bab 229

1484 Kata

“Siapa yang ngajak ketemuan?” Risa mengangkat kepala begitu rungunya mendengar pertanyaaan itu. Dia menarik napas sebelum menjawab pertanyaan Nara dengan suara sepelan mungkin. “Aku …,” jawabnya seperti sedang mencicit. Nara membelalakan mata. Dia terkejut setengah mati, sebab bagi Nara, memaksa bertemu dengan masa lalu pasangan adalah hal terburuk. Bukan apa-apa, Nara sesungguhnya takut perempuan itu akan kesulitan mengontrol diri. Dia takut sesuatu akan terjadi pada Risa, sahabatnya, setelah pertemuan itu. “Hah? Kamu seriusan?” Nara berkata seperti tak percaya. Risa yang mendengar serta melihat reaksi sahabatnya itu segera menundukkan kembali wajahnya pada lipatan tangan. Dia harus mengakui bahwa dirinya memang sangat gegabah. Dia bertindak secara impulsif dengan meminta dipertem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN