Kentut Naga

1056 Kata
Edwin terdiam setelah mendengar kalimat yang pertama kali Lily ucapkan saat baru sadar. Pria itu sampai merasa sia-sia telah mencemaskan wanita aneh bin ajaib tersebut. Cemas karena takut dituntut. Jangan sampai Lily besar kepala. "Sudah saya bayar." Edwin sudah sangat malas berada di sekitar Lily yang sedang sakit pun selalu banyak bicara. "Satu lagi, saya bukan bapak kamu. Jadi berhenti memanggil saya dengan panggilan itu. Apalagi kamu memanggil saya dengan nada yang aneh." Edwin kembali memberi peringatan kepada Lily yang selalu membuat dirinya kesal. Entah apa yang terjadi, hingga pria kutub yang keriput satu biji itu banyak mengeluarkan kalimat. "Baik, Om." Lily menjawab dengan patuh, dan anehnya Edwin tidak protes kembali. Apakah pria itu menyukai panggilan 'OM' yang Lily sematkan untuknya. "Om, makasih ya, udah bayarin utang Lily. Om nanti sa--." "Tidak usah diganti, saya ikhlas," sela Edwin dengan datar, tanpa tahu apa yang akan Lily ucapkan padanya. "Om pede banget sih. Justru aku tuh mau minta traktiran lain kali. Biar Om gak bayar utang Lily lagi. Gitu loh maksudnya." Lily berkata dengan santai sambil menampilkan raut wajah tanpa dosa di hadapan Edwin. Yang mana hal itu membuat Edwin menahan napas karena merasa malu sekaligus kesal. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, akhirnya Edwin segera membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi dari sana, tanpa memperhatikan Lily yang sudah kebingungan atas sikap Edwin yang tiba-tiba lebih dingin. "Om!" Teriak Lily memanggil dokter tampan yang terus melangkahkan kakinya. Pria itu seolah tak mendengar apapun di sekitarnya. "Om dokter, jangan suka ngambek! Om itu udah keriput satu biji!" Teriak Lily kesal karena Edwin mengacuhkan dirinya. Benar saja, Edwin langsung menghentikan langkah kaki, dan memutar balikkan tubuhnya untuk melihat Lily dengan pandangan lebih tajam daripada tadi. "Jangan berisik, atau kau akan melihat diriku dari sisi yang lain," desis Edwin seraya melayangkan tatapan tajamnya pada sosok wanita yang sudah ketakutan melihat Edwin. "Aku lapar, om. Semalam gak makan malam karena terkurung di toilet. Belum lagi aku mual karena bau, seperti mencium kentut naga." Lily mulai berkata lirih agar mendramatisir keadaan. Padahal Edwin mendengar penuturan Lily seperti anak manja yang ingin diperhatikan. "Saya tidak peduli. Lagipula, mana ada naga kentut di jaman ini." Edwin menanggapi ucapan Lily dengan tak habis pikir. Wanita itu ada saja topik pembicaraannya. Kentut naga lah, keriput satu biji lah, naga bonar lah. Entah kalimat apa lagi yang akan Lily keluarkan, untuk mengungkapkan isi pikirannya. "Kentut naga itu seperti kentut kemattian om." Lihat, wanita itu masih saja menjawab dengan santai, dan akan berujung perdebatan jika Edwin terus meladeninya. "Terserah." Edwin berkata semakin ketus dan keluar dari ruangan tersebut. Lima menit setelah kepergian Edwin, Lily hanya termenung di atas ranjang Rumah sakit, tanpa tahu apa yang harus ia lakukan, karena saat ini ia sudah bosan untuk tidur kembali. Namun, ia terkejut saat mendengar suara derit pintu yang terbuka dan segera mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Mulutnya sedikit menganga karena tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Edwin datang kembali dengan membawa paper bag di tangannya. "Makanlah!" Satu kata yang keluar dari mulut Edwin mampu menyihir pandangan Lily. Wanita itu terus diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ralat, khayalan menjadi putri di dalam dongeng. "O-om, ini beneran buat Lily?" Tanya Lily dengan gugup. Meskipun sebenarnya ia bersorak gembira seperti Dora memanggil peta. "Hmm." Edwin kembali irit bin medit jika urusan berbicara. Entah sedang sakit gigi atau sariawan, Lily pun semakin heran. "Om, kita buka bersama aja. Lagian, sebentar lagi udah jam makan siang." Lily mengajak Edwin untuk makan bersama, berharap pria itu mau menerima ajakannya. "Ehm ... Oke," jawab Edwin setelah beberapa waktu berpikir. Pria itu terlihat berulang kali memalingkan wajahnya ke arah lain karena malu. Bahkan Lily dapat melihat perubahan sifat Edwin saat ini, apalagi telinga dan wajah pria itu sedikit memerah. * Tiga hari kemudian ... Sore ini Lily sudah diperbolehkan untuk pulang dan memulihkan kondisinya secara bertahap di rumah, karena wanita itu sudah tidak betah dan memikirkan biaya rumah sakit selama ia dirawat beberapa hari ini. Di balik sifatnya yang tengil, aneh bin ajaib itu tanggung jawab besar yang harus ia pikul sendirian. Ya, Lily adalah tulang punggung bagi keluarganya di kampung. Maka dari itu, ia tidak ingin berlama-lama berbaring di rumah sakit, hingga memakan biaya yang bisa membuat kantongnya menjerit. "Kau sudah boleh pulang," ucap sosok pria yang beberapa hari ini menemaninya. Padahal ia tidak meminta sama sekali. Meskipun demikian, ia tidak akan menolak jika pria itu jika ingin menemaninya. "Om, bagaimana dengan biayanya?" Tanya Lily yang kini berusaha tidak bersikap aneh seperti biasanya. Selama empat hari ia di rumah sakit, ia sedikit memahami sifat Edwin yang sebenarnya penuh perhatian. Entah ia memang sudah memahami, atau ini hanya sebuah kesalahpahaman. "Saya sudah menyelesaikan semuanya. Kau hanya tinggal pulang." Lagi dan lagi, pria itu menolongnya dengan kalimat seperti es kiko. Sudah dingin, sedikit pula. "Terima kas--." "Jangan percaya diri dulu, kau harus membayar semuanya setelah sembuh." Astaga naga bonar jadi dua ... Rasanya Lily ingin mengumpat karena sudah banyak memuji pria itu. Kini ia kembali merasakan tubuhnya merasa lemas, setelah otaknya berputar seperti kalkulator untuk menghitung utangnya pada Edwin. "Ngapain om gak bilang dari awal. Ini namanya pemerasan," gerutu Lily yang sangat kesal. Hatinya bergejolak seperti gunung Merapi yang ingin memuntahkan laharnya. "Kau bisa mencicilnya saat gajian. Apa keluarga mu tidak menjemput? Saya tidak pernah melihat mereka menjenguk mu sejak dirawat di sini." Santai sekali Edwin mengatakan hal itu, di depan Lily yang sudah kesal setengah mati. Wanita itu tengah menekuk wajahnya hingga terlihat seperti bebek. "Saya tinggal sendirian, om." Lily tetap menjawab meskipun terdengar ketus. Matanya bahkan enggan untuk menatap Edwin. "Kalau begitu, saya akan mengantarkan mu," ucap Edwin yang membuat Lily langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan yang berbinar. "Benarkah, om?" Tanya Lily bahagia. Lumayan, bisa irit ongkos, begitu pikirnya. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya tanda sebuah jawaban, yang membuat Lily memekik kegirangan. * Dalam perjalanan pulang, tidak ada satu patah kata pun yang menemani dua insan yang sedang duduk menikmati dinginnya malam dalam sebuah kendaraan. Hujan begitu deras, membasahi ibu kota yang sudah padat penduduknya. Sehingga genangan air tak terelakkan dan membuat mobil yang dikendarai oleh Edwin bersama Lily harus mogok seketika. Mogok pun tidak masalah jika di area jalanan ramai. Tetapi kali ini mereka terjebak di sebuah jalanan yang sepi. Apalagi suasana hujan yang begitu deras. Mungkin para penduduk sekitar sudah memasuki rumah mereka untuk berteduh. "Om, bagaimana ini. Aku takut."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN