Pepatah mengatakan

1039 Kata
Hari ini adalah hari di mana Edwin aktif bekerja di rumah sakit Bhakti. Bahkan, siang hari ini Edwin sudah menyelesaikan tugas operasi pada pasien yang telah dijadwalkan. Namun, ada sesuatu yang membuat dokter bujang lapuk itu merasa terganggu, yaitu kehadiran Lily yang terus menerus mengeluh karena belum dapat jatah makan siang. Bagaimana tidak, jam makan siang kali ini telat satu jam dari biasanya, dan Lily tidak terima dengan hal itu. Demi kesejahteraan bersama, Lily tidak akan pernah melewatkan jam makannya dalam waktu lama. "Hei! Apa kau tidak bisa diam sebentar saja?! Berisik sekali." Gertak Edwin yang kesal saat mendengar keluhan Lily yang ada di dalam ruangannya untuk memeriksa laporan pasien. Pria itu benar-benar jengah dengan tingkah Lily yang begitu menggangu baginya. "Ya, habisnya Om dokter diem aja pas ditanya makan. Om tau kan, pepatah mengatakan, menjaga lebih baik daripada mengobati? Nah, saya hanya mau mencegah cacing di perut saya yang mau demo. Sa--." "Keluar dari ruangan saya!" Lagi dan lagi, ucapan Lily disela oleh Edwin. Bahkan, pria itu bukan hanya menyela, tapi mengusirnya dari ruangan tersebut. Jika sudah begini, Lily tidak akan berani membuka suara. "Kenapa kau diam di sana? Apa kau tuli?! Saya bilang keluar dari ruangan saya!" Edwin terlihat sangat kesal hingga beberapa kali menghela napasnya kasar. Apalagi saat melihat Lily yang masih diam di tempat sambil menundukkan kepalanya. Sehingga akhirnya membuat ia diam dan tak mau mendengarkan keluhan Lily kembali. Edwin benar-benar kesal melihat wanita pecicilan yang ada di hadapannya. "Maaf, Om." Kini suara Lily terdengar serak karena tercekat. Tunggu! Apa Lily sedang menahan tangisnya? Ah rasanya Edwin ingin keluar saja dari suasana ini. "Kau bisa pesan makanan dari kantin, dan makan di sini. Kita makan bersama." Eh, Lily terkejut saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut dokter bermulut pedas level seratus itu. Dan apa tadi? Makan bersama?! Argghhh! Rasanya Lily benar-benar lega sekaligus senang. Apa pria itu sudah menyesal memarahinya dan mulai tertarik akan pesona yang ia keluarkan. Bagaimana pun, Lily seorang wanita normal yang akan tertarik pada pesona dokter yang sudah menggemparkan seisi rumah sakit ini. Bohong rasanya, jika ia tidak menyukai dokter tampan yang mirip aktor Lee Min Ho tersebut. Tapi tunggu, pria itu mau bayar sendiri kan? Ogah sekali jika ia yang harus membayar dua porsi makan untuk dokter ketus itu. Syukur-syukur jika ia yang ditraktir. "Tapi Om ... Om mau bayar sendiri kan?" Tanya Lily untuk memastikan. Takut jika nanti ia mengeluarkan banyak uang. Jiwa pelit nan kere Lily seolah menghitung jumlah keuangan yang akan ia gunakan. "Apa kau dari tadi belum memesan karena takut membayar makanan saya?" Edwin bertanya dengan tak habis pikir, lalu menghela napasnya panjang. "Om tau sendiri, saya juga baru kerja di rumah sakit ini. Uang saya sedikit buat bayar sewa apartemen. Sa--." "Saya pesan makanan yang sama, dengan kamu." Astaga naga bonar jadi dua ... Rasanya Lily ingin mengumpat kasar pada sosok pria yang selalu menyela ucapannya. Lily jadi penasaran dengan kehidupan dokter irit bicara dan ketus itu. "Haiss, om dokter pasti belum ngerasain jatuh cinta sama perempuan. Buktinya ketus terus kalo ngomong sama kaum kami," gerutu Lily dengan lirih, sambil memesan makanan yang ia inginkan. Namun sayang, apa yang Lily ucapkan terdengar di telinga Edwin. Tetapi pria itu hanya diam seolah tak mendengar apapun. * Tak berselang lama, terdengar sebuah ketukan dari arah luar ruangan Edwin. Mendengar hal itu, Lily langsung membukakan pintu. Ternyata seorang wanita yang mengirim pesanan makanannya. "Om dokter, makan yuk! Nih makanan udah nyampe. Tunda dulu aja laporannya." Lily mengajak Edwin agar segera makan bersama, atau jika tidak, ia akan melahap jatah makanan Edwin. Eh! Lily tidak serakus itu, omong-omong. "Kamu makan duluan saja. Pekerjaan saya belum selesai." Lily mengernyitkan dahinya saat mendengar penolakan dari Edwin. Apa pria itu robot hidup, yang tidak merasakan lelah. Hooo ... Apa Edwin adalah sejenis vampir yang punya kekuatan ajaib. Bisa saja itu terjadi karena wajah Edwin benar-benar tampan bagai pangeran dari kerajaan. "Om dokter! Pepatah mengatakan, mencegah lebih baik daripada meng--." "Saya bosan dengan pepatah itu. Bisakah kau diam dan makan duluan. Bukannya dari tadi kau sudah kelaparan dan tidak sabar untuk makan? Jangan menunggu saya!" Jika sudah begini, Lily tidak akan berani lagi. Sehingga akhirnya ia segera memakan makanannya sendiri dengan lahap. Namun, matanya tak henti-hentinya melirik sosok pria berwajah tampan dengan bahu yang lebar itu. 'Pasti nyaman kalo aku bersandar di bahunya.' harapan Lily yang satu ini sangat berbahaya ya. Jadi jangan coba-coba untuk nekat. "Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" Lily tersentak kaget, hingga lamunannya buyar seketika, saat suara bariton milik Edwin memecah keheningan yang ada. "Eh! Ti-tidak ada Om. Saya gak mikirin yang aneh-aneh kok." Kali ini Edwin yang mengernyitkan dahinya saat mendengar penuturan dari Lily. "Apa kamu berpikiran yang aneh tentang saya?" Tanya Edwin dengan penuh selidik, hingga membuat wanita itu gugup dan tersedak makanan. Jangan harap jika Edwin mau memberikan segelas air pada Lily. Justru pria itu acuh tak acuh dan malah kembali berkutat dengan laporan yang ia kerjakan. "Om jangan kepedean ya! Om itu bukan tipe saya." Tentu saja ini hanya sebuah bualan, agar ia terlihat sedikit mahal? Mungkin. Eh, dahi Lily berkerut saat mendengar suara kekehan kecil dari mulut Edwin. Mungkin lebih mirip seperti senyum smirk, atau decihan. Kenapa pria itu tiba-tiba menampilkan raut wajah yang suram dengan senyuman menakutkan seperti itu. Apakah ada yang salah dengan apa yang ia ucapkan. "Om kenapa?" Tanya Lily yang tidak ingin mati penasaran. Mati tidak dalam penasaran saja ia belum siap. Apalagi kalau dia mati pas punya rasa penasaran. Bisa-bisa ia akan mendatangi Edwin tiap waktu. "Tidak ada. Jangan mengganggu pekerjaan saya!" Titah Edwin yang sudah kembali dingin seperti gunung Merapi. "Saya penasaran dengan Om. Jika saya mati dalam keadaan penasaran, say--." "Saya tidak akan peduli." Hei! Bukankah pria itu sangat keterlaluan. Baru kali ini Lily merasa jengkel pada seseorang, karena biasanya ia yang selalu menjengkelkan orang-orang di sekitarnya. "Emang om mau ditinggal saya? Saya orangnya baik hati dan suka menodong loh. Eh, menolong maksudnya." "Saya tidak peduli." "Dih! Awas aja ya Om, kalo om tiba-tiba butuh lalu cari-cari saya." "Dan kamu akan dipecat karena tidak mematuhi peraturan kerja di sini." Sumpah demi cicak di dinding. Rasanya Lily benar-benar kesal setengah mati. "Om ... Makanan om gak sengaja abis." Lah! Ternyata wanita itu menggerutu sambil mencuil makanan milik Edwin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN