Suasana supernarket malam itu tampak tegang dan memanas kala Ruben menghampiri Risa beserta pria asing yang tak ia kenali itu. Ruben memicingkan sebelah matanya, hati dalam dirinya dipenuhi oleh sanksi tentang siapa sebetulnya orang ini. Berbagai pikiran buruk seakan-akan menggerogoti kepalanya, membuat Ruben tampak seperti orang linglung saaat menghampiri mereka berdua. “Sayang? Kok ngambil peralatan mandinya lama?” tanya Ruben pada sang istri. Risa bisa merasakan ada tekanan dalam nada suara suaminya ketika ia mengatakan ‘sayang’ padanya. Risa tersenyum kikuk. Anak-anak rambutnya yang jatuh ke bawah ia sampirkan di belakang telinga. Matanya menatapi Alaric dan Ruben secara bergantian. Risa menelan saliva. Sial, kenapa dia jadi seperti terpergok, ya? Padahal pertemuannya dengan pria i

