lantaran ada seorang pemuda yang menghadang perjalanan mereka. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Adnan. "Assalamualaikum..." ucap Adnan setelah ia sudah berdiri dihadapan Fatma dan teman-temannya. Ada Fatur dan juga mahasiswa lain dari fakultas berbeda. Mereka akan pergi mengunjungi salah satu panti asuhan, untuk melakukan kegiatan sosial mereka. "Wa'alaikumsalam..." Fatma dan yang lainnya menjawab secara bersamaan. "Maaf aku mau ngomong sebentar sama kamu. Bisa?" Ijin Adnan, sorot matanya menatap lurus ke mata Fatma. Fatma menarik lengan baju panjangnya, melihat arloji yang melingkar di pergelangannya, lalu menatap kembali ke arah Adnan. "Tapi aku buru-buru." "Iya Nan. Kita mau pergi ke panti asuhan, kita akan melakukan kegiatan yang bermanfaat." Imbuh Fatur. "Mau ngomong sih Nan?" Tanya Shila yang sedang berdiri di samping Fatma. "Kalo boleh aku tebak, pasti kamu mau nembak Fatma lagi. Iya kan?" Perjuangan Adnan untuk mendapatkan Fatma memang sudah terkenal. Hampir semua teman-temannya tahu. "Emang nggak bosen apa Nan ditolak mulu." Cibir Amanda, "Mending nembak aku aja, kayaknya kita serasi deh. Fatma itu cewek alim, nggak cocok sama cowok urakan kayak kamu. Kamu cocoknya sama aku." Pengakuan Amanda sukses mengundang gelak tawa teman-temannya. Mendengar itu bibir Adnan tersenyum nyengir. "Siapa bilang cowok urakan nggak cocok sama cewek alim?" Protes Adnan. "Justru sangat cocok, cowok seperti aku ini butuh cewek model Fatma. Kalo kita bersatu hidup akan lebih berwarna, aku butuh Fatma buat mendidik calon anak-anakku supaya nggak seperti bapaknya. Cewek seperti Fatma juga butuh cowok seperti aku buat melindungi dia dari ancaman bahaya." Ucapan Adnan yang over PD, mengundang gelak tawa dari teman-temannya. Entahlah Adnan memang terlalu percaya diri, tapi memang ia punya modal sih, banyak cewek yang kepincut sama kegantengan Adnan, meskipun penampilannya urakan. Tapi sayang, Adnan sama sekali tidak terpikat sama cewek-cewek yang menginginkan untuk jadi pacarnya. Hati Adnan lebih tahu, kemana ia harus berlabuh. Tapi kenapa Fatma sangat susah ditaklukkan? "Bisa aja kamu Nan," ucap Amanda. "Aku jadi makin gemes sama kamu, kenapa ngak ngelindungin aku aja sih." Fatma hanya tersenyum simpul, bola matanya yang indah menatap Adnan dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejujurnya, Fatma merasa kagum sama perjuangan Adnan untuk mendapatkannya. Tapi sayang, sejauh ini Fatma belum melihat sisi yang menonjol dari Adnan, supaya hatinya bisa terbuka untuk Adnan. "Kayaknya kita udah telat lho..." celetuk Fatur, berusaha mencegah supaya Adnan tidak sampai berkomunikasi dengan Fatma. "Mending kita berangkat sekarang aja." "Tunggu," cegah Adnan. "Nggak sampai sepuluh detik, aku minta waktu sama kamu," mohon Adnan menatap serius wajah Fatma. "Kalo kamu mau ngajakin Fatma pacaran, kayaknya kamu udah tahu jawabannya deh. Pasti ditolak lagi." Ucap Amanda. Fatma hanya diam, soalnya dari tadi teman-temannya tidak pernah memberikan kesempatan padanya untuk berbicara. "Bukan kok," jawab Adnan. "Aku bukan mau ngajak dia pacaran," ucap Adnan menatap lurus wajah Fatma. "Aku juga udah putuskan, aku nggak akan lagi ngajak dia pacaran. Tapi... aku mau ngajak dia langsung nikah Fatma... aku pingin menjalankan ta'aruf sama kamu." Ucap Adnan penuh percaya diri. Pernyataan Adnan membuat Fatma dan yang lain tercengang. Apa iya Adnan sedang bercanda? Menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya Adnan hembuskan secara perlahan. Bola matanya menatap lekat-lekat wajah anggun Fatma. "Fatma... kamu maukan nikah sama aku?" Ucap Adnan kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN